Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kios-kios Kosong di Kota Pasuruan yang Tak Dilirik, Investasi Retribusi jadi Terbuang

Fahrizal Firmani • Minggu, 6 Juli 2025 | 17:55 WIB

 

Photo
Photo

 

 

Kurun waktu lima tahun belakangan, Pemkot Pasuruan gencar membangun pusat perekonomian. Tujuannya untuk mengangkat perekonomian di sektor perdagangan. Dana miliaran digelontor, tapi hanya sedikit yang dimanfaatkan. Apakah salah strategi saat membangun atau perekonomian memang sedang lesu?

KIOS-kios itu sebenarnya untuk pelaku IKM dan UMKM. Ada juga yang dibangun supaya ikut mengerek perekonomian di wilayah sekitarnya. Bagi pemkot, kios ini sebenarnya menjadi investasi dari penarikan retribusi.

Tapi fungsional sejumlah kios belum maksimal. Meski dibangun dengan anggaran miliaran, beberapa kios belum dimanfaatkan. Pedagang enggan berjualan. Adapula yang buka di waktu-waktu tertentu. Sungguh kontra dengan kondisi di jalan-jalan yang sekarang bermunculan banyak PKL baru.

BANYAK YANG TUTUP: Kios di Pasar Kebonagung yang lengang.
BANYAK YANG TUTUP: Kios di Pasar Kebonagung yang lengang.

Beberapa tempat itu sebut saja seperti Pusat Kuliner di Kelurahan Bangilan di Jalan Dewi Sartika, Kios Pasar Mebel Bukir dan kios di sisi selatan Pasar Kebonagung. Sehari-hari, banyak kios yang tutup. Padahal tempat-tempat itu dibangun dengan dana miliaran.

Tilik saja seperti kios di Pusat Kuliner di Jalan Dewi Sartika, Kelurahan Bangilan. Hanya lantai bawah yang sudah digunakan. Sementara lantai dua, kosong. Dulu saat dibangun tahun 2021, pemkot menggelontorkan dana Rp 2,1 miliar melalui APBD.

Pusat kuliner ini memiliki dua lantai, masing masing lantai berisi sembilan buah kios. Sehingga total ada 18 buah kios. Usai rampung dibangun, pusat kuliner ini tidak langsung difungsikan pada 2022. Saat itu, pemkot masih melanjutkan pembangunan sarana penunjang, berupa jalan paving yang dialokasikan Rp 100 juta melalui APBD.

Barulah pada 2023, gedung ini mulai dipakai. Namun, sejauh ini minim peminat. Geliat pedagang juga tak antusias.

Kepala unit pelaksana tekinis daerah (UPTD) Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Pasuruan, Luthfan Asysyam mengungkapkan, kios di Jalan Dewi Sartika baru terisi separo. Tinggal sembilan kios di lantai dua yang belum terisi. Luthfan mengklaim, sembilan kios di lantai bawah sudah penuh.

Bukan karena besaran retribusi yang dikenakan mahal. Hanya Rp 250 per meter persegi. Seluruh warga Kota Pasuruan diperbolehkan menyewa kios ini tanpa persyaratan tertentu. Hanya memang mereka yang ingin berdagang, harus berjualan makanan dan minuman (mamin). Sebab sesuai namanya: pusat kuliner.

Agar tempat ini bergeliat, pihaknya sudah koordinasi dengan pihak kelurahan agar pusat kuliner ini bisa segera terisi penuh. Hasilnya, ada dua orang yang berminat untuk menyewa. Satu sudah konfirmasi ke UPTD. Namun sampai saat ini peminat ini belum menindaklanjuti dengan mengisi kios. Sementara satu peminat lain belum konfirmasi ke UPTD.

"Kami terus koordinasi dengan pihak kelurahan agar pusat kuliner ini bisa segera terisi. Pihak kelurahan ikut membantu menawarkan," kata Luthfan.

Kondisi serupa juga terlihat di kios baru di Pasar Kebonagung yang lokasinya berada di sisi selatan dekat pintu keluar. Pemfungsiannya juga belum maksimal. Padahal pembangunan kios ini menelan anggara Rp 2,2 milar pada 2022 lalu.

Kios ini sempat digunakan oleh organisasi perangkat daerah (OPD) untuk berjualan produk khas pada 2023. Seperti Kecamatan Purworejo menjual produk khas kecamatan.

Hingga dekranasda yang menjual produk khas Kota Pasuruan, mulai dari produk UMKM, oleh oleh hingga batik khas kota. Namun hanya berjalan beberapa bulan sebelum mandek.

Kios di Pasar Kebonagung ini sempat dikritik. Sepinya kios lantaran tempat pelapak tidak memiliki area parker yang tepat. Kios yang menghadap ke jalan juga disinyalir menjadi penyebabnya.

Lalu di tahun lalu, kios ini kembali direhab. Seperti dilakukan pengecatan agar kondisinya menarik. Kios juga dirubah menghadap ke utara dan mulai tahun ini difungsikan lagi.

Saat ini total ada 18 kios dan semuanya sudah laku. Mereka dikenakan sewa Rp 250 per meter persegi perhari. 

Namun ada tiga kios diantaranya masih belum buka. Alasannya mereka diminta mengganti dagangannya. Sebab mereka diketahui menjual mamin. Tidak sesuai dengan persyaratan yang awalnya memang ditujukan untuk produk khas kota.

Ketiga pedagang ini ditegur pada Juni lalu, mereka diberi waktu selama tiga bulan hingga September untuk mengganti dagangan mereka. Ketigamya menyanggupi. Mereka boleh berjualan apa saja asal bukan mamin. Namun memang sampai saat ini ketiga kios ini belum buka.

Mengapa tidak boleh mamin? “Karena kalau mamin sudah tersedia di kios tengah. Jadi agar berbeda kami minta mereka mengganti dagangannya," jelas Luthfan.

Kios di Pasar Mebel Bukir yang sampai saat ini minim peminat.
Kios di Pasar Mebel Bukir yang sampai saat ini minim peminat.

Kios lain yang juga belum maksimal adalah kios mebel di Pasar Mebel Bukir. Dari total 34 kios, hanya empat kios yang terisi. Sementara 30 kios lainnya kosong disebabkan penjual lama mengundurkan diri.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo, lokasi kios ini berada di tengah. Kios ini ditujukan bagi korban kebakaran Pasar Mebel Bukir pada 2017 lalu.

Kios baru dibangun pada 2022 dengan anggaran Rp 8,7 miliar dari APBD. Ada delapan item pekerjaan yang digarap dalam waktu bersamaan. Yakni, toilet, area parkir, dan sistem jaringan kebakaran. Serta bangunan workshop, gudang dengan area loading, kantor pengelola dan ruang pertemuan.

Selama ini, mereka ditarik retribusi juga murah. Hanya Rp 225 per meter persegi perhari. Beberapa waktu lalu, pihaknya berkirim surat pada penyewa yang kiosnya tidak ditempati. Namun, para penyewa memilih tidak melanjutkan.

Kebetulan rata-rata penyewa ini memang sudah berusia lanjut. Dan anak mereka memang tidak ada yang melanjutkan usaha mereka. Karena itu, kios yang tidak dipakai ini kembali menjadi kewenagan UPTD.

Sebenarnya pemkot sudah sosialisasi dan menawarkan kios yang kosong ini pada masyarakat.

Namun sampai saat ini masih belum ada peminat. Kondisi ini bisa jadi karena keadaan jual-beli mebeler tidak sebaik dulu. Belum lagi era online yang sedikit banyak mempengaruhi banyak masyarakat untuk memilih.

Apalagi saat ini penjual mebel semakin menjamur. Jika dulu penjual hanya tersentral di Pasar Mebel Bukir, kini penjual mebel bisa ditemui di sepanjang jalur lingkar selatan (JLS).

Mulai Jalan Urip Sumoharjo, Kebonagung, Kecamatan Purworejo. Hingga Jalan Gatot Subroto, Petahunan, Kecamatan Gadingrejo.

"Banyak masyarakat memilih membeli online atau membeli di sepanjang JLS. Jadi tidak perlu masuk ke areal pasar mebel," tutur mantan lurah Tembokrejo ini. 

Pedagang Tak Rutin Buka

MESKI kios di pasar kebonagung dan pusat oleh oleh sudah dimanfaatkan, namun nyatanya kios tidak buka penuh. Beberapa hanya buka saat sore hingga malam. Bahkan ada beberapa kios di pasar kebonagung yang jarang buka, meski mereka sudah menyewa.

Muhyi, 40, salah seorang penjual di kios Pasar Kebonagung menyebut, seluruh kios memang ada pemiliknya.

Namun hanya empat yang rutin buka. Yakni kios miliknya, kios pangkas rambut, kios jual pulsa dan kios alat pancing. Satu kios yang menjual produk UMKM hanya buka sore hari. Sebab saat siang hari tidak ada yang berjaga.

Lalu, satu kios lagi yang berjualan batu akik, sering ditinggal oleh pemiliknya. Hanya dijadikan tempat meletakkan koleksi batu akik.

Ada tiga kios tutup karena diminta ganti dagangan. Sementara sembilan kios lainnya tidak rutin buka. Lebih banyak tutup. Muhyi tidak tahu kenapa.

"Yang rutin buka empat kios termasuk kios saya. Kalau sembilan kios lainnya tidak tentu. Kadang buka, tapi banyak tutupnya. Padahal sudah disewa," terang Muhyi yang biaanya memilih libur jualan di hari minggu.

Warga Ngemplakrejo, Kecamatan Panggungrejo ini menuturkan, ia sehari-harinya berjualan topi, dompet, kaos kaki hingga sabuk untuk pria. Ia menyewa kios ini sejak usai hari raya lalu.

Sebelumnya ia menyewa kios di bagian tengah. Namun karena lebih kecil, ia pun pindah ke kios baru ini.

Hasil yang diperolehnya tidak menentu. Kadang bisa laku lebih dari 10 item. Tapi pernah juga pulang tanpa membawa hasil. Sebab berdagang memang tidak selalu untung. Terkadang bisa sepi.

Namun hasilnya diakuinya lebih banyak daripada di lokasi lama. Sebab lokasi baru lebih strategis. Berada di dekat pintu gerbang yang menjadi akses masyarakat keluar-masuk.

"Namanya dagang pasti ada sepinya. Tapi hasilnya lumayan jika dibandingkan di kios lama. Lokasinya strategis," jelas Muhyi.

SERING SEPI: Kios di Jalan Dewi Sartika yang hanya ditempati di lantai satu, sementara lantai 2 kosong.
SERING SEPI: Kios di Jalan Dewi Sartika yang hanya ditempati di lantai satu, sementara lantai 2 kosong.

Pedagang-pedagang di pusat ekonomi yang tak selalu buka rutin, juga terjadi di pusat kuliner di kios di Jalan Dewi Sartika. Hanya sedikit pedagang mamin yang konsisten berjualan.

Terlihat hanya satu kios yang buka sejak pagi. Kios itu disewa Khomsatun, 50, warga jalan Dewi Sartika, Bangilan. Ia berjualan nasi dengan aneka lauk sejak pukul 05.00. Lalu pada sore hari sejak pukul 17.00 diganti oleh suaminya, Syaiful, 55 dengan menjual kopi dan minuman dan buka hingga pukul 05.00 keesokan harinya.

Ia mengaku kios di lantai pertama terisi penuh. Namun hanya kiosnya yang buka sejak pagi. Sementara delapan kios lainnya baru buka malam hari.

Mereka menjual makanan yang berbeda. Ada yang menjual nasi dan mie goreng. Adapula yang membuka warung kopi hingga menjual tahu telor dan tahu tek. Sementara untuk lantai dua masih kosong.

"Kalau saya jualannya dari pukul 05.00 sampai 17.00. Malamnya diganti suami berjualan kopi dan minuman," kata Khomsatun.

Memang ada beberapa orang sempat bertanya padanya soal kios di lantai dua. Ia sempat menyarankan agar mereka menemui UPTD. Namun ternyata sampai saat ini masih belum ada penyewa.

Diakuinya pusat kuliner ini kurang aman dalam areal parkir. Sebab lahannya lebih tinggi dari jalan raya di depannya. Sehingga akan menyulitkan pembeli untuk parkir. Jika tidak berhati hati rawan terjatuh. Apalagi saat musim hujan karena kondisi parkir lebih tinggi, membuat areal parkir yang berupa paving menjadi licin.

Jika parkir di Jalan Dewi Sartika, juga tidak memungkinkan bagi kendaraan roda empat. Sebab jalan sempit. Bisa jadi kondisi ini membuat orang lain berpikir dua kali sebelum menyewa di lokasi ini.

"Sering ada yang tanya. Ya saya arahkan ke UPTD. Cuma tidak ada lanjutannya lagi. Memang lokasi parkir kurang nyaman," jelas Khomsatun.

Kondisi tak jauh berbeda juga terjadi di Kios Pasar Mebel Bukir. Ketua Paguyuban Mebel Bukir Kota Pasuruan, Lilik Suciati menyebut, kondisi Pasar Mebel Bukir saat ini sepi. Sehingga retribusi yang dibebankan pada pedagang dinilai terlalu berat.

Bukankah sudah murah karena Rp 250 per meter persegi perhari? Bagi pedagang mebel, nilai itu dinilai besar. Dalam sebulan, dia bisa membayar Rp 225 ribu. Sementara jual-beli mebeler saat ini, tidak seperti dahulu. Kebanyakan mebel hanya laris saat menjelang hari raya.

Pemasaran secara online dan offline sudah dilakukan, namun daya beli masyarakat masih rendah. Terkadang, sehari belum tentu ada pembeli. Karena itu, ia berharap pemkot bisa memberi solusi agar Pasar Mebel kembali menggeliat.

“Retribusi yang kami bayarkan tidak sebanding dengan yang kami peroleh. Pasar sepi, sehari belum tentu ada barang yang terjual. Makanya banyak kios ditinggalkan,” tutur Lilik.

Kepala UPTD pada Disperindag Kota Pasuruan, Luthfan Asysyam menuturkan. tidak ada masalah jika beberapa kios baru di Pasar Kebonagung tidak berjualan tiap hari. Sebab hal ini kondisional.

Bisa jadi penyewa ada kegiatan lain sehingga libur berjualan. Yang penting mereka taat membayar retribusi.

"Terkait kondisi parkir di Pusat Kuliner di Bangilan, kami perlu koordinasi. Apa itu (parkir yang tak nyaman, red) menjadi penyebab pusat kuliner belum terpakai sepenuhnya, kami tidak tahu," jelas Luthfan.  

Dewan Minta Pemkot Jangan Bangun Kios Baru Lagi

BANYAKNYA kios milik Disperindag  yang tidak terfungsikan penuh mendapat sorotan tajam dari DPRD. Mereka menilai pemkot tidak mampu mengelola. Sehingga tujuannya tidak pernah tepat sasaran.

Kritik tajam disampaikan oleh anggota Komisi II, Sufyan. Ia sangat menyayangkan tujuan dari pembangunan kios yang tidak tercapai. Padahal kios ini bertujuan untuk menggeliatkan perekonomian setempat.

Namun minimnya peminat menunjukkan jika pemkot tidsk mampu mengelola. Jika tak ada penyewa, tentu retribusi tak bisa diraih. Bahkan pemkot harus mengeluarkan anggaran lagi karena jelas bangunan-bangunan kios butuh biaya perawatan.

"Kondisi ini selalu terjadi setiap kali ada pembangunan kios. Jangan hanya mampu bangun fisiknya tapi tidak mampu mengelolanya," kata politisi PKB ini.

Ia menambahkan jika memang pemkot tidak bisa mencari solusi soal permasalahan kios, sebaiknya tidak ada lagi pembangunan kios baru.

Bisa dialihkan ke program fisik yang bisa langsung menyentuh masyarakat. Seperti bantuan rehab rumah tidak layak huni (RTLH).

"Kami ingin lihat komitmen pemkot. Kalau tidak mampu, ya lebih baik tidak usah. Biar tidak percuma bangun mahal," kata Sufyan.

Anggota Komisi II lainnya, Sutirta menambahkan, sejatinya pembangunan kios ini sangat baik.

Karena bertujuan untuk meningkatkan perekonomian warga. Namun memang, saat ini kondisi ekonomi sedang lesu. Minimnya kios yang terpakai menjadi contoh dampak dari lesunya perekonomian.

Pemkot bisa melakukan sosialisasi pada masyarakat, bisa juga membuat banyak keramaian di kios itu.

Jika upaya ini tidak membuahkan hasil, maka bisa tawarkan ke masyarakat menyewa untuk dipotong biaya atau tanpa retribusi selama beberapa bulan awal menyewa.

"Tapi tidak boleh terlalu lama. Beberapa bulan saja. Kan pembangunan kios ini untuk mendongkrak pendapatan daerah," jelas politisi Golkar ini.

Sementara itu beberapa waktu lalu, Wali Kota Pasuruan, Adi Wibowo sempat menyampaikan keinginan pemkot untuk merevitalisasi Pasar Mebel Bukir. Pihaknya sudah melakukan pengajuan ke pusat untuk mengembangkan Pasar Mebel Bukir. Total anggarannya Rp 12 miliar yang digunakan untuk fisik. Pengajuan ini dibagi untuk dua macam kegiatan.

Yakni, pembangunan pagar di sisi barat pasar, perbaikan paving dan drainase. Serta untuk revitalisasi taman di sebelah barat. Apalagi, saat musim hujan, ia kerap menerima keluhan pasar sering terendam.

Dengan perbaikan drainase dan paving, maka pasar bisa tidak lagi kebanjiran saat musim hujan.

“Agar bisa menggeliatkan Pasar Mebel Bukir, nanti bisa membuat pameran dan kegiatan hiburan. Sehingga lebih dikenal dan diketahui masyarakat,” tutur Mas Adi-sapaannya. (riz/fun)

Editor : Abdul Wahid
#pasar kebonagung #kios kosong #pasar mebel bukir #kios dewi sartika