TRADISI memberi uang atau angpao kepada keluarga, teman, dan kerabat saat Lebaran memang sudah lama terjadi. Bahkan, menjadi tradisi turun temurun.
Lebaran tanpa angpao terasa bukan Lebaran. Terutama bagi anak-anak, anggota keluarga yang lebih muda atau belum menikah.
Karena itu, masyarakat umumnya tidak hanya menyiapkan kue Lebaran atau baju Lebaran. Yang juga tidak boleh ketinggalan yaitu, menyiapkan uang baru untuk bagi-bagi angpao.
Tidak heran bila permintaan uang baru dengan beragam pecahan merebak di mana-mana, terutama pada minggu kedua sebelum Lebaran. Akibatnya, permintaan uang baru meningkat drastis menjelang momen Lebaran.
Meski menjadi tradisi turun temurun, bisa jadi hal tradisi ini akan bergeser suatu saat nanti. Bukan tradisinya yang bergeser, melainkan lebih pada caranya atau prosesnya.
Kepala KPw BI Malang, Febrina menuturkan, dimungkinkan suatu saat nanti tradisi bagi-bagi uang baru dalam bentuk fisik itu bergeser.
Tidak lagi menggunakan uang fisik, namun menggunakan QRIS ataupun dompet digital lainnya.
“Pemberian angpao Lebaran bisa saja menggunakan dompet digital. Serti QRIS, transfer, atau top up dana melalui aplikasi pembayaran yang mengadopsi sistem QRIS,” tuturnya.
Namun, memang tidak mudah dan butuh proses tentu saja. Hal itu menurutnya kemungkinan baru bisa terjadi ketika tingkat literasi masyarakat sudah cukup tinggi dan telah terbiasa menggunakan pembayaran nontunai seperti QRIS.
“Sehingga bisa juga nantinya ada pembuatan QRIS tiap rekening sebagai alternatif transaksi antar personal,” lanjutnya.
Perbankan sendiri pada akhir dekade 1980 an, memperkenalkan kartu debit untuk sistem pembayaran. Sehingga, masyarakat tidak perlu membawa uang kartal ketika bertransaksi.
Selanjutnya pada 1 Januari 2020, BI juga memperkenalkan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
Di mana berdasarkan data per Januari 2024, jumlah kartu ATM dan debit yang beredar telah mencapai 292,2 juta kartu.
Sementara jumlah pengguna atau user QRIS secara nasional hingga bulan Februari 2024 tercatat sebanyak 46,98 juta orang. Dan 6,5 juta di antaranya berasal dari Jawa Timur.
“Perkembangan QRIS di wilayah kerja BI Malang sendiri menunjukkan pertumbuhan signifikan. Pada bulan Februari 2024 volume transaksi QRIS tercatat Rp 3,88 juta transaksi dengan nilai transaksi sebesar Rp 365,5 Miliar,” kata Febrina.
Meski demikian, Febrina menyebutkan bahwa keberadaan uang tunai ke depan masih tetap dibutuhkan oleh masyarakat.
Hal tersebut berkaca dari berbagai negara maju, di mana pembayaran menggunakan uang kartal (tunai) tetap eksis. Meski pembayaran nontunai telah berkembang semakin maju.
Sebab, keberadaan pembayaran menggunakan kartu debit, ATM maupun QRIS pada dasarnya bukan ditujukan untuk menggantikan uang kartal.
Namun, merupakan inovasi Bank Indonesia untuk menyediakan cara pembayaran yang lebih cepat, praktis, dan efisien. Sehingga dapat mendukung kelancaran transaksi masyarakat.
Selain menggunakan rekening bank menurut Febrina, bagi anak-anak yang belum cukup umur untuk membuat sebuah rekening bank bisa menggunakan alternatif lain.
Yaitu melalui top up saldo pada aplikasi pembayaran seperti GoPay, OVO, Dana, Shopeepay, dan sebagainya.
“Nanti dapat digunakan sebagai pembayaran apabila berbelanja atau jajan di merchant atau pedagang yang telah menggunakan sistem QRIS,” kata Febrina. (gus/hn)
Editor : Jawanto Arifin