Mangkraknya bedak dan los itu lantaran tidak ada pedagang yang menyewa atau memfungsikan. Dari data Jawa Pos Radar Bromo, ada sejumlah pasar yang memiliki bedak maupun lapak mangkrak hampir mencapai 50 persen.
Tilik saja di Pasar Kebonagung, Kecamatan Kraksaan. Disana dari 90 bedak yang tersedia, tetapi 40 bedak di antaranya mangkrak karena tidak ada penghuninya. Otomatis bedak-bedak di Pasar Kebonagung tak terawat.
Sejumlah asbes dan roling door ada yang rusak karena karatan dan berlubang. Bahkan ada rolling door yang sudah lepas. Bagian lantai pasar pada bedak kosong juga kotor.
Kondisi ini diakui Kepala Pasar Kebonagung Trisno. Sejak diirinya masuk menjadi kepala pasar beberapa waktu lalu, kondisi sejumlah bedak pasar memang telah banyak tidak ditempati. “Bahkan ada yang sudah bertahun-tahun, sebelum saya masuk memang sudah ditinggal pemiliknya. Memang ada yang murni kosong,” katanya.
Saat dirinya diberi mandat menjadi kepala pasar, ia mencoba mengaktifkan kembali bedak-bedak yang telah lama di tinggal oleh pemiliknya. Trisno melakukan pendataan kembali. Dia juga menyurati pedagang agar bisa kembali membuka bedaknya.
“Kami surati agar buka. Bahkan kami ultimatum. Jika tidak dibuka maka akan kami cabut izinnya. Alhamdulillah ada beberapa yang buka, tapi bisa dihitung dengan jari,” bebernya.
Menurutnya, salah satu faktor penyebab mangkraknya sejumlah bedak di Pasar Kebonagung itu lantaran minimnya pengunjung. Dia tidak tahu pasti apa penyebabnya.
Dari sisi lokasi, sebenarnya Pasar Kebonagung strategis. Dekat dengan jalan raya. Seharusnya pasar ramai.
“Memang secara lokasi bagus, pas di pinggir jalan raya. Namun nyatanya itu salah. Sebab, Pasar Kebonagung lokasinya di tengah-tengan pasar lainnya. Di sisi selatan ada Pasar Semampir. Barat ada Pasar Pajarakan dan Karanggeger. Jadi harapannya dari timur, cuman dari timur ini sepi,” katanya.
Minumnya pengunjung inilah menyebabkan para pedagang memilih tidak membuka bedaknya. Mereka menilai jika membuka bedaknya, tenaga yang dikeluarkan dengan penghasilan yang didapat, tidak berbanding lurus.
“Sejauh ini pembelinya ada saat dini hari. Itupun pembelinya adalah welijo (tukang jual sayur keliling). Pembeli dari warga sekitar jarang. Jadi kalau dini hari itu pedagang yang ada hanya sayuran dan ikan,” ujarnya.
Trisno menyebutkan, pihaknya juga telah berupaya untuk bisa menggaet masyarakat untuk bisa mengaktifkan kembali Pasar Kebonagung. Dia pernah menggratiskan masyarakat apabila ingin menempati bedak yang kosong.
“Kami buka lebar-lebar kesempatan bagi masyarakat yang mau menempati. Tiga bulan pertama akan kami beri gratis, tidak dipungut retribusi. Jadi, misalnya kerasan menempati bedaknya, bisa dilanjut,” ujarnya.
Setali tiga uang, kondisi serupa juga terjadi di Pasar Dringu. Di lantai dua pasar banyak bedak mangkrak. Jika dihitung berjumlah 24 bedak. Sementara di bawah berjumlah 2 bedak yang mangkrak.
“Ya tidak ditempati. Kosong, tidak ada penjual sama sekali,” kata Kepala Pasar Dringu Sutaman.
Mangkraknya sejumlah bedak ini, disebut Sutaman, sebenarnya sudah lama. Apa sebab? Ini karena banyak pengunjung yang enggan naik ke lantai dua pasar.
“Dulu sempat ditempati. Tapi karena tidak ada pengunjung lantaran enggan mau naik, akhirnya banyak yang tutup dan pindah ke bawah,” ujarnya.
Saat masih ada pedagang di atas, Sutaman menyebutkan, para pedagang banyak yang komplain. Selain karena tidak ada pengunjung, pedagang mengaku harus mengeluarkan cost lebih untuk biaya pengangkutan.
“Karena kan masih naik, sehingga bertambah biaya angkutnya. Meski tak seberapa, penghasilannya tak sebanding dengan penghasilannya,” bebernya.
Sementara itu di Pasar Semampir, bukan bedak yang mangkrak. Tetapi los yang ada di lantai dua. Lantai dua Pasar Semampir sendiri berkonsep lapak los. Kondisinya saat ini kosong melompong. Hanya ada sejumlah meja pedagang yang tak terurus.
“Kondisinya seperti ini. Tidak ada pedagang. Sebelumnya ada penjual nasi, tapi tutup karena sudah pindah tempat usaha,” kata kepala Pasar Semampir Joeli Santoso.
Kondisi tersebut sudah terjadi sudah cukup lama. Sudah sejak dirinya menjabat sebagai kepala pasar sekitar lima tahun terakhir. Tidak adanya pedagang di lantai dua itu lantaran minimnya pengunjung dan besarnya biaya angkut barang ke atas.
“Kalau kata pedagang, guleh ning atas juelen te, tedung (saya jualan di atas jualan tidur, red). Jadi sepi sekali. Karena pengunjung yang mau naik turun, jarang,” jelasnya.
Dengan kondisi itu, banyak pedagang di los di Pasar Semampir berjualan di bawah. Bahkan ada yang membuka lapaknya di bahu jalan depan Pasar Semampir.
Ketiga kepala pasar ini juga sepakat bahwa sejatinya pengunjung di pasar sudah tidak seramai dulu. Pasar tradisional kini memiliki tantangan sendiri. Yakni welijo atau pedagang sayur keliling yang kini lebih memilih berjualan dengan sistem online. Tinggal pesan, welijo bisa menyediakan kebutuhan pembeli.
“Sehingga banyak masyarakat yang sudah tidak ke pasar. Sebab, mau kebutuhan sudah tidak perlu keluar cukup di rumah dan menunggu welijo lewat atau mengantarkan pesanang,” kata Joeli.
Tak jauh berbeda, alasan para pedagang enggan berjualan di sejumlah lapak-bedak yang telah disediakan lantaran sepinya pengunjung yang naik ke lantai dua pasar.
“Kalau di atas, sepi sekali. Tidak dapat hasil. Di bawah banyak yang berjualan dengan dagangan yang sama seperti ini. Jadi, ngapain ke atas. Akhirnya tidak laku. Pengunjung juga enggan, karena naik turun,” kata Sofia 40, pedagang yang berjualan kelapa di Pasar Semampir.
Pedagang yang pindah dari los, bahkan rela berpanas-panas di depan halaman pasar. Seperti yang dilakukan Sofia. “Ditambah banyak pedagang yang sudah tua, yang mau naik ke lantai sudah lelah. Apalagi kalau seperti dagang kelapaini. Sehari paling tidak saya bawa 4 kuintal. Kalau ke atas biaya angkutnya tambah mahal,” katanya.
Sementara itu, pemilik usaha lain di Pasar Kebonagung Imam mengatakan, selama 8 tahun membuka usahanya, kondisi pasar memang sudah sangat sepi.
“Untungnya usaha saya berupa konveksi. Pembelinya sudah banyak pelanggan tetap,” ujarnya.
Bagaimana dengan pengunjung? Musyarofah salah satu pembeli di Pasar Semampir mengaku, sejatinya dia mau-mau saja jika mencari kebutuhan di lantai dua. “Hanya saja jika di bawah masih ada, untuk apa ke atas. Kan capek. Misal sudah tidak ada, ya keatas,” katanya.
https://radarbromo.jawapos.com/daerah/kraksaan/01/05/2023/tawarkan-40-kios-pasar-kebonagung-yang-mangkrak-bebaskan-tiga-bulan-retribusi/
Saran Petakan Jenis Dagangan
Persoalan sepinya pasar dan mangkraknya bedak dan los menjadi perhatian DPRD Kabupaten Probolinggo. Dewan meminta agar pemerintah dapat mencari solusi adanya lapak dan bedak yang mangkrak di sejumlah pasar. Bukan melulu hanya revitalisasi. Tetapi ada baiknya dagangan penjual dipetakan sesuai jenisnya.
Hal itu diungkap Ketua DPRD Kabupaten Probolinggo Andi Suryanto Wibowo. Dia mengatakan, permasalahan pasar ini sejatinya sudah sering dibahas di meja dewan. Pihaknya juga meminta kepada pemerintah agar duduk bersama untuk bisa mencari solusi akan permasalahan tersebut.
“Harus musyawarah untuk membahas permasalahan pasar yang ada. Apa yang menjadi kelemahan dan kelebihan. Dinas perlu turun, berembuk dengan kepala pasar yang ada,” beber Andi Suryanto.
Dengan musyawarah, ia meminta kepada pemerintah agar mencari poin penting terhadap permasalah. Tidak lupa mencari potensi atau kelebihan yang ada di sebuah pasar, utamanya yang bedaknya banyak mangkrak.
“Dari kelebihan yang ada di sebuah pasar jadikan seuatu kekuatan agar menyelesaikan permasalahan yang ada,” jelasnya.
Sejauh ini gambaran dari para pedagang untuk bedak atau lapak di lantai dua pasar ialah apabila berjualan di lantai dua, maka, dagangannya tidak laku. Nah gambaran ini perlu dicarikan solusi.
Salah satu saran yang diberikan, menurut Andi dapat dilakukan dengan memetakan jenis dagangan. Pedagang lalu dikelompokkan sesuai jenisnya. Kemudian mereka diberi tempat yang sama. Misalnya diletakkan di lantai dua. Inilah yang dilakukan di pasar-pasar besar luar daerah. Seperti Pasar Tanah Abang, Mangga dua dan Klewer.
“Harus ada pemetaan jenis dagangan. Apabila pakaian, ya pakaian semua. Jika di atas ikan atau barang lain seperti sayuran dan sembako, ya sembako semua. Apabila ini dilakukan, yakin konsumen akan rela naik ke lantai dua, jika barang yang mau dibeli sudah tidak ada dibawah,” bebernya.
Penerapan penataan seperti ini disebutnya cukup efektif. Hanya saja, pemerintah harus kerja ekstra dan totalitas. Jangan sampai ada jenis barang dagangan yang tidak sesuai dengan pemetaannya ada di tempat yang sudah diatur.
“Pemerintah harus tegas terukur, namun jangan arogan. Diberi pengertian dengan baik. Harapannya pemerintah cepat mencari solusi persoalan ini, agar pembangunan pasar yang menggunakan anggaran negara tidak sia-sia,” beber Andi Suryanto. (mu/fun) Editor : Jawanto Arifin