Puluhan karya batik tulis berbagai motif terpajang rapi di galerinya. Mulai motif tanaman, binatang, dan motif abstrak yang menampakkan keunikan. Usahanya kini mampu menopang kebutuhan hidupnya. Sekaligus mampu mengatrol ekonomi warga sekitar yang direkrut menjadi karyawan.
Di balik itu, ada proses yang tidak mudah dan harus dilaluinya. Usaha ini dirintis berangkat dari hobi. Rusyami memiliki hobi kerajinan tangan. Berbekal hobi itu, ia mengikuti berbagai pelatihan untuk mengasah kemampuannya.
Setelah mengikuti puluhan pelatihan, Rusyami tertarik untuk membatik. Karenanya, ia semakin serius mengikuti pelatihan membatik di berbagai wilayah. “Setiap ada pelatihan terus ikut,” ujar Rusyami, kemarin (20/4).
Berbekal ilmu dari pelatihan, pada 2013, Rusyami mulai merintis usaha. Bermodalkan Rp 300 ribu, nekat membuat batik tulis. Hasilnya dipasarkan ke toko konveksi atau galeri batik. Keuntungan dari hasil menjual batik diputar untuk modal.
Rupanya, manajemen permodalan yang dijalankannya berhasil. Secara bertahap, ia mampu merekrut 5 karyawan untuk membantu. “Hasil membatik saya titipkan, lah kok laku. Akhirnya, keuntungan batik saya putar. Dalam beberapa bulan, saya tidak menerima keuntungan sama sekali. Tapi, usaha saya semakin berkembang,” tuturnya.
Usahanya terus berkembang. Karenanya, ditetapkanlah nama usahanya menjadi Dewi Rengganis. Puluhan karya batik tulis berbagai motif berhasil diproduksi. Namun, hanya tiga motif yang menjadi masterpiece dan menjadi ciri khas batik tulis buatannya. Di antaranya, batik tulis motif Pengasihan Dewi Rengganis; motif Wijaya Kusuma; dan motif Wal Ashri.
Dibantu 30 karyawan, Rusyami terus berusaha membesarkan usahanya. Pemasarannya diperluas. Kini, mampu menembus sampai keluar kota. Tidak heran jika omzetnya mencapai Rp 50 juta.
“Ada tiga motif yang menjadi ciri khas batik tulis Dewi Rengganis. Cukup unik dan tidak ditemukan di galeri lainnya. Karyawan 90 persen wanita. Hanya ada beberapa bagian yang karyawannya laki-laki,” ujar Rusyami.
Memaknai Hari Kartini, Rusyami mengatakan, perempuan harus mempunyai kreativitas. Perempuan lebih tangguh, memiliki kesabaran, dan ketelatenan lebih besar dibandingkan laki-laki. Karenanya, kesuksesan terbuka lebar saat keterampilan mulai diasah.
“Perempuan harus mampu berkreasi dan berinovasi. Perempuan harus bisa lebih tangguh dari laki-laki. Hal itu harus dibuktikan dengan karya,” ujarnya. (ar/adv) Editor : Jawanto Arifin