Mullet yang Kini Kembali Digandrungi

Agus Faiz Musleh • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 11:12 WIB
BANYAK VARIASI: Salah satu pemuda yang datang ke Maskod Barbershop, Pajarakan, yang rambutnya ditata dengan gaya mullet. (Foto: dokumentasi pribadi)
BANYAK VARIASI: Salah satu pemuda yang datang ke Maskod Barbershop, Pajarakan, yang rambutnya ditata dengan gaya mullet. (Foto: dokumentasi pribadi)

 

TREN gaya rambut ternyata punya cara sendiri untuk berputar. Model yang sempat dianggap kuno bahkan identik dengan gaya era 1980-an, bisa kembali menjadi pilihan anak muda setelah beberapa tahun tenggelam. Salah satunya adalah potongan rambut mullet.

Potongan yang memiliki ciri khas bagian depan dan samping lebih pendek, sementara bagian belakang dibiarkan lebih panjang itu kembali banyak dilirik sejak sekitar 2020. Di tengah maraknya berbagai model rambut modern, mullet justru menawarkan sesuatu yang berbeda: penampilan yang berani, santai, sekaligus memiliki karakter kuat.

Owner Maskod Barbershop di Pajarakan, Jaka Dany Satria, 30, mengatakan, kemunculan kembali mullet tidak lepas dari keinginan anak muda untuk mencoba gaya yang berbeda dari potongan rambut konvensional. Menurut dia, mullet memiliki daya tarik karena tidak membuat pemiliknya terlihat terlalu formal. Potongan tersebut juga bisa dikembangkan sesuai karakter dan bentuk rambut masing-masing.

“Mullet itu punya ciri khas sendiri. Bagian samping dan depan bisa dibuat lebih pendek, sedangkan bagian belakang tetap dibiarkan panjang. Karena itu, orang yang memakai mullet bisa kelihatan berbeda tanpa harus menggunakan model yang terlalu rumit,” kata Dany.

Mullet sejatinya bukan model rambut baru. Gaya tersebut pernah populer pada era 1970-an dan 1980-an, terutama dalam budaya musik dan fashion. Setelah sempat dianggap ketinggalan zaman, model itu kembali masuk ke arus utama pada penghujung 2010-an hingga 2020-an. Pada 2020, sejumlah media fashion mencatat kebangkitan mullet yang turut dipengaruhi media sosial dan tren retro.

Di Indonesia, popularitasnya kemudian ikut berkembang. Pengaruh budaya pop, termasuk gaya rambut sejumlah figur publik dan artis Korea, turut membuat mullet semakin dikenal anak muda. Model lama itu kemudian tidak lagi dibuat persis seperti mullet klasik, tetapi dikombinasikan dengan teknik potongan modern.

Dany mengatakan, perubahan tersebut menjadi salah satu alasan mullet tetap diminati. Menurutnya, pelanggan tidak selalu meminta mullet dengan bagian belakang yang terlalu panjang. Banyak yang justru menginginkan versi lebih pendek dan rapi.

“Sekarang mullet sudah banyak variasinya. Tidak harus panjang di belakang seperti model zaman dulu. Bisa dibuat lebih tipis, lebih pendek, atau dikombinasikan dengan fade. Jadi kesannya lebih modern dan tetap enak dilihat,” ujarnya.

Perubahan karakter tersebut membuat mullet bisa digunakan oleh lebih banyak orang. Jika dahulu identik dengan tampilan yang berani dan nyentrik, kini model itu dapat dibuat lebih sederhana. Potongan bagian samping bisa dibuat tipis, sementara bagian atas diberi tekstur agar rambut terlihat lebih bervolume.

Bagi sebagian anak muda, pilihan model rambut juga bukan sekadar persoalan mengikuti tren. Rambut menjadi bagian dari cara menunjukkan karakter. Karena itu, model yang dianggap berbeda justru memiliki daya tarik tersendiri.

“Biasanya orang yang memilih mullet memang ingin tampil beda. Mereka tidak mau potongan yang terlalu umum. Tetapi tetap bisa disesuaikan supaya tidak terlihat berlebihan. Itu yang membuat mullet masih banyak diminati,” kata Dany.

Selain faktor penampilan, media sosial ikut mempercepat perputaran tren. Model rambut yang sebelumnya hanya dikenal dalam kelompok tertentu bisa dengan cepat dilihat dan ditiru oleh pengguna media sosial. Kondisi tersebut ikut membantu menghidupkan kembali gaya-gaya lama, termasuk mullet.

Tren retro yang berkembang sekitar 2020 juga menjadi salah satu pemicunya. Saat itu, gaya fesyen dan rambut era 1970-an serta 1980-an kembali mendapat perhatian. Sejumlah figur publik juga tampil dengan versi modern mullet sehingga persepsi terhadap model rambut tersebut ikut berubah.

Dany menilai, kekuatan utama mullet justru terletak pada fleksibilitasnya. Satu model dasar dapat menghasilkan tampilan berbeda bergantung pada teknik potong, tekstur rambut, hingga cara menatanya.

“Kalau potongannya tepat, mullet bisa disesuaikan dengan bentuk wajah dan jenis rambut. Jadi tidak bisa asal dipotong sama semua orang. Bagian atas, samping, dan belakang harus disesuaikan supaya hasil akhirnya proporsional,” jelasnya.

Dany biulang, pelanggan yang datang untuk meminta potongan mullet juga biasanya sudah memiliki referensi model yang diinginkan. Sebagian membawa foto sebagai acuan. Dari referensi tersebut, barber kemudian menyesuaikan dengan kondisi rambut dan bentuk kepala pelanggan.

Hal itu penting karena mullet bukan sekadar membiarkan rambut bagian belakang tumbuh panjang. Karakter potongan justru muncul dari perbedaan panjang rambut di beberapa bagian serta teknik membentuk transisinya.

“Yang paling penting komunikasi dengan barber. Pelanggan sebaiknya menjelaskan ingin mullet yang seperti apa. Kalau ada foto referensi, lebih mudah untuk menentukan bentuk potongannya. Nanti tinggal disesuaikan dengan rambut dan bentuk kepala,” kata Dany.

“Selama modelnya bisa disesuaikan dengan zaman, potongan lama tetap bisa kembali. Mullet salah satunya. Orang sekarang tidak hanya mencari rambut yang rapi, tetapi juga ingin punya ciri khas sendiri,” pungkas Dany. (mu/fun)

Editor : Abdul Wahid
rambut muller barbershop