SEBUAH Musala dengan desain cantik bernama An-Nur berdiri di Jalan Ikan Tengiri, Kelurahan/Kecamatan Mayangan.
Dahulu, Musala An-Nur memiliki tampilan tradisional khas Jawa. Hal itu terlihat dari bentuk atap limasannya yang sederhana namun sarat nilai kultural.
Namun kini, wajah musala berubah total setelah melalui proses renovasi.
Desainnya mengusung perpaduan gaya arsitektur Timur Tengah dan nuansa tropis pesisir, menghadirkan suasana spiritual yang tak hanya meneduhkan hati, tetapi juga memanjakan mata.
Pengurus Musala An-Nur, Nanang Nur Faidzin (57), menuturkan bahwa ide desain tersebut muncul dari kekagumannya terhadap arsitektur masjid-masjid di kawasan Timur Tengah.
“Saya terinspirasi ketika melihat masjid-masjid di sana. Lalu saya coba padukan dengan karakter daerah pesisir yang tropis. Saya banyak mencari referensi dari Pinterest, dan akhirnya terbentuklah desain seperti sekarang,” ujarnya.
Konsep Arabian modern terasa kuat pada bagian eksterior. Atap genting tradisional digantikan dengan struktur dak cor penuh yang menopang kubah megah di bagian tengah.
Kubah ini menjadi elemen utama yang langsung menarik pandangan siapa pun yang melintas.
Masuk ke bagian dalam, suasananya tak kalah memesona. Ruangan tampak bersih, terang, dan tertata rapi.
Sistem pencahayaan menggunakan downlight dengan tambahan lampu gantung berwarna emas, menghadirkan kesan mewah khas arsitektur Timur Tengah.
Sementara ceiling plafon yang dibuat bertingkat (berelevasi) menambah kesan dinamis dan elegan.
Tak hanya menonjolkan sisi keislaman, Nanang juga ingin musala ini tetap selaras dengan karakter tropis kawasan pesisir.
Karena itu, dinding di area mimbar diberi sentuhan kayu alami, yang kemudian dipadukan dengan list berwarna emas sebagai simbol modernitas dan kehangatan.
Hasilnya, Musala An-Nur tampak seperti oase spiritual di tengah geliat kehidupan pesisir.
"Kami ingin musala ini bukan hanya tempat ibadah, tapi juga tempat yang nyaman dan menenangkan bagi siapa saja yang datang. Baik untuk salat, beristirahat, atau sekadar menenangkan diri,” tukas Nanang.
Kini, Musala An-Nur tak hanya menjadi rumah ibadah bagi warga sekitar, tetapi juga menjadi spot estetik baru di kawasan Mayangan.
Sebuah bukti bahwa perpaduan antara nilai religius, estetika, dan lokalitas bisa melahirkan keindahan yang menyatu dengan kehidupan masyarakat.
Banyak Bukaan, Suplai Udara dan Cahaya Bisa Maksimal
Salah satu perubahan paling mencolok tampak dari tata letak bangunan yang kini sejajar dengan permukaan jalan.
Sebelumnya, musala berada sedikit lebih rendah, membuat akses ke dalamnya terasa menurun.
Kini, setelah renovasi, bangunan musala tampak lebih selaras dengan lingkungan sekitar, memberikan kesan lapang dan terbuka.
Pagarnya pun dihilangkan untuk menciptakan pandangan yang langsung mengarah ke bangunan utama. Meski demikian, bagian dalam musala tidak langsung terekspos dari luar.
Area selasar luar dilapisi sekat GRC berukir motif Islam khas Timur Tengah, yang tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, tetapi juga membantu sirkulasi udara dan pencahayaan alami.
"Selain itu, bukaan jendela dan pintu di dalam ruangan cukup banyak, sehingga udara dan cahaya bisa masuk maksimal,” jelas Nanang Nur Faidzin, pengurus musala.
Saat malam hari, eksterior musala tampak lebih cantik dengan tambahan lampu strip yang dipasang mengelilingi GRC. Hal ini membuat tampilan musala makin estetik nan modern.
Perpaduan desain tersebut membuat suasana di dalam ruangan terasa sejuk, terang, dan menenangkan.
Tak hanya memperhatikan keindahan visual, renovasi juga menyentuh aspek kenyamanan jemaah.
Ke depan, Nanang berencana untuk menambahkan pendingin ruangan (AC) agar jemaah semakin betah beribadah, terutama saat cuaca pesisir sedang panas.
Di bagian dalam, musala ini kini dilengkapi dengan gudang penyimpanan dan ruang khusus untuk sound system, yang membantu menjaga kerapian dan kualitas suara selama kegiatan ibadah berlangsung.
Selain itu, tersedia dua area tempat wudu terpisah yang dapat digunakan secara bersamaan oleh jemaah.
“Harapan kami, musala ini bisa menjadi tempat ibadah yang nyaman dan menenangkan. Terutama menjelang bulan Ramadan, agar masyarakat semakin khusyuk beribadah,” tutur Nanang, warga asli Mayangan yang kini menetap di Jakarta.
Dengan tampilan baru yang lebih modern, bersih, dan terbuka, Musala An-Nur kini bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol keharmonisan antara spiritualitas dan estetika arsitektur.
Sebuah ruang kecil yang menebar ketenangan di tengah hiruk pikuk pesisir Mayangan. (gus/one)
Editor : Jawanto Arifin