PASURUAN, Radar Bromo - Jarum jam baru menunjukkan pukul 07.00, namun Samsul Hidayat sudah terlihat rapi.
Pria yang seharinya pekerja sebuah perusahaan swasta itu terlihat necis dengan mengenakan kaus oblong warna putih dengan bawahan celana panjang warna krem. Dia juga memakai topi ala pejuang veteran 45.
Aksen layaknya pahlawan nasional begitu dengan sabuk taktikal hasil pinjaman dari tetangga. Sabuk milik anggota kepolisian yang biasanya digunakan untuk baris berbaris.
Di tangannya, sebuah tongkat dari bambu yang ujungnya disematkan bendera merah putih, makin membuat penampilannya layaknya pejuang kemerdekaan di zaman dahulu.
Begitu berkumpul dengan pria-pria paro baya, Samsul tak henti-hentinya menyerukan yel-yel yang sudah disiapkan selama sepekan.
Ini juga diikuti oleh kaum hawa yang mengenakan pakaian lurik ala adat Jawa. Sama persis seperti penampilan pejuang di zaman kemerdekaan.
“Judulnya memang karnaval tujuhbelasan. Tetapi kami benar-benar menyukainya. Kami ingin tampil bagus di depan dewan juri,” kata Samsul Hidayat sembari diiyakan pria lainnya yang penampilannya sama persis dengannya.
Begitulah penampilan warga di Gang Manggis, saat hendak mengikuti karnaval Kemerdekaan RI di di Kelurahan Purutrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan.
Mereka memilih tema pejuang veteran karena fashion ini bukan hanya paling mudah. Tetapi kostum ini fleksibel untuk dipakai karnaval yang pasti akan berkutat dengan panasnya sinar matahari.
Di tengah hiruk-pikuk tren fashin modern yang terus berubah, gaya unik dan penuh makna mulai mencuri perhatian seperti pakaian ala pejuang ini, paling sering ditemui saat acara kemerdekaan.
Gaya ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan sebuah bentuk apresiasi terhadap sejarah dan semangat perjuangan para pahlawan bangsa.
Kaus oblong jadi ilustrasi pahlawan nasional,. Kaus-kaus ini seringkali dibuat dari bahan katun yang adem dan nyaman, sehingga cocok untuk iklim tropis Indonesia.
Memakainya tidak hanya menambah gaya, tetapi juga menjadi cara sederhana untuk menunjukkan kebanggaan terhadap warisan budaya dan sejarah bangsa.
“Pakaian ala pejuang tidak hanya menawarkan estetika yang maskulin dan berani, tetapi juga mengingatkan generasi muda akan nilai-nilai luhur seperti keberanian, ketangguhan, dan persatuan. Ini adalah cara baru untuk merayakan kemerdekaan, tidak hanya pada perayaan 17 Agustus, tetapi setiap hari,” beber Agung Setiyo.
Tren ini membuktikan bahwa mode bisa lebih dari sekadar penampilan—ia bisa menjadi medium untuk menyampaikan cerita, merayakan sejarah, dan menginspirasi semangat perjuangan di era modern. (fun)
Editor : Abdul Wahid