TEMPAT nongkrong di Kota dan Kabupaten Probolinggo kian menjamur. Menyamai kota-kota besar.
Setiap kafe memiliki pangsa pasarnya sendiri. Karena itu, mereka akan menyesuaikan konsep, menu bahkan nilai-nilai kafe itu sendiri untuk menarik target pasar.
Salah satunya kafe yang terletak di Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo ini.
Menganalisis belum banyak kafe yang lengkap dengan studio foto di Kota Probolinggo, mereka mengawali.
Sebetulnya kedua hal ini bukan konsep baru. Kafe sudah bertebaran, begitu juga studio foto. Namun, perpaduan keduanya belum umum di Kota Probolinggo.
Salah satu barista di kafe tersebut, Arif Rahman Maulana, 18, warga Kelurahan/Kecamatan Kanigaran mengatakan, bahwa sang owner berusaha menggabungkan kedua tempat, yang kini sedang ramai diminati.
“Saya lihat di Probolinggo kan belum banyak. Jadi sepertinya owner mencoba untuk membuat itu di sini. Karena di kota-kota besar sudah umum,” katanya.
Dalam studio foto itu, sudah disediakan aksesoris tambahan seperti bandana, kostum dan kacamata.
Sehingga, pengunjung yang datang hanya perlu menyiapkan diri.
Dalam sebulan pertama semenjak dibuka, studio foto ini makin ramai.
Keperluannya banyak. Bisa untuk foto bersama teman dan saudara. Ada juga yang untuk keperluan foto ijazah bahkan untuk prewedding.
Konsepnya adalah self photo. Jadi, pengunjung sendiri yang merekam foto mereka.
Para karyawan biasanya hanya akan membantu menyesuaikan lighting atau background.
Konsep ini sangat cocok, untuk orang yang pemalu. Karena tak ada orang lain. Sehingga, para pengunjung tak perlu malu atau segan dalam berpose.
Jika dirasa hasilnya tak bagus, maka pengujung juga bisa menambah sesi foto mereka sampai mereka puas. Asal antreannya tak terlalu lama.
Setelah jadi, beberapa foto bisa dicetak. Dan beberapa lagi, akan dikirim soft file-nya.
“Mereka foto sendiri, pakai mesin foto. Lalu hasilnya dicetak. Kami bantu untuk pencahayaannya,” katanya.
Sembari menunggu antrean, pengunjung juga bisa nongkrong dan minum kopi agar tidak bosan. Suasana di kafe itu, relatif sejuk karena banyak pohon-pohon rindang.
Ciptakan Budaya Ngopi Pagi
Bergeser dari pembahasan konsep studio foto, konsep kafe sebagai tempat ngopi di sana juga tak kalah menarik di bahas.
Sebetulnya, budaya ngopi di Kota Probolinggo sudah mulai terbentuk.
Terutama bagi mereka yang memang penyuka kopi. Banyaknya kafe yang kini berdiri di Kota Probolinggo, tentu menjadi angin segar.
Meski begitu, rupanya tak semua kafe mulai buka di pagi hari. Padahal, saat pagi hari itu, para pekerja membutuhkan asupan kafein untuk memulai hari dengan semangat.
Namun tak banyak kafe yang buka di pukul 06.00 atau 07.00 pagi. Biasanya kafe start buka di pukul 09.00 atau 10.00.
Sebab butuh preparation yang lebih lama untuk menyiapkan bahan-bahan atau memanaskan mesin kopi.
Karena itu, Arif Rahman Maulana, 18, warga Kelurahan/Kecamatan Kanigaran yang merupakan barista kafe mengaku, akan menciptakan budaya baru di masyarakat Kota Probolinggo untuk ngopi pagi sebelum berangkat kerja.
Yakni dengan memajukan jadwal kafe buka lebih pagi yaitu pukul 06.00 yang disebut dengan “Ngopag Edition.”
“Kami coba untuk ciptakan budaya ngopi pagi hari atau bisa juga untuk memfasilitas warga yang suka ngopi pagi hari, tapi tak banyak kafe buka,” ujarnya.
Ngopag Edition ini, kata Alan-sapaannya, akan ada hanya di hari Minggu. Itupun tak setiap minggu ada.
Dia mengatakan, setidaknya dalam satu bulan ada dua kali Ngopag Edition.
Pertimbangannya banyak. Termasuk proses preparation yang harus dilakukan lebih pagi. Serta juga akan menambah jam kerja karyawan.
“Kami cek ombak dulu. Setidaknya sebulan dua kali. Karena banyak yang harus dipertimbangkan,” sampainya. (ran/one)
Editor : Jawanto Arifin