KEDAI kopi satu ini memiliki luas tanah hampir satu hektar. Tak heran, jika konsep yang digunakan adalah open space.
Halaman yang luas dengan banyak tumbuhan ditambah bangunan yang sederhana menjadikan tempat ini tampak lebih “homey” untuk sekadar disebut tempat ngopi.
Secara umum, bangunannya model rumah lama. Ada beberapa yang direnovasi, namun kesan kunonya masih melekat.
Bagian depan rumah sengaja dibuat transparan dengan dipenuhi kaca-kaca besar agar pengunjung di dalam bisa melihat pemandangan hijau di luar ruangan.
Koko Yoga Pratama, 24 sebagai head bar mengatakan bahwa sang pemilik menyukai kisah-kisah Yunani kuno.
Tak heran, tema ruangannya dibuat menyerupai bangunan Yunani kuno. Dalam ruangan itu juga banyak lukisan-lukisan tentang tokoh-tokoh legenda Yunani kuno.
Warna yang digunakan tak banyak hanya coklat dan putih. “Founder-nya memang suka cerita-cerita Yunani. Jadi, terinspirasinya dari sana,” katanya.
Koko menambahkan, bahwa kedai itu memiliki tiga ruangan. Yaitu indoor, outdoor dan semioutdoor.
Kedai tersebut juga memiliki kapasitas besar mencapai 120 orang. Dengan halaman yang luas tersebut, bisa menambung lebih dari 100 orang.
Biasanya mereka datang saat sore hari sampai dengan malam hari. Suasana saat sore hari sangat hangat.
Pengunjung bisa melihat senja ketika sore hari. Dan malam hari, suasananya juga enak untuk mengobrol dengan lampu-lampu taman yang indah.
Segmentasi pasarnya memang diperuntukkan bagi kalangan menengah. Namun yang datang beragam. Mulai dari remaja, pekerja bahkan mahasiswa.
“Ada yang datang untuk nongkrong ada juga yang bekerja sambil nugas. Biasanya yang bekerja atau nugas, memilih di dalam karena lebih enak ruangannya ber-AC,” bebernya.
Bercita-cita Tingkatkan Literasi
Sebelum pindah ke tempat sekarang, kedai itu tak hanya sebuah tempat yang menjual kopi.
Namun juga tempat literasi. Semua buku tersedia dan bebas dibaca. Sayangnya setelah pindah, untuk sementara waktu ini, pojok literasi tersebut belum berjalan lagi.
Sam Pangestu, 34, technical Floor, mengatakan bahwa pojok literasi dalam kedai tersebut akan segera dibuka kembali.
“Saat ini sedang vakum, kami masih cari tempat yang nyaman untuk dibuat tempat menaruh buku-bukunya itu,” katanya.
Bahkan, kata Sam, kedai tersebut banyak digunakan untuk acara komunitas. Seperti acara diskusi, womens day dan acara literasi.
Bahkan, nama kedai itu sendiri diambil dari sebuah istilah yang maknanya adalah tempat berkumpulnya para intelektual zaman Yunani dahulu.
Sehingga penggunaannya, juga dibuat sebisa mungkin untuk jadi tempat yang nyaman bagi para pemikir.
Bahkan kedai setempat, punya slogan yang dipegang sebagai nilai yaitu “empowerment for everyone,”
“Kami dahulu menciptakan kedai ini, memang memiliki cita-cita meningkatkan literasi. Karena, kita tahu sendiri bahwa literasi di sini masih cukup minim,” tandasnya. (ran/one)
Editor : Jawanto Arifin