Tradisi saat Lebaran adalah bersilaturahmi. Bisa ke kerabat hingga ke keluarga besar. Jamak yang menggelar halalbihalal sembari saling memaafkan. Semua punya cara tersendiri saat menggelarnya. Yang penting bisa berkumpul.
KURANG dua hari Idul Fitri tiba, Farida, 50, sudah menyeterika rapi baju milik suami dan anaknya. Wanita asal Tembokrejo, Purworejo, Kota Pasuruan ini juga mewanti-wanti supaya baju bermotif kotak-kotak, jangan dipakai sebelum acara arisan keluarga yang rencananya bakal digelar di H+6 Idul Fitri.
Dia ingin Rama, anaknya yang berusia 20 tahun, tampil couple dengan suaminya, di hadapan keluarga besar. “Pokok e ojo gawe klambi seng iku (pokoknya jagan pakai baju yang itu, red), katanya sembari menata amplop kecil yang jumlahnya mencapai puluhan itu.
Itulah gambaran acara halalihalal keluarga besar Yaning tiap kali lebaran tiba. Halalbihalal biasanya digelar bergiliran, di rumah saudara inti dari ibunya seperti pakde, bude, paman dan bibi.
“Jika tahun ini di rumah keluarga dari anak pertama ayah dan ibu, tahun depan di rumah digelar di rumah dari anak kedua. Begitu seterusnya sampai mutar ke anak yang paling tertua lagi,” terang Farida.
Sudah hampir dua dekade ini halalbihalal yang dikemas acara arisan keluarga tersebut, dilakukan keluarga besar Farida. Semenjak dia masih menjadi manten anyar.
“Kalau dahulu saat ayah dan ibu masih ada, halalbihalal jelas digelar di rumah orangtua. Namun saat keduanya tiada, maka diambil jalan tengah dengan digelar bergiliran,” beber Farida.
Saat arisan keluarga digelar, saudara-saudaranya juga tidak keberatan. Sebab sebelum ditentukan siapa yang akan menjadi tuan rumah, biasanya digelar pembahasan dahulu. Ini supaya jika ada yang berhalangan, maka posisi tuan rumah bisa digantikan.
“Kita kan tidak pernah tahu bagaimana kondisi kakak atau adik. Mungkin saat giliran menjadi tuan rumah di tahun depan, berbarengan dengan mau mantu atau hendak menyunatkan anaknya. Jadi, dilompati dulu dan diganti di tahun berikutnya,” terang Farida.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Yaning, 44, warga asal Bugul Kidul. Keluarga besarnya memiliki banyak anggota. Jika arisan keluarga digelar, orang yang datang bisa mencapai lebih dari 100 orang.
“Itu jika dihitung dari kakek-nenek sampei ke cucu-cucunya. Jadi kalau berkumpul, ramai banget,” beber wanita yang seharinya mengurus rumah tangga tersebut.
Saat berkumpul, arisan keluarga isinya memang kumpul-kumpul untuk silaturahmi. Keluarga yang datang juga tidak hanya berasal dari Pasuruan saja. Tetapi dari luar kota. Sehingga saat arisan keluarga digelar, kebanyakan pasti datang. Apalagi momennya masih di hari raya Lebaran.
“Terutama yang merantau sampai jauh. Hari raya kebanyakan kan mudik. Nah, ini justru memudahkan keluarga besar untuk berkumpul di satu momen dan akhirnya bisa bertemu semua. Justru lebih irit biaya, walaupun yang dari luar Pasuruan harus ada effort,” kata Yaning.
Bagi Farida dan Yaning, momen arisan keluarga ini juga ditunggu oleh generasi muda di keluarga. Sebab di momen inilah biasanya bagi-bagi angpau Lebaran digelar. Sehingga anak-anak kecil punya momen yang dikenang, tiap kali arisan keluarga digelar.
“Bukan nilai uangnya, karena tiap keluarga bebas. Mau memberi uang baru dengan nominal berapapun, atau memberi barang. Yang penting ada seru-seruan, karena di keluarga kami juga biasanya menyelipkan games dan doorprize,” terang Yaning.
Jangan Sampai Bebani Tuan Rumah
TRADISI arisan keluarga seperti yang dilakukan oleh keluarga besar dan Farida, mugkin sudah jamak dilakukan banyak keluarga di mana-mana.
Agar tuan rumah tak sampai terbebani, maka butuh persiapan matang. Salah satunya membentuk panitia kecil yang isinya mengurus soal keuangan kas.
Kelas, kas ini yang dibutuhkan untuk menghidupkan acara seperti keluarga. Dari kas inilah, tuan rumah bakal merasa nyaman saat menggelar acara. Misalnya kas digunakan untuk membeli bahan makanan yang akan disajikan saat acara digelar.
“Kas ini didapat dari membayar dan menabung. Setiap keluarga dihitung dengan membayar per kepala, tetapi jumlahnya sedikit kok. Uang ini yang digunakan untuk diberikan kepada tuan rumah. Sehingga tak sampai membebani tuan rumah,” terang Farida.
Lain halnya dengan keluarga Yaning. Untuk memudahkan keluarga yang datang, tuan rumah juga bebas menggelar acara. Bisa di rumah sendiri atau di suatu tempat, misalnya restoran.
“Namun sebelum menentukan tempat, tuan rumah pasti diberi tahu, kalau ketempatan, akan dapat uang dari kas jumlahnya sekian. Nah, tuan rumah pasti akan memperhitungkan,” kata Yaning.
Ini karena tak semua tuan rumah, bersedia rumahnya dijadikan tempat acara. Bisa jadi, kata Yaning, saat arisan keluarga digelar, rumah mereka tak punya lahan atau tempat parkir yang luas.
“Ada juga yang sedang ditinggal asisten rumah tangganya, sebab Lebaran kan pasti libur. Jadi, daripada repot kora-kora (mencuci piring, red), tuan rumah yang ketempatan, memilih lokasi di restoran. Asalkan budgetnya punya dan mau, tak jadi soal. Bahkan pernah, arisan keluarga ini kami gelar di sebuah tempat yang ada di tengah-tengah, seperti di sebuah villa. Semuanya bisa, asalkan disepakati oleh keluarga,” beber Yaning. (riz/fun)
Editor : Abdul Wahid