BIASANYA, tempat nongkrong seperti kafe didesain memiliki ruangan luas agar dapat menampung banyak pengunjung. Ada juga yang terkesan mungil, namun tetap nyaman ditempati.
Memiliki luas bangunan hanya sekitar 140 meter per segi, namun rupanya cukup menampung sekitar 80 sampai dengan 100 orang. Kafe ini memanfaatkan lantai dua bangunan yang lebih luas.
Letaknya pun strategis. Berada di tengah kota. Uniknya, kafe ini berada di tengah jejeran pertokoan di pusat Kota Probolinggo. Berjejer dengan swalayan, toko elektronik, bahkan tempat makan.
Manager kafe Jodie mengaku sengaja memilih tempat ini, karena strategis. Berada di jantung kota. Ia mengaku tak masalah jika kafenya berada di tengah-tengah pertokoan.
“Yang paling penting dalam membangun usaha itu, lokasinya. Jadi, memang harus strategis di jantung kota. Agar orang bisa dengan mudah menemukan kafe kita,” jelasnya.
Kafe tersebut, kata Jodie, awalnya rumah makan nasi padang. Dengan kreativitas tinggi dari owner dan dirinya sebagai manager, berhasil menyulap rumah makan menjadi kafe yang aesthetic dan digandrungi anak muda.
Tema ruangan juga sangat sederhana. Memadukan warna putih, hitam, dan coklat dipenuhi lampu-lampu warna-warni untuk ciptakan kesan hangat. “Ruangannya memang tidak terlalu besar, jadi sekalian dibikin minimalis konsepnya,” terang Jodie.
Untuk tempat duduknya juga disediakan sofa-sofa empuk. Jadi, setiap pengunjung bisa duduk berlama-lama tanpa merasa pegal. Jodie ingin agar kafenya tidak hanya menjadi tempat nongkrong, namun bisa menjadi tempat berlindung.
“Nama kafe ini artinya tempat berlindung, jadi sebisa mungkin didesain nyaman dan hangat agar pengunjung betah berlama-lama,” jelasnya.
Lantai yang dipakai juga menggunakan vinyl bermotif kayu, makin terkesan seperti rumah sendiri. Juga sengaja ditaruh bunga-bunga hidup, seperti bambu kecil dan kaktus, agar suasana jadi lebih hidup.
“Saya sengaja kasih bunga-bunga hidup kaya kaktus ini, agar lebih hidup lah. Jadi, manusia dan tumbuhan hidup bersama di kafe ini. Bahkan, saya juga taruh ikan kecil di situ,” kata Jodie.
Banyak Spot Menarik untuk Abadikan Diri
Di kafe yang berukuran tidak terlalu besar ini sengaja dikonsep “open bar.” Agar pengunjung juga dapat melihat langsung para barista meracik minuman pesanannya.
Dengan begitu, karyawan kafe dan pengunjung juga bisa akrab dan tidak ada sekat. “Ngobrol-ngobrol kita sama pengunjung, jadi tidak kaku. Di sini fleksibel lah, kayak rumah sendiri,” ujar salah seorang karyawan, Vincent, 21, warga Kecamatan Kedopok.
Tidak hanya anak muda, para pekerja kantoran, gen milenial sampai boomer juga sering nongkrong di kafe ini kala istirahat dari jam kantor. Mengingat, lokasi kafe juga sangat dekat dengan perkantoran, bahkan Kantor Pemkot Probolinggo.
Kata Vincent, semua berbaur dengan nyaman dan seperti kenal akrab. “Kalau hari biasa itu, banyak anak sekolah, bapak-bapak dan ibu-ibu yang berkunjung untuk makan atau nongkrong. Ya ngobrol sama kami juga para pekerja,” jelasnya.
Kirana, 16, warga Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, salah satunya. Pada hari libur, ia bersama teman-teman sekolahnya memilih bersantai di kafe ini untuk sekadar ngobrol dan nongkrong.
Menurutnya, kafe ini menjadi salah satu pilihan kafe yang perlu dikunjungi, sebab desainnya yang estetik. Meski tidak terlalu luas, pengunjung juga bebas mengekspresikan diri dengan berfoto-foto di semua spot kafe. “Suka karena estetik, tadi kita foto-foto juga hasilnya bagus,” katanya. (mg/rud)
Editor : Ronald Fernando