SEBUAH rumah bergaya kolonial Belanda di sudut Kota Probolinggo, menjadi perhatian pecinta arsitektur dan penggemar kafe. Meski usianya sudah puluhan tahun, bangunan ini tetap dipertahankan dalam bentuk aslinya. Menciptakan daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang ingin merasakan atmosfer tempo dulu.
Kafe ini berada di Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo. Meski di sekelilingnya sudah banyak berdiri bangunan-bangunan modern, gedung ini tetap dengan tampilan kunonya. Namun, justru kekunoannya ini yang menjadi daya tarik bagi pengunjung.
Karena itu, pemiliknya sengaja tak mengubah bentuk asli bangunan. Hanya melakukan pengecatan ulang dan menambah sentuhan artistik pada dinding, sehingga tercipta perpaduan unik antara warisan kolonial dan seni modern.
“Hanya ditambahkan sedikit mural. Sementara yang lain tetap dipertahankan bentuk aslinya. Mulai dari bentuk jendela, pintu, plafon, hingga atap,” ujar pemiliknya, Riza Eka Permana Hidayat, 41.
Tampak jendela-jendela lebar dengan krepyaknya yang khas rumah zaman Belanda, tetap terpasang kokoh. Pintu-pintu kayu juga mengesankan betapa megahnya rumah ini pada masa lalu. Pada bagian jendela juga terpasang teralis besi.
Mahasiswi Jurusan Arsitektur Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Anastasia Nadliratul Lail mengatakan, teralis besi merupakan salah satu elemen penting dalam arsitektur rumah-rumah kuno peninggalan Belanda. Fungsinya tak hanya sebagai estetika, namun juga sebagai perlindungan tambahan.
“Bagi keluarga-keluarga Belanda, teralis besi yang terpasang di jendela maupun pintu itu untuk menghindari tindak kejahatan. Memberikan perlindungan fisik tanpa harus menutup jendela sepenuhnya,” katanya.
Secara visual, teralis besi memberikan kesan elegan dan kuat pada rumah bergaya kolonial Belanda. Ornamen-ornamen yang menghiasinya memberikan tampilan klasik yang mendalam. Mempertegas karakter bangunan sebagai rumah dengan pengaruh Eropa yang beradaptasi dengan kondisi tropis.
“Bila bagian ini dipertahankan hingga sekarang, maka dapat memberikan kesan nostalgia terhadap masa lalu,” ujar perempuan yang akrab dipanggil Tasya ini.
Ciptakan Suasana Homey
Begitu melangkah masuk, suasana langsung berubah menjadi hangat dan penuh nostalgia di sebuah kafe dengan bangunan kuno ini. Interior kafe didominasi sentuhan tradisional Jawa, yang memberikan nuansa berbeda dari eksteriornya.
Meja dan kursi kayu berjajar rapi. Semuanya terbuat dari kayu jati kokoh. Sehingga, menghadirkan suasana homey dan nyaman bagi para pengunjung. Di salah satu ruangan, sebuah bar dari kayu dipajang dengan apik. “Tentu ini melengkapi suasana tradisional yang ingin ditonjolkan,” ujar Mahasiswi Jurusan Arsitektur Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang Anastasia Nadliratul Lail.
Berbagai ornamen bernuansa Jawa, juga turut dipasang di sejumlah sudut ruangan. Di antaranya, ada tape recorder tua dan kaset pita yang tertata rapi di atas meja bar. Mengundang kenangan akan masa-masa sebelum teknologi digital mengambil alih.
Sebuah televisi kuno dengan layar cembung juga menambah kesan vintage. Seolah membawa pengunjung kembali ke era 80-an. Tidak ketinggalan, ada sepeda kumbang kuno yang terletak di salah satu ruangan kafe. Menjadi pelengkap sempurna dari konsep tradisional yang diusung.
Atmosfer hangat kafe ini menjadikannya tempat ideal untuk bersantai. Baik sendiri maupun bersama teman. Dengan suasana yang tenang, ditambah alunan musik santai yang diputar membuat pengunjung bisa menikmati waktu mereka sambil menyeruput sajian.
“Kesannya seperti berada di rumah. Hangat dan nyaman. Selain itu bagian halaman yang luas dapat dimanfaatkan sebagai area pertemuan atau area berkumpul bersama para sahabat, keluarga, atau pasangan,” tutup Tasya. (gus/rud)
Editor : Ronald Fernando