TAHWA atau tauwa memiliki nama asli tauhue yang berasal dari dialek Hokkian. Terkadang juga disebut tauhua yang dalam tulisan hanyu pinyin disebut douhua. Makanan khas Tiongkok ini memiliki banyak manfaat.
Makanan ini kerap dinamakan sebagai kembang tahu. Karena bahan baku pembuatannya berasal dari kedelai, sehingga sering disebut puding tahu atau puding kedelai.
Tahwa merupakan pengembangan dari tahu. Tahu sendiri berasal dari Tiongkok. Tepatnya saat Dinasti Han Barat.
Pada masa itu, seorang cucu Kaisar Liu Bang yang bernama Pangeran Liu An tak sengaja menemukan tahu.
Saat itu, Pangeran Liu An yang bermaksud membuat pil abadi menemui jalan buntu. Siapa sangka pil tersebut malah menghasilkan tumpukan putih nan lembut yang saat ini terkenal sebagai tahu.
Di Tiongkok bagian utara, douha atau doufunao atau otak tahu biasa disajikan dengan kecap. Kemudian, diberi topping udang atau rebon, sayuran asin, dan ditabur daun bawang, sehingga terasa gurih.
Di Taiwan, douhua disajikan dengan kacang tanah masak, kacang azuki, oatmeal masak, dan sirup yang diberi perisa jahe atau almond.
Saat musim panas, akan disajikan dengan es serut. Sementara saat musim dingin disajikan hangat.
Di Kanton, Hongkong, douhua disajikan mirip dengan Indonesia. Yaitu, dengan sirup jahe manis. Terkadang ditambahkan pasta kacang hitam dan santan.
Masuknya tahu ke Indonesia bermula dari pasukan Kubilai Khan, yaitu peranakan Tionghoa yang menetap di Kediri.
Ia kemudian mulai mengenalkan tahu. Dalam buku Kuliner Semarangan-Menikmati Rasa di Sepanjang Pesisir Utara Jawa, Mengecap Kelezatan Cita Rasanya, karya Murdijati Gardjito dijelaskan, bahwa awal mula munculnya Tahwa yaitu sekitar abad ke-19.
Tahu lantas berkembang hingga dimodifikasi menjadi kembang tahu.
Di Kota Probolinggo, kembang tahu lebih dikenal dengan nama tahwa atau wedang tahu. Biasanya dijual oleh pedagang kaki lima dan disajikan hangat dengan kuah jahe dan santan kental. Lalu, ditambah kacang tanah dan pasta kacang hijau sebagai topping-nya.
Penjual tahwa banyak ditemukan. Ketika panas, tahwa cocok untuk mengisi perut yang masih berisi udara dingin.
Begitu juga ketika dingin, tahwa selalu menjadi primadona yang dicari sebagai penghalau hawa dingin.
Seperti yang kerap dilakukan oleh Sholeha, 54. Ia suka mengkonsumsi tahwa, terutama saat musim hujan seperti saat ini.
Meski tahwa berasal dari Tiongkok, menurutnya rasa tahwa sangat cocok bagi masyarakat Indonesia. Menggunakan kuah jahe yang memiliki sensasi hangat.
“Jadi, cocok sekali diseduh ketika hujan. Meski bukan musim hujan, biasanya saya santap ketika hari menjelang sore,” ujar Ibu rumah tangga warga Kelurahan/Kecamatan Mayangan ini.
Makin Nikmat Disantap Kala Musim Hujan
Tahwa yang dulu sering dijual oleh pedagang tradisional, kini sudah merambah ke kafe. Salah satu kafe bernuansa vegan di Jalan S. Parman, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, juga memasukkan tahwa sebagai menu andalannya.
Pemilik kafe bernuansa vegan, Andrie Angga Kusuma, 38, mengatakan, tahwa disajikan dalam bentuk puding tahu yang diberi topping kacang tanah, pasta kacang hijau, dan roti cakue. Kemudian disiram kuah jahe.
Andrie mengatakan, proses pembuatannya terbilang cukup mudah. Pertama, siapkan bahan seperti kacang kedelai, bubuk Glucono Delta Lactone (GDL) atau sejenis agar-agar putih, jahe, kayu manis, daun pandan, gula pasir, gula merah, dan garam.
Kemudian, rendam kedelai selama 8 jam hingga mengembang, lalu haluskan dan ambil airnya. Saring, kemudian rebus hingga mendidih bersama GDL, gula, dan garam secukupnya.
“Aduk perlahan. Bila dirasa sudah cukup, angkat lalu tiriskan hingga membeku,” jelasnya.
Kuahnya, kupas jahe dan memarkan. Rebus jahe bersama gula merah, gula pasir, kayu manis, daun pandan, dan garam secukupnya. Rebus hingga seluruh gula larut, kemudian saring.
“Sendok tipis-tipis puding tahunya. Letakkan di mangkuk saji dan tuangkan kuah jahenya,” kata Andrie.
Berdasarkan hasil penelitian yang ditulis pada website Universitas Ciputra dijelaskan, bahwa tahwa mengandung protein tinggi. Sekitar 90 kkal per 100 gram. Ada protein 10,7 gram, lemak 4 gram, karbohidrat 4,7 gram, dan kalsium 85 miligram.
Sehingga, tak hanya sebagai kudapan ketika sore hari, tahwa dipercaya mampu meringankan gejala sakit yang berhubungan dengan cuaca dingin.
Seperti pilek, batuk, hingga masuk angin. Tahwa juga dapat melancarkan air susu ibu, sehingga cocok dimakan oleh ibu yang baru saja melahirkan.
Sementara, kandungan letisin dalam kembang tahu dipercaya mampu menurunkan tekanan darah. Sehingga, tahwa sangat baik dikonsumsi oleh para penderita hipertensi.
Selain menurunkan tekanan darah, kandungan letisin juga sangat baik untuk membantu mengurangi gangguan saluran pencernaan, seperti diare.
Bahkan, tahwa dipercaya mampu menurunkan risiko diabetes dan kolesterol. Seperti, riset di Kanada maupun sebuah penelitian yang tersaji dalam American Jounal of Clinical Nutrition menyatakan, bahwa terjadi penurunan signifikan terhadap tingkat kolesterol hingga 20 persen pada orang-orang yang diberikan diet dengan cara mengkonsumsi kembang tahu selama kurang lebih setahun. (gus/rud)
Editor : Jawanto Arifin