Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Bedah Interior Kopitiam Jalan Dr Sutomo Probolinggo, Hadirkan Nuansa Klasik Otentik

Inneke Agustin • Minggu, 7 Januari 2024 | 16:05 WIB
KLASIK: Suasana interior arsitektur klasik Cina Kafe Kopitiam di Jalan Dr. Sutomo, Kota Probolinggo. (Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)
KLASIK: Suasana interior arsitektur klasik Cina Kafe Kopitiam di Jalan Dr. Sutomo, Kota Probolinggo. (Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Membahas desain interior bergaya oriental, tak lengkap rasanya bila mengabaikan arsitektur klasik Cina. Tak sekadar soal estetika, tapi juga mencerminkan nilai-nilai tradisional.

 

PENGARUH yang mendalam dari arsitektur Cina pada gaya arsitektur Korea, Vietnam, dan Jepang telah terlihat sejak zaman Dinasti Tang.

Tak sekadar soal estetika, tapi juga mencerminkan nilai-nilai tradisional seperti harmoni, keseimbangan, dan kesederhanaan.

Penggunaan elemen-elemen yang saling terkait menciptakan filosofi Yin dan Yang, menekankan permainan antara keberlawanan untuk mencapai keseimbangan holistik.

Gaya arsitektur klasik Cina menjadi ciri khas menarik bagi sebuah Kafe Kopitiam di Jalan Dr. Sutomo, Kelurahan Tisnonegaran, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo.

Kopitiam berasal dari bahasa Melayu yang menggabungkan kata kopi dan tiam dari bahasa Hokkian, yang artinya toko atau warung. Bila digabungkan, artinya warung kopi.

 

 

Meski memiliki akar dari warung kopi, kopitiam di sini mengusung sentuhan klasik Cina dalam desain arsitektur yang menjadi daya tariknya.

Mahasiswi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Jurusan Arsitektur Anastasia Nadliratul Lail mengatakan, penggunaan gaya arsitektur klasik Cina, tidak hanya menciptakan atmosfer unik. Tetapi, juga meresapi suasana tradisional ke dalam tempat tersebut.

“Keberadaan kopitiam ini menjadi lebih dari sekadar tempat untuk menikmati kopi. Tetapi, juga mengajak pelanggan untuk merasakan sentuhan sejarah dan tradisi di dalamnya,” katanya.

Nuansa klasik cina dalam interior kafe tidak hanya berupa dekorasi. Melainkan suatu pengalaman visual yang memikat.

Sentuhan klasik tersebut diperkuat dengan kehadiran sejumlah unsur dalam ruangan. Seperti ukiran kayu, guci yang elegan, serta lukisan.

Di dalam kafe terdapat ukiran kayu tak hanya berfungsi sebagai elemen dekoratif semata, melainkan juga sebagai sekat ruangan.

Kayu ini dirancang membentuk kotak-kotak khas Cina, yang mencerminkan keindahan tradisional. Tak hanya itu, juga memberikan karakter dan keunikan pada sudut ruangan.

Penggunaan warna merah pada detail kayu tersebut bukan sembarang pilihan. “Merah dalam budaya Cina, dipercaya melambangkan keberuntungan, semangat, dan antusiasme. Sehingga, memberi energi positif dan kehangatan,” ujar perempuan yang akrab dipanggil Tasya ini.

Tasya menjelaskan, pada dinding kafe, penggunaan warna hijau disertai lapisan keramik putih polos setengah dinding memberi dimensi estetika yang menarik.

 

 

Kesinambungan antara hijau dan putih menciptakan kontras yang menyegarkan. Sementara warna putih dari keramik memberi kesan kebersihan yang mencolok.

Penggunaan warna hijau bukan hanya soal estetika, melainkan juga mencakup filosofi kehidupan, vitalitas, dan perdamaian, memberikan nuansa yang sejuk dan menenangkan bagi pengunjung kafe.

“Warna-warna khas oriental seperti merah, kuning, dan hijau diaplikasikan dalam ruangan untuk memperkuat atmosfer vintages yang diinginkan. Kombinasi ini menciptakan keseimbangan visual yang memukau. Menyatukan elemen-elemen tradisional dengan estetika klasik Cina,” ujarnya.

Meski tampak kontras, kata Tasya, penggunaan warna yang berbeda di dalam ruangan seringkali memiliki tujuan yang lebih dalam. Yakni, mencapai keseimbangan yang mencermintakn filosofi Yin dan Yang. (mg/rud)

 

TEMPO DULU: Salah satu sudut ruangan di Kafe Kopitiam dihiasi poster-poster ala Tionghoa tempo dulu. Terlihat juga penyajian kopi yang menggunakan gelas lurik.
TEMPO DULU: Salah satu sudut ruangan di Kafe Kopitiam dihiasi poster-poster ala Tionghoa tempo dulu. Terlihat juga penyajian kopi yang menggunakan gelas lurik.
 

Ciptakan Aura Khas Masa Lalu

GAYA arsitektur klasik Cina dalam Kafe Kopitiam tercermin dari banyak elemen. Serta, diwujudkan melalui sentuhan desain yang lebih mendalam.

Penggunaan desain bulatan, figur naga, koin emas, dan kaligrafi Cina, menjadi langkah kreatif untuk memperkuat nuansa klasik yang diinginkan.

“Detail-detail, seperti penggunaan poster-poster ala Tionghoa tempo dulu menjadi pilihan yang memikat konsumen. Menyajikan nuansa nostalgia yang mewakili sejarah visual Tiongkok,” ujar Anastasia Nadliratul Lail.

Keberadaan patung kucing hoki yang merupakan simbol keberuntungan dalam budaya Tiongkok, menghadirkan suasana tradisional yang harmonis.

Pencahayaan dalam kafe dipelihara dengan kehadiran lampu-lampu gantung kuno. Menciptakan aura yang khas dari masa lalu.

 

 

Penggunaan kipas angin juga tidak hanya berfungsi sebagai alat pendingin ruangan. Melainkan juga memberi sentuhan klasik yang kental seiring dengan gaya arsitektur klasik Cina.

Pemilihan keramik lantai dengan motif batik menjadi langkah cerdas dalam menciptakan konsep ruangan yang mengusung ciri khas tempo dulu.

Motif batik pada lantai memberikan sentuhan seni tradisional yang mendalam. Material interior lainnya, seperti meja, kursi, dan meja bar penyajian didominasi penggunaan kayu, sehingga muncul suasana alam ke dalam kafe.

Selain dari segi interior yang memukau, pengalaman di kafe ini melibatkan seluruh indera. Termasuk cita rasa melalui menu khas Tiongkok yang dihadirkan dengan keistimewaannya tersendiri.

Fokus pada kuliner peranakan menjadi menu andalan pada kafe unik ini. Tak hanya itu, penyajian hidangannya juga mengusung gaya tradisional.

Penggunaan cangkir lurik sebagai wadah penyajian, merupakan pengalaman visual yang menggambarkan tempo dulu nan autentik.

“Semua untuk menunjang kesan gaya klasik Cina pada kafe ini. Jadi, kalau ke sini seperti berasa ke Tiongkok suasananya,” kata pemilik Kafe Kopitiam, Sylvania dan Richard. (mg/rud)

Editor : Ronald Fernando
#desain rumah #kopitiam #interior