FENOMENA cosplay makin digemari generasi milenial. Aksi ini membuat seseorang bisa mengimitasi atau meniru sosok karakter tertentu. Baik dalam game atau anime.
Cosplay merupakan akronim dari costume play. Banyak anak muda yang menyukainya, karena mereka bisa menyerupai karakter favoritnya dalam dunia fantasi. Mereka mengenakan kostum yang mirip dengan karakter yang disukai.
Seperti dilakukan Abidah Murarohah, 19. Ia mengaku, awalnya tidak tertarik dengan budaya Jepang, seperti cosplay ataupun anime. Karena aneh dan terkesan kekanak-kanakan.
Namun, pandangannya berubah 180 derajat setelah berteman dekat dengan seseorang penyuka cosplay pada 2020.
Sang teman sering cerita tentang dunia cosplay, sehingga Indah tertarik. Ia pun mencoba berdandan dengan cosplay.
“Namun, waktu itu aku belum tahu dunia rental, sehingga untuk dapat cosplay menjahit sendiri dengan kain seadanya,” ujarnya.
Karakter pertama yang dicobanya adalah Raiden Shogun dalam game Genshin Impact. Alasannya, karakter wanita dalam game ini memakai kostum berwarna ungu, warna favoritnya. Agar hasil fotonya bagus, gambar jepretannya edit menggunakan smartphone.
Dari sini, Indah mulai menyukai dunia cosplay. Kebetulan ia juga suka mengedit foto ataupun poster.
Melalui cosplay, Indah bisa membuat karya fiksi dengan berdandan ala karakter game atau anime favorit.
Indah mengaku ketika kali pertama mengedit foto saat berdandan ala Raiden Shogun, butuh waktu 12 jam. Hasilnya diposting di Instagram. Dampaknya, pengikut Instagram-nya meningkat signifikan.
“Dari situ malah jatuh cinta sama dunia cosplay. Sampai saat ini kalau edit foto tetap pakai hape,” ujar finalis Yuk Kota Probolinggo 2023 ini.
Rata-rata karakter yang dijadikan cosplay merupakan karakter wanita dengan kostum warna ungu.
Selain Raiden Shogun, ia juga pernah cosplay dengan memakai kostum Kagura dari game Mobile Legends. Ia merasa lebih cocok saat memakai kostum ungu, karena merasa lebih glamor dan elegan.
“Banyak yang mengira saya suka cosplay, karena saya suka anime. Kenyataannya gak paham apapun soal anime. Jarang juga main game,” ujarnya.
Agar bisa memenuhi hobinya, ia rela mengurangi jajan di sekolah. Sisa uang saku ini dikumpulkan untuk menyewa kostum. Perjuangannya terbayar dengan ribuan like yang didapat saat diposting di Instagram.
“Cosplay ini lebih dari hobi. Sebagai pelepas penat dan stres di luar kesibukan hari-hari,” ujar mahasiswi Universitas Terbuka Jember ini.
Ketua Komunitas Cosplay Probolinggo Tsumikaze Naufal, 30, mengaku menyukai cosplay karena menyukai anime. Bukan sekadar hobi, tapi juga untuk ekspresi diri. Meski diakuinya banyak yang mencibir.
Buru Kostum hingga Luar Kota
Tidak mudah mencari kostum untuk kebutuhan cosplay. Cosplayer Probolinggo harus berburu kostum hingga ke luar kota. Sebab, sampai saat ini belum tersedia rental untuk kostum di Probolinggo.
Abidah Murarohah mengaku menyewa kostum untuk cosplay ke kota-kota besar, seperti Jakarta atau Surabaya.
Rata-rata pemilik rental memberikan masa sewa selama tiga hari. Pengiriman dilakukan menggunakan ekspedisi.
Harganya bervariasi dilihat dari detail karakternya. Semakin bagus detail kostumnya, maka harganya semakin mahal.
Apalagi jika karakternya dari anime atau game yang sedang booming. Karakter game lebih mahal karena lebih rumit.
Harga sewa mulai dari Rp 50 ribu. Namun, standarnya antara Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu. Tapi, kalau kostum karakternya memiliki detail yang bagus bisa di atas Rp 300 ribu. Jika rentalnya sudah ternama bisa lebih mahal.
“Kalau karakter anime lebih simpel dari game. Biasanya lebih murah. Kalau mau nyewa harus lampirkan foto KTP,” ujar bungsu dua bersaudara ini.
Warga Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo, ini mengaku beberapa rental meminta uang jaminan.
Saat kostum dikembalikan dalam kondisi baik, uang jaminan ini dikembalikan. Kalau sampai rusak tentu akan di-black list dari rental.
Ketua Komunitas Cosplay Probolinggo Tsumikaze Naufal mengatakan, pemenuhan kostum di Probolinggo memang minim.
Anggota Tsumikaze selalu menyewa dari luar kota. Meski mengeluarkan uang yang tidak sedikit, Naufal mengaku puas karena bisa menyalurkan hobi.
Untuk satu event yang diikutkan, anggota bisa mengeluarkan uang hingga ratusan ribu rupiah.
Selain sewa kostum, mereka juga harus berdandan layaknya karakter itu. Ada salah satu anggota yang membantu untuk membuat make up-nya.
“Sering ikut event. Terakhir di Lumajang. Walau sering kalah, tetap senang karena cosplay itu bagian dari diri,” ujarnya. (riz/rud)
Editor : Jawanto Arifin