Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Joglo juga Kerap Menjadi Simbol Status Sosial

Inneke Agustin • Minggu, 5 November 2023 | 23:05 WIB
MODEL LAWAS: Pendopo Prasaja Ngesti Wibawa Kabupaten Probolinggo di Jalan Ahmad Yani, Kota Probolinggo, yang memiliki gaya arsitektur Joglo.
MODEL LAWAS: Pendopo Prasaja Ngesti Wibawa Kabupaten Probolinggo di Jalan Ahmad Yani, Kota Probolinggo, yang memiliki gaya arsitektur Joglo.

SECARA umum, rumah joglo terdiri dari tiga bagian utama. Yakni, pendopo (bagian depan), pringitan (bagian tengah), dan dalem (ruang utama).

Meski demikian, ketika dirinci struktur bangunan joglo, maka akan ditemukan banyak elemen yang membentuknya.

Pendopo merupakan bagian awal dari rumah joglo. Digunakan untuk menerima tamu, mengadakan pertemuan formal, upacara adat, dan lain sebagainya.

Pendopo biasanya tidak memiliki dinding. Ini untuk mencerminkan sifat orang Jawa yang ramah dan terbuka.

Alumni Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Jurusan Arsitektur, Rizka Amalia, 29, mengatakan, bagian rumah joglo yang satu ini memiliki sirkulasi udara yang baik.

“Selain banyak bukaan, biasanya atapnya tinggi. Jadi, sirkulasi udaranya pasti bagus,” ujar warga Kelurahan Sumbertaman, Kota Probolinggo ini.

Pringitan merupakan penghubung antara pendopo dan dalem.

Sering berbentuk lorong yang menghubungkan bagian-bagian rumah.

Lalu, terdapat emperan sebagai tempat menerima tamu dan sering dilengkapi meja dan kursi.

Dalam budaya Jawa, emperan menunjukkan pentingnya rasa kekeluargaan. Juga dapat menjadi tempat bersantai bersama keluarga dan tetangga.

Setelah emperan, ada omah atau rumah yang digunakan sebagai tempat tinggal.

Bagian ini memiliki lantai yang luas dan lebih tinggi daripada bagian lainnya.

Selanjutnya ada dalem, yaitu ruang tertutup di dalam rumah.

Dilanjut senthong yang merupakan ruangan belakang rumah.

Selanjutnya, ada gandhok. Yaitu, bangunan yang berfungsi sebagai ruang tidur tamu.

Baru di bagian belakang rumah terdapat ruang dapur, kamar mandi, dan sumur.

Alumni Teknik Arsitektur Universitas Gajah Mada, Dany Dwi Setyono mengatakan, selain susunan ruang yang baku, rumah joglo juga didominasi bahan kayu. “Biasanya menggunakan kayu jati,” katanya.

Karena didominasi kayu jati yang terkenal sebagai jenis kayu yang memiliki nilai tinggi, dahulu rumah joglo menjadi lambang status sosial.

Hanya individu dengan sumber keuangan yang melimpah yang mampu membangunnya.

Sementara, kayu jati dipilih karena memiliki kemampuan untuk meredam getaran gempa bumi.

Membuatnya ideal untuk wilayah yang rawan gempa seperti Jawa Tengah. (mg/rud)

Editor : Jawanto Arifin
#desain rumah #joglo