DALAM dunia arsitektur, gaya arsitektur joglo telah menjadi sesuatu yang banyak dikenal.
Pada dasarnya, joglo merupakan rumah adat tradisional yang berasal dari Jawa Tengah dan Jogjakarta.
Namun, model bangunan kaya filosofi ini telah menyebar luas. Ke sejumlah daerah di Indonesia.
Secara etimologi, kata joglo berasal dari kata "tajug" dan "loro." Tajug mengacu pada atap berbentuk piramida dengan puncak datar, sementara loro berarti dua.
Jadi, ketika digabungkan menggambarkan dua piramida atau gunung.
Dalam filosofi Jawa, gunung dianggap sebagai tempat suci yang tinggi. Serta, erat kaitannya dengan kediaman para dewa.
Konsep filosofi ini tercermin dalam desain atap joglo yang menyerupai bentuk gunung dengan puncak datar. Atapnya memiliki bentuk trapesium dan bertingkat-tingkat.
Atap tertinggi dalam desain bangunan joglo disebut atap brunjung dengan kemiringan yang sangat curam.
Di bawahnya, terdapat atap yang lebih landai yang disebut atap penanggap.
Namun, dalam bangunan joglo yang lebih besar seringkali terdapat susunan atap tambahan di bawah atap penanggap yang disebut atap penitih.
Selain itu, terdapat juga atap peningrat dan emper atau tratag dalam desain ini.
Alumni Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Jurusan Arsitektur, Rizka Amalia, 29, mengatakan, gaya joglo termasuk arsitektur nusantara.
Selain atap, ciri khas joglo adalah memiliki empat pilar yang merepresentasikan kekuatan dari keempat arah mata angin. Yakni, timur, selatan, barat, dan utara.
“Pilar-pilar itu disebut saka guru. Filosofinya yaitu mendapat keselamatan dari segala arah saat terjadinya bencana,” katanya.
Saka guru kemudian dihubungkan dengan sunduk. Ada suduk pamanjangan dan sunduk panyelak.
Di atasnya dipasang blandar pamidhangan penyelak. Dilanjutkan dengan susunan balok kayu yang membentuk piramida terbalik yang disebut tumpang sari.
Susunan balok inilah yang disangga saka guru. Baru kemudian menyangga atap joglo dan dudur (jurai) yang ada di keempat sudut atap nantinya.
Rizka mengatakan, desain joglo juga kental dengan ukirannya. Joglo sering dihiasi ukiran berbagai motif yang memiliki makna khusus.
Ada motif flora, seperti saton, wajikan, nanasan, tlacapan, kebenan, patron, dan padma.
Selain itu, terdapat juga motif fauna, seperti kemamang, peksi garuda, ular naga, jago, dan mirong.
Motif alam juga sering digunakan, seperti gunungan, makutha, praba, kepetan, panah, mega mendhung, dan banyu tetes.
“Tapi paling umum adalah lung-lungan. Itu gambar tumbuhan muda merambat. Melambangkan ketentraman dan ketenangan,” jelasnya. (mg/rud)
Editor : Jawanto Arifin