Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Rumah Gaya Klasik Warga Probolinggo Ini Hadirkan Kesan Luxury

Inneke Agustin • Minggu, 15 Oktober 2023 | 23:35 WIB
KLASIK: Sebuah hunian bergaya klasik di Kelurahan Mangunharjo, Kota Probolinggo, yang menghadirkan kesan luxury sebuah hunian.
KLASIK: Sebuah hunian bergaya klasik di Kelurahan Mangunharjo, Kota Probolinggo, yang menghadirkan kesan luxury sebuah hunian.

GAYA rumah klasik tetap eksis meski model rumah modern dan minimalis kini kian mendominasi. Rumah gaya klasik tetap menjadi primadona. Terutama bagi kalangan borjuis. Gaya ini dinilai timeless, menarik, serta memberi kesan kuat dan kokoh. Desainnya mampu memancarkan nilai luxury atau mewah dari sebuah bangunan.

Ditarik jauh ke belakang, gaya rumah klasik mengusung ciri khas dari bangunan kuno di masa Romawi dan Yunani. Sejumlah bangunan, seperti Kuil Athena Nike, Stoa of Attalos, hingga Marcello Theater menjadi inspirasi gaya ini.

Mahasiswi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Jurusan Arsitektur Anastasia Nadliratul Lail mengatakan, ada beberapa ciri khas hunian bernuansa klasik. Di antaranya, adanya pilar yang menjulang, terdapat bentuk lengkungan di atas pintu, hingga menggunakan atap berbentuk kubah.

Pilar merupakan tiang vertikal yang mendukung struktur bangunan dan seringkali menjadi elemen dekoratif. Pilar-pilar pada rumah gaya klasik sering berbentuk silindris atau persegi dengan ornamen yang menghiasi bagian atas dan bawahnya. Pilar ini sering ditempatkan di depan bangunan sebagai bagian dari fasad, memberikan kesan kekuatan dan elegansi.

Ada juga pedimen. Yakni, elemen segitiga atau setengah lingkaran yang berada di atas bangunan, seringkali di atas pintu masuk atau jendela. Pedimen digunakan untuk memberikan fokus visual dan estetika tambahan pada fasad. Mereka sering dihiasi dengan ukiran, relief, atau patung. Pedimen adalah salah satu ciri khas gaya klasik dan memberikan kesan monumental pada bangunan.

MEWAH: Hunian dengan model klasik memiliki ciri khas tersendiri. Salah satunya memiliki tiang yang menonjol dan menjulang serta ornamen ukiran yang terlihat mewah.
MEWAH: Hunian dengan model klasik memiliki ciri khas tersendiri. Salah satunya memiliki tiang yang menonjol dan menjulang serta ornamen ukiran yang terlihat mewah.

“Bukan itu saja. Penggunaan material eksklusif, seperti marmer juga merupakan ciri khas di hunian klasik. Penggunaan ukiran-ukiran yang cukup rumit biasanya juga banyak menghiasi dinding-dinding rumah ataupun pada pilarnya,” ujar perempuan yang akrab disapa Tasya ini.

Terkait palet warna pada hunian bernuansa klasik didominasi warna seperti putih, krem, ivory, ataupun beige. “Biasanya dominan putih. Ini untuk memberi kesan elegan. Bila ingin menggunakan warna lain, seperti coklat juga bisa. Tapi, disarankan pakai warna coklat yang soft. Jadi kesan mewahnya tetap dapat. Kombinasi warna lainnya bisa dengan coklat tua atau warna merah bata,” jelasnya.

 

Butuh Sentuhan Seni dan Budget Tinggi

Gaya klasik dalam arsitektur sering dikaitkan dengan elegansi, kemegahan, dan keindahan. Namun, tidak bisa disangkal, bahwa gaya klasik cenderung lebih cocok bagi mereka yang memiliki kemampuan finansial lebih besar. Seperti kaum borjuis atau kelas atas.

Ada beberapa faktor yang mendasari pendapat ini. Di antaranya, luas lahan, tingkat kompleksitas, biaya pembangunan yang tinggi, dan perawatan yang tergolong rumit.

Hal ini juga disampaikan alumnus S-1 Teknik Sipil Universitas Yudharta Pasuruan, Husni Mubarok, 27. Ia mengatakan, rumah gaya klasik lebih cocok diterapkan pada bangunan yang memiliki luasan besar.

“Kurang cocok bila luasannya minimalis. Minimal lahannya melebar, sehingga penggunaan pilarnya bisa mencolok. Kalau sempit atau lahannya memanjang ke belakang, kurang bagus. Pilarnya jadi tampak berdempetan. Sementara pilar dalam desain ini menjadi poin utama,” katanya.

Kompleksitas gaya klasik juga tinggi, seperti penggunaan pilar-pilar besar, ornamen-ornamen rumit, hingga detail arsitektur yang memerlukan keahlian tinggi. Ini membuat gaya klasik tak hanya butuh sebuah seni, namun juga budget yang tinggi untuk merealisasikannya.

Husni mengatakan, pilar-pilar tersebut minimal harus memiliki tulangan di dalamnya. “Tetap pakai tulangan untuk menguatkannya. Pemilihan jenis fondasi juga harus tepat. Bisa menggunakan footplat atau strauss pile dengan kedalaman sekitar 2 meter sudah cukup. Ukuran maupun kedalamannya tergantung dari fungsi struktur bangunan di atasnya. Misalnya, hanya atap atau balkon atau kamar tidur,” ujarnya.

Biaya pembangunan hunian gaya klasik, kata Husni, biasanya banyak diserap ketika proses finishing. “Di proses finishing untuk detailing ornamen, misalnya. Baik itu di tembok atau furniture untuk interior. Pastinya pengerjaannya butuh waktu yang tidak singkat serta tenaga ahli. Itu semua berpengaruh pada biaya pembangunan juga,” katanya.

Meski begitu, ketika pembangunan rumah gaya klasik telah rampung, hasilnya seringkali luar biasa. Fasad bangunan dengan pilar-pilar kokoh, pedimen yang mengesankan, dan ornamen-ornamen indah menciptkan tampilan yang mengagumkan.

Tak heran bila kesan mewah ini membawa prestise tersendiri bagi penghuninya. Semua upaya dan biaya yang telah diinvestasikan selama proses pembangunan akan terbayar ketika penghuni dapat menikmati keindahan dan kemewahannya.

Pemilik sebuah rumah bergaya klasik di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, Diyan Mei Ikawati mengaku, menyukai desain rumah bergaya klasik. “Memang dulu permintaan kami pada arsiteknya untuk mendesain hunian ini dengan gaya klasik, sehingga menonjolkan kesan mewahnya,” katanya.

Banyaknya ornamen pada hunian klasik membuat perawatannya tergolong rumit. Pembersihan, perbaikan, dan pemeliharaan harus dilakukan dengan cermat. Tujunnya, untuk memastikan bahwa keindahan dan integritas bangunan tetap terjaga. Semua ini memerlukan waktu dan sumber daya tersendiri.

Namun, Diyan mengaku tak kesulitan dalam mengurus rumahnya. “Memang risiko, sebab desainnya banyak ornamen. Tapi, kami juga rutin membersihkannya. Pemeliharaannya ada yang bersifat mingguan, bulanan, atau bahkan tahunan. Kalau mingguan mungkin ya sekadar dibersihkan debu-debunya. Kalau tahunan biasanya kami cat ulang,” jelasnya. (mg/rud)

Editor : Jawanto Arifin
#desain rumah #rumah klasik