KENDARAAN dua roda, khususnya motor dengan mesin dua tak kembali naik daun. Meski sempat dipandang sebelah mata, karena terkenal punya knalpot brisik, boros bahan bakar, dan membutuhkan oli samping, kini banyak yang memburu. Terutama kolektor.
Motor dua sempat meredup. Salah satu alasan paling banyak, karena boros. Baik dalam konsumsi bahan bakar minyak maupun oli samping. Namun, kini mulai banyak dicari. Terutama para kolektor.
Contohnya, RX King Cobra. Motor ini memiliki pamor sebagai motor strata tinggi di kelas RX King. Motor buatan Jepang ini mempunyai silinder 135CC yang dikenal sebagai jet darat oleh anak muda zaman ini.
Dulu, kuda besi ini dikenal sebagai motor jambret, karena tarikan yang mumpuni saat dijalanan. Mampu melesat dengan kecepatan 140 kilomter per jam dengan tenaga maksimal 18,2 hp dan maksimal torsi 15,1 Nm pada putaran 9000rpm.
Ada sejumlah mesin RX King yang banyak dicari. Termasuk bagian blok. Salah satunya dengan kode Y. Keluaran 1983 sampai 1998. Blok mesin ini masih billup. Rakitan Jepang. Blok dengan seri Y masih tahan panas dan tebal dibanding keluaran yang lebih baru.
Salah seorang pengurus Paguyupan King Cobra Pasuruan (PKCP) Firmanyah, 29, mengaku mengenal RX King pada 2010. Kala itu, ia sering menunggani motor milik orang tuanya.
Ia mengaku tetap menyukai RX King. Anggota PKCP Pasuruan, terus bertambah. Kini mencapai lebih dari 50 orang. Mereka sering berkumpul ketika malem minggu.
“Kami sering kumpul di depan Senkuko pukul 10 malam. Di situ kami bersilaturahmi. Ngomong ngalor-ngidul mencari onderdil motor untuk berbenah. Persaudaraan kami sangat kuat,” ujarnya.
Ketua PKCP Siswanto, 47, mengatakan, motor dua tak, Rx King, semakin lama, semakin mahal. Beda dengan motor lain. Katanya, motor dua tak pabriknya sudah tutup. Sudah tidak berproduksi lagi. “Kalau motor empat tak kan banyak dealernya,” ujarnya.
Peminat RX King berasal dari seluruh golongan dan kalangan. Mulai dari yang masih dudu di bangku sekolah sampai yang sudah sepuh.
“Sebagai penikmat motor tua, juga ada susahnya. Kelemahan motor tua itu, di sparepart. Kalau ada yang trouble, mungkin bisa diakalin sedikit lah, tapi kalau sudah ada yang diganti, itu lho yang susah. Soalnya di bengkel terdekat stok sparepart belum mesti ada. Kami sudah biasa pergi sampai ke luar kota hanya untuk dapat karbu orisinilnya,” katanya. (and/rud)
Editor : Jawanto Arifin