PEMINAT gowes makin banyak. Sepeda yang dikendarai juga dari beragam jenis. Entah itu road bike, MTB, BMX, low rider, dan masih banyak lainnya. Dari beberapa jenis itu, yang peminatnya tetap banyak adalah sepeda ontel. Orang menyebutnya sepeda kuno.
Penggemar sepeda ontel umumnya menyukainya karena klasik. Bentuknya seperti yang banyak dipakai pejuang atau guru-guru zaman dahulu. Hanya satu gir depan dan belakang tanpa bisa dipindah.
Penggemar sepeda ontel di Pasuruan, juga banyak. Komunitasnya juga beragam. Sebut saja ada Komunitas Ontel Masyarakat Kota dan Kabupaten (KOMPAK) dan Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI). Penggemar sepeda ini juga sering ditemui karena kerap menggelar acara.
Salah satu pengurus KOMPAK adalah Eko Setyo, 42. Dia menjadi penasihat di komunitas yang memiliki ratusan anggota ini. “Anggota terus bertambah, khususnya di Kota Pasuruan. Mungkin dengan sepeda ontel, jiwa nasionalisme semakin tumbuh,” ujar seorang Pegawai Negeri Sipil di Pemkot Pasuruan ini.
Sebagai penggemar, Eko Setyo mengaku, tak masalah bila ontel sering disebut sepeda kuno. Baginya, mengendarai ontel serasa flashback ke masa lalu. Alasan inilah yang membuatnya menyukai ontel sejak 2006. Kini ia memiliki puluhan ontel.
“Saya senang dan hobi dengan ontel. Selama ini sering dipakai jika ada waktu longgar, sendiri ataupun bersama teman-teman komunitas. Yang penting bisa ngumpul dan menambah saudara,” bebernya.
Bukan hanya kumpul di komunitas Pasuruan, kata Eko, komunitas sepeda ini juga banyak di Indonesia. Kekompakkannya juga kuat. Bahkan, bisa menjadi ladang rezeki. Entah itu berjualan part atau menemukan koleksi yang terbilang langka. Jika sudah sepakat, maka kolektor rela mengeluarkan duit banyak. “Bisa jadi koleksi dan investasi Semakin tua dan langka, semakin mahal pula harganya,” jelasnya.
Suatu ketika, Eko mengaku pernah memenangkan kontes ontel pada acara ulang tahun ke-60 SMK PGRI 1 di tingkat Jawa Timur. Saat itu, ia mengikuti lomba dan membawa ontel bermerek Kongres CCG 60. Sepeda keluaran tahun 1929 itu semuanya masih original. Sepeda itu akhirnya menang dan kini harganya bisa dibandrol puluhan juta rupiah.
Di rumahnya, kini ada 57 ontel. Jangan ditanya harganya. Dari yang senilai Rp 2,5 juta sampai Rp 30 juta, ada. “Mereknya beragam. Ada Simplex, Gazelle, Bugeres, dan Willis,” beber Eko.
Bukan hanya sepeda yang biasanya menjadi daya tarik. Aksesoris yang terpasang juga menambah nilainya. Mulai dari tas, lampu, sadel, bel dan lainnya.
Ketika komunitas ini berkumpul, tak sedikit pemiliknya yang memakai aksesoris serba lengkap. Plus kostum ala pejuang veteran. Nyentrik dan antik. Bagi penggemarnya, inilah yang menjadi pembeda dari komunitas sepeda ontel.
Achmadi, 70, penasihat KOMPAK menambahkan, penggemar ontel bukan hanya kaum lanjut usia, seperti dirinya. Belakangan, pemuda bahkan remaja, banyak yang bergabung. Karena mereka benar-benar senang dengan sepeda kebo. Ada pula yang memang senang karena komunitas ini begitu kuat.
“Saya sendiri mulai mainan sepeda ontel mulai 2003. Berarti sudah 20 tahun, tapi gak ada bosannya. Karena menurut saya, ontel bisa merasakan nostalgia sembari melanjutkan sarana transportasi tempo dulu. Mengingat zaman nenek moyang. Badan sehat dan bisa kumpul sesama penggemar adalah nilai lain yang bisa kami dapatkan,” ujar Achmadi. (and/rud)
Editor : Ronald Fernando