Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Geliat Tari Tradisional Gaet Generasi Milenial

Fuad Alyzen • Minggu, 9 Juli 2023 | 23:50 WIB

 

TRADISIONAL: Sejumlah pemudi menampilkan tarian Sekar Gadung, beberapa waktu lalu. Banyak generasi muda yang tergerak untuk tetap melestarikannya.
TRADISIONAL: Sejumlah pemudi menampilkan tarian Sekar Gadung, beberapa waktu lalu. Banyak generasi muda yang tergerak untuk tetap melestarikannya.

MENJAGA kearifan lokal dapat dilakukan dengan beragam cara. Salah satunya dengan tarian khas yang mengangkat budaya asli daerah. Seperti dilakukan sejumlah muda-mudi Kota Pasuruan, mengabadikan nama desa dengan tarian, Sekar Gadung.

Banyak jenis tari yang menjunjung tinggi budaya daerah di Indonesia. Mulai tinggal lokal maupun nasional. Termasuk di Kota Pasuruan. Salah satunya Tari Sekar Gadung.

Sekargadung merupakan sebuah nama kelurahan di Kota Pasuruan. Sejak puluhan tahun lalu, di kelurahan ini muncul tarian Sekar Gadung. Sejauh ini tetap lestari. Diminati beragam kalangan, termasuk kaum milenial.

Salah seorang penari sekaligus pelatihnya adalah Ferryan Mirza, 24. Tarian ini sudah lama digandrungi masyarakat. Sejak sekitar 1981. Serta, menjadi ciri khas tarian di Kelurahan Sekargadung.

Tarian ini menceritakan tentang asal-usul nama desa yang diambil dari nama buah yang populer di Pasuruan. Yakni, mangga gadung. Sedangkan, sekar berarti bunga. Dua kata ini dirangkai menjadi mana tarian, Sekar Gadung.

Tari Sekar Gadung merupakan sebuah karya yang menginterpretasikan tentang harapan dan semangat baru. Yang tidak hanya dikenang, namun juga dilestarikan.

Pemuda asal Kelurahan Sekargadung, Kota Pasuruan, ini mengatakan, karya ini mengangkat kearifan lokal di Pasuruan. Seperti sejarah nama desa maupun tokoh, legenda, dan makanan khas. “Jadi, lebih ke tradisional dalam mengangkat kearifan lokal asli Pasuruan,” ujarnya.

Meski mengangkat kearifan lokal tradisioanl, kata Ferryan, karya ini banyak diminati pemuda-pemudi Kota Pasuruan. Bahkan, kini banyak muda-mudi yang juga menjadi pelatih. “Artinya tarian ini berregenerasi. Tidak meredup. Kearifan lokalnya akan hidup sampai masa depan nanti,” katanya, optomistis.

Ia mengatakan, sanggarnya rutin menggelar latihan tari. Sejak puluhan tahun lalu terus eksis. Termasuk ketika memasuki zaman millenial seperti saat ini.
“Semoga bertahan sampai kelak, dan anak cucu tetap melestarikannya,” harapnya. (zen/rud)

Editor : Jawanto Arifin
#tari tradisional #generasi milenial