Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Catur Jalanan, Mengasah Taktik sekaligus Mencegah Pikun

Ronald Fernando • Minggu, 2 Juli 2023 | 15:16 WIB
SERIUS: Pemain catur di Pasaringin di Kelurahan Pohjentrek, Kecamatan Purworejo. Bermain catur tidak hanya mengasah skill, tetapi juga bisa menambah relasi dan menjadi profesional.
SERIUS: Pemain catur di Pasaringin di Kelurahan Pohjentrek, Kecamatan Purworejo. Bermain catur tidak hanya mengasah skill, tetapi juga bisa menambah relasi dan menjadi profesional.

CATUR memang menjadi bagian dari cabang olahraga. Tetapi, penggemarnya bukan hanya atlet. Bagi penyukanya, permainan asal India dari abad ketujuh ini menganggap catur bukan hanya adu skill. Hanya main untuk sekadar menang. Banyak manfaat yang bisa diperoleh.

Suasana Pasar Kebonagung, Kota Pasuruan, saat Jumat (30/6) siang, tidak terlalu ramai. Orang-orang baru saja menunaikan ibadah salat Jumat. Warung-warung kopi di sisi barat juga belum semuanya buka.

Tetapi, itu tak menyurutkan Irul, 35 dan Endi, 36. Dua warga Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, ini sudah membuat janji. Begitu tiba di warung kopi (warkop), mereka langsung mengambil papan catur yang memang disediakan di salah satu warkop. Tanpa berlama-lama, mereka langsung menyusun bidak catur. Beradu taktik.

Tak berselang lama, pengunjung lain berdatangan. Mereka juga sama. Mengambil papan catur dan bermain. Sesekali pengunjung yang lain menjadi penonton dan ikut menikmati permainan dari pengunjung. Inilah permainan catur jalanan yang sampai saat ini masih bertahan di Kota Pasuruan.

“Kadang janjian dengan teman. Tetapi, seringkali berangkat sendiri dan bertemu dengan lawan yang kebanyakan pengunjung warkop. Bahkan, bermain dengan pengunjung yang belum dikenal lalu menjadi kawan, itu adalah hal yang lumrah,” beber Endi.

Seorang wiraswasta ini mengaku, bermain catur jalanan seperti di Pasar Kebonagung, sebuah kegiatan positif. Selain memang menyukai catur sejak masih kecil, Endi mengaku bermain catur bisa menambah kawan.

“Saat ini memang banyak game catur di HP (handphone) dan melawan komputer atau online. Tetapi, dengan bermain langsung seperti tatap muka seperti di tempat ini, kita bisa menambah relasi,” beber Endi.

Hal senada diungkapkan Bagyo, 55, warga Kecamatan Purutrejo. Karyawan sebuah perusahaan ini sudah sejak muda kerap bermain catur. Bisa pagi, siang, atau malam. “Jika libur kerja, saya lebih suka bermain. Sesekali mengikuti lomba. Untuk mengasah skill dan bisa memperlambat pikun. Apalagi di usia-usia seperti saya,” bebernya.

Dengan bermain catur, Bagyo meyakini, otak pasti dipaksa berpikir. Apalagi jika menemui lawan yang sepadan. “Maunya harus menang terus. Ada emosi jika kalah dan senang bila menang. Inilah seninya catur jalanan. Tidak ada peringkat, tetapi kita saling kenal walaupun kadang-kadang hanya kenal wajah,” katanya.

Bagi kalangan penyuka catur jalanan alias chess street, mereka rela berlama-lama di depan papan catur. Permainan ini bisa membuat penyukanya lupa waktu. Tetapi, lebih bisa dikontrol ketimbang beradu di HP. “Patokannya, kalau duduk sudah tidak nyaman, maka tandanya harus pulang. Selain itu, jika ditelepon istri. He…he…he…,” kata Irul diamini Endi.

 

Juga Bisa Melahirkan Atlet

Selain di Pasar Kebonagung, ada lokasi lain yang menjadi “markas” bagi penggemar chess street di Kota Pasuruan. Di antaranya, warung Pasaringin di Kelurahan Pohjentrek, warung di Jalan Hasanudin dan Simpang Tiga Kumala. Hampir setiap hari di lokasi-lokasi itu ramai penggemar catur. Rata-rata mereka menjadikan catur sebagai hiburan.

Jangan diharap tempat-tempat berkumpul ini elite. Sebagian besar usahanya utamanya warung kopi (warkop). Di Pasaringin misalnya, catur yang disediakan bukan dari papan. Melainkan meja yang dilapisi alas bermodel kotak hitam putih, sesuai papan catur. Pemainnya cukup mengambil bidak catur yang sudah disediakan pemilik warung.

Biasanya, pemain catur jalanan ini memainkan dua jenis. Pertama, catur konvensional atau klasik. Namun, ada pula yang sistem chess lock alias memakai waktu bak catur profesional. “Apapun jenisnya, sama-sama seru. Sama-sama mengasah otak,” ujar Agung Priyanto, 60, ketika ditemui Jawa Pos Radar Bromo di Pasaringin.

Agung mengatakan, meski disebut catur jalanan, banyak pemain yang kelasnya seperti grand master saat berlomba. Tilik saja saat seseorang bermain chess lock.

“Mereka harus adu cepat untuk melangkahkan bidak caturnya. Apabila waktu salah satu pemain habis, maka dialah yang kalah dalam bermain meski posisi serang dan bidak caturnya lebih banyak,” beber pria yang pernah menjadi pengurus Percasi Kota Pasuruan cabang Kota Pasuruan di tahun 2017-2021 ini.

Terlebih orang seperti dirinya. Ia begitu menikmati catur jalanan. Karena setelah pensiun dari tempat bekerjanya, Agung punya banyak waktu luang.

“Biasanya di Pasaringin, juga ada lomba resmi yang dibiayai donatur atau sponsor. Bukan hanya mengejar hadiah semata. Tapi, lomba bisa menghilangkan penat dan bisa memotivasi diri sendiri,” bebernya.

Tak sedikit para pemain catur jalanan ini mengajak anak-anaknya. Akhirnya, sang anak juga menyukai catur hingga kemudian menjadi atlet. (and/rud)

Editor : Ronald Fernando
#catur jalanan #Main Catur