Belly Dance identik dengan kostum terbuka. Memperlihatkan bagian perut. Namun, tak sedikit kaum Hawa yang menggandrunginya. Salah satu alasannya, tarian ini penuh teknik untuk menjaga kebugaran tubuh.
Kostum dari tarian ini begitu terbuka. Hanya menutup bagian payudara dan kemaluan. Pastinya akan mengundang pro-kontra jika ditampilkan di tempat umum. Begitu juga dengan gaya tariannya yang menggerakan bagian pinggang wanita.
Di Kota Pasuruan, tak sedikit perempuan yang menyukainya. Sejauh ini, tercatat ada 300 kaum Hawa. Mereka yang selama ini sering berlatih tari perut kepada pelatih belly dance asal Kelurahan Petamanan, Kota Pasuruan, Ayuniar Santi.
Perempuan yang lahir di Kota Kudus, Jawa Tengah, ini mengatakan, kostum tarian belly dance memang terkesan vulgar. Namun, itu bisa dilakukan dengan gaya islami. Yakni, kostum yang menutup aurat. “Bisa dilakukan gaya islami sesuai kemauan penari,” ujarnya.
Tarian ini bukan semata-mata menari. Juga berbeda dengan tarian khas nusantara. Teknik tarian ini sebenarnya lebih menekankan terhadap penyegaran tubuh. Seperti olahraga atau senam.
Setiap gerakan tarian ini ada manfaatnya masing-masing. Karenanya, banyak digemari perempuan. Terutama bagi wanita yang kurang percaya diri terhadap tubuhnya yang gendut. Terlebih perut yang buncit.
Dengan tarian ini, kata Ayuniar, permasalahan itu bisa dipecahkan. Tarian ini bisa menyeimbangkan tubuh, menambahkan kekuatan, dan melancarkan pecernaan. “Ini yang membuat banyak peminat,” ujar perempuan 46 tahun ini.
Manfaat tarian ini, kata Ayuniar, sangat besar bagi kesehatan tubuh. Siapa saja yang rutin berlatih, kemungkinan besar akan memiliki tubuh yang ideal. “Intinya bukan pada mengundang syahwat para pria atau apapun. Yang lebih utama adalah manfaat pada tarian ini,” jelasnya.
------------------------------------------------------------------------------------------------
Sediakan Tempat Berlatih
Ayuniar Santi mulai belajar belly dance sejak 2004 di Jakarta. Ia menempuh pendidikan menari di sana. Saat itu menggeluti senam aerobik.
Bertahun-tahun berlatih, Ayuniar terus mengembangkan bakatnya. Tak hanya satu jenis senam, ia juga mempelajari beragam jenis senam dan tarian. Namun, kini fokus terhadap aerobik dan bally dance. “Dua jenis tari ini yang paling saya sukai. Yang lainnya hanya suka saja,” katanya.
Ayuniar pun mengembangkan bally dance di sejumlah kota. Membuka sejumlah studio. Menyediakan pelatihan bagi warga yang hendak mencoba tari perut.
Kini, pengikutnya mencapai ratusan orang. Menyerbar di sejumlah kota dan kabupaten di Jawa Timur. “Akhir-akhir ini banyak yang belajar tarian ini ke sini (Kota Pasuruan). Dari Malang kemudian membentuk komunitas. Banyuwangi, Probolinggo, dan banyak kota-kota lainnya,” ujarnya.
Ayuniar juga ketiban berkah dari keahliannya ini. Sering memenangkan lomba tari di berbagai ajang bergengsi. Baik tinggal lokal sampai nasional, bahkan di luar negeri. (zen/rud) Editor : Ronald Fernando