-----------------------------------------------------------------------------------------------------
PEMAKAI atau kolektor snapback tidak terlepas atau identik dengan genre musik hip hop atau rap. Juga olahraga basket dan baseball. Namun, kini menyasar semua kalangan. Termasuk muda-mudi di Pasuruan.
“Topi jenis ini masuk Indonesia dan mulai marak pada awal tahun 1990-an. Waktu itu sering dipakai oleh penyanyi rap ternama tanah air. Seperti Iwa K dan Denada,” ujar salah seorang kolektor topi snapback asal Desa Kemirisewu, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Moh. Sueb, 37.
Topi ini, ciri-cirinya bagian depan visor lurus. Kemudian, pemakaian di kepala agak dalam atau ambles. Di bagian belakang bebas, ada setelan atau tidak.
Ebbe –panggilan Moh. Sueb,- mengaku menyukai topi jenis ini sejak masuk duduk di bangku SMP. Seiring dengan kecintaannya terhadap musik rap atau hip hop.
Ia juga sempat menjadi musisi rap lokal di Kabupaten Pasuruan, sehingga koleksi topi snapback-nya cukup banyak. Mencapai puluhan. “Bahan bakunya kebanyakan dari wool dan polyester. Mereknya beragam. Pastinya dipakai terasa nyaman,” katanya, tersenyum.
Jika dilihat dari kualitas dan harga, kata Ebe, produk lokal cukup murah. Berkisar antara Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu. Yang premium atau menyerupai aslinya dan bukan produk local, berkisar antara Rp 150 ribu sampai Rp 500 ribu. Produk ini juga disebut KW buatan luar negeri.
Yang orisinal, lumayan mahal. Harganya mulai Rp 500 ribu hingga jutaan rupiah. Bahkan ada yang edisi khusus. “Punya saya ada puluhan. Saya memilih yang orisinal. Belinya langsung ke store resmi di mal. Juga ada yang via online,” ujarnya.
Warnanya beragam. Begitu juga dengan motifnya. Di bagian depan selalu ada logo dari merek atau tulisan dan lambang tertentu. Ada yang dibordir, ada juga yang disablon. “Bahkan, berbahan metal pun ada,” katanya.
Di bagian samping dan belakang, biasanya ada logo dari merek. Tapi, tidak semuanya ada. Karena, untuk logo merek, di bagian dalam topi sudah pasti ada. Di bagian atas, sama dengan topi pada umumnya. Ada pentul yang sekaligus menjadi ciri khas topi.
“Selain nyaman dipakai, juga stylist. Penampilan terlihat tambah gaul dan sporty, serta lebih percaya diri. Saya pakai untuk harian. Baik untuk kerja, jalan-jalan, berwisata, dan lain-lain,” katanya.
Siapkan Lemari Khusus
PENYIMPANAN koleksi topi snapback juga perlu diperhatikan agar lebih awet. Lebih baik penyimpanannya disimpan di lemari khusus topi. Berada di lemari khusus sudah cukup, meski tidak dibungkus plastic.
“Ini lebih awet buat topi snapback, jadi tidak asal taruh setelah memakai atau setelah dicuci. Hindari penyimpanan di ruangan lembab, biar tidak berjamur,” ujar Moh. Sueb.
Perawatan yang juga perlu diperhatikan ketika mencuci. Sama seperti topi pada umumnya, ketika mencuci cukup menggunakan spon dan cairan khusus topi. Supaya lebih awet dan warnanya tidak cepat kusam, hindari pemakaian sikat saat mencuci. Karena lama-lama dapat merusak topi. “Paling sering saya cuci sendiri di rumah. Kadang juga dicucikan ke laundry khusus topi,” katanya. (zal/rud) Editor : Ronald Fernando