Grup musik yang dibentuk Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf ini sudah melanglang buana di Indonesia. Selama satu dekade, Padhang Howo masih eksis dan produktif. Beberapa kali menghibur dan mengiringi musisi penting.
Seperti belum lama ini, misalnya di momen Hari Jadi Kabupaten Probolinggo. Padhang Howo begitu apik berkolaborasi dengan Mustafa Debu. Padhang Howo yang tampil dengan kombinasi alat musik akustik dan elektrik, mampu mengiringi Mustafa dan menghibur penonton.
Kesamaan bernada adalah kunci sukses Padhang Howo bisa membius penonton. “Inilah yang kami alami selama tampil di beberapa pertunjukan,” beber Ubaidillah, motor grup musik Salawat Padhang Howo.
Personel Padhang Howo tak segelintir. Jika dihitung, grup ini mempunyai personel lebih dari 25 orang. Semuanya memiliki leader sendiri. “Misalnya untuk gamelan, gitar, hingga vokal, ada leader sendiri-sendiri. Sehingga saat menerima materi musik, semuanya bisa merespon dan berkreasi,” beber Ubaidillah.
Ini pula yang membuat Padhang Howo, mampu mudah berkolaborasi dengan musisi manapun. Hanya cukup menerima materi dari musisi, personel Padhang Howo tak perlu waktu lama untuk improvisasi.
“Bahkan kerap kami bertemu di lokasi manggung saat itu juga. Sehingga tanpa latihan dengan talent atau musisi, sudah nyambung. Karena anak-anak Padhang Howo selalu berlatih rutin. Minimal sepekan dua kali,” beber Ubaidillah.
Serba dadakan pun kerap terjadi di Padhang Howo. Misalnya, beberapa waktu lalu, Padhang Howo diminta mengisi hiburan acaa PB NU. Saat itu sebenarnya sudah ada grup musik religi yang mengisi. Tapi, tiba-tiba H-3 acara, grup musik yang akan mengisi memilih mundur, karena suatu alasan.
Nah, Padhang Howo kemudian diminta tampil mengisi. Meski serba mendadak, mereka bisa tampil perfect. Acara hiburan PB NU pun tetap meriah. Mereka juga bisa berkolaborasi dengan artis lainnya, walau belum bertemu dengan musisi lainnya saat tampil.
“Inipula yang terjadi saat kami tampil bersama Mustafa Debu di Kraksaan. Kami hanya menerima materi dari Mustafa, beberapa hari sebelum tampil. Begitu menerima materi, kami pelajari. Dan saat tampil, improvisasi kami pas. Bahkan, Mustafa Debu berkeinginan untuk membuat album. Ini karena kami mampu mencari kesamaan nada,” kata Ubaidillah.
Memang sebagian besar musik yang dibawakan Padhang Howo adalah musik religi. Tapi, bukan berarti Padhang Howo, tak bisa membawakan lagu bertema lain. Boleh dibilang, jenis musik apapun sanggup mereka bawakan. Apalagi jika ada permintaan dari pemilik acara.
“Anak-anak Padhang Howo, sudah paham dan mengerti karakter masing-masing personel lainnya. Antara yang bermain akustik dan elektrik, sudah bisa mencari persamaan. Selebihnya adalah improvisasi di panggung,” beber Ubaidillah.
Menjadi Syiar Kebajikan dan Dakwah
Grup musik Padhang Howo, sudah terbentuk sejak 2013. Mereka sering tampil di beragam acara. Mulai dari pernikahan atau acara pengajian akbar hingga haul. Inilah yang menjadi kekuatan Padhang Howo.
“Seperti tujuan awal dibentuk. Grup ini awalnya memang untuk mengisi kejenuhan. Namun, di dalamnya sekaligus untuk syiar kebajikan dan dakwah,” ujar Pembina Padhang Howo, Irsyad Yusuf.
Lewat lagu, Padhang Howo, juga kerap menyisipkan pesan-pesan ulama dan umara. Setidaknya sudah ada tiga album yang dirilis dari label record. Pertama, Munajat; ke dua, Cincin Zaman; dan ke tiga, Penawar Rindu. Di luar tiga album itu, sudah banyak lagu atau klip yang dibuat.
Embrio grup musik ini adalah Kiai Kanjeng yang sudah dikenal di nusantara. Konsep Padhang Howo memang mirip. Setelah terbentuk pada 18 September 2013, Padhang Howo mulai sering berlatih.
Kedekatan Padhang Howo dengan Kiai Kanjeng, juga sudah lama. Sudah beberapa kali Padhang Howo tampil bersama Sabrang Mowo Damar Panuluh atau Noe Letto. “Mas Sabrang juga sangat antusias dengan Padhang Howo. Seperti saat Radar Bromo Award 2022,” ujar Ubaidillah. (fun) Editor : Jawanto Arifin