Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Vape yang Makin Tren, Jadi Alternatif Pengalih Keinginan Merokok

Ronald Fernando • Minggu, 7 Mei 2023 | 16:15 WIB
STYLIST: Riris Rakhmasari dengan device pod miliknya. Vape selalu dibawanya ke mana-mana dan bisa menambah gaya.( Foto: Fandi Armanto/Jawa Pos Radar Bromo)
STYLIST: Riris Rakhmasari dengan device pod miliknya. Vape selalu dibawanya ke mana-mana dan bisa menambah gaya.( Foto: Fandi Armanto/Jawa Pos Radar Bromo)
Banyak orang yang menyebutnya rokok elektrik. Candu baru yang tak jauh beda dengan rokok konvensional. Tapi bagi kalangan anak muda, vape atau vapoor adalah alternatif yang jauh lebih baik untuk menghindari atau mengurangi rokok. Bagi penikmatnya, vape adalah solusi sekaligus tren baru.

 -----------------------------------------------------------------------------------------------

ROBY baru saja masuk ke sebuah kafe di Kota Pasuruan. Belum lama dia duduk, mahasiswa di sebuah kampus di Kota Surabaya itu merogoh isi tasnya. Sebuah benda berukuran kecil yang bentuknya mirip flashdisk, dia keluarkan. Roby lalu menghisap ujung pod dan uap langsung keluar dari hidung dan mulutnya.

Liquid baru rada nyentrong. Rasa mangga campuran mint,” kata Roby sembari tertawa.

Arie, kawan yang ada di sebelahnya juga tak mau kalah. Pemuda yang usianya baru 19 tahun ini juga mengeluarkan mod yang ukurannya lebih besar dari pod. Hanya sekali hisapan saja, ruangan sudut kafe penuh akan uap. Keduanya lalu bercanda ria sambil menyeruput kopi kental yang sudah dipesan sebelumnya.

Tak ada teguran dari pemilik kafe. “Ini bukan rokok. Tidak ada asap. Hanya uap,” kata pemuda yang tinggal di Bugul Kidul itu.

Roby dan Arie mengaku, sudah setahun ini ngevape. Mulanya, mereka dikenalkan oleh kawannya. Dua pemuda ini juga tak merokok. Alasannya, dilarang orang tua. Begitu juga vape. Awalnya mereka dimarahi oleh orang tua. Maklum saja, mereka belum berpenghasilan.

“Tetapi lama-lama, banyak kawan yang ngepod. Gak Cuma teman cowok. Teman cewek juga banyak yang pakai. Akhirnya ketularan. Ya untuk gaya-gayaan saja awalnya. Sekarang jadi nyandu. Ha...ha...ha...” kata Roby.

Berbeda lagi dengan Yudhis Mahendra, 31. Pemuda yang seharinya karyawan sebuah pabrik ini mengaku, sudah dua tahun ini dia ngevape. Device yang digunakannya adalah mod. Alat yang lebih besar dari pod seperti milik Roby dan Arie.

“Tapi saya juga punya pod. Biasanya jadi second device yang sering saya pakai saat berada di dalam ruang sempit seperti kamar atau di dalam mobil,” kata Yudhis.

Namun, Yudhis mengaku, vape yang kini digunakannya bukan untuk sekadar untuk gaya-gayaan. Pria satu anak ini mengaku, dia ingin berhenti merokok. Sebab, banyak saudaranya yang terkena sakit jantung karena merokok.

“Apalagi sejak punya anak. Istri sering ngomel kalau merokok. Tapi berhenti merokok, sulit rasanya sehingga perlu media ini,” katanya sambil menunjuk pod dan mod miliknya.

Bukan berarti Yudhis sudah berhenti total dari rokok konvensional. Sebelum ngevape, Yudhis mengaku dia bisa menghabiskan rokok hingga tiga bungkus sehari. Tetapi semenjak ngevape, kebiasaan buruknya itu berkurang. Sebungkus rokok bisa habis di rentang satu sampai dua hari.

“Cukup menghemat meski tidak hemat-hemat amat. Karena liquid ini kan juga beli. Ada cukainya kok,” katanya tertawa.

Vape, bagi Yudhis, sudah sangat membantu. Sebab berbagai cara sudah pernah dia lakukan. Seperti makan permen hingga memakai hipnoterapi. Tetapi cara itu dinilainya kurang efektif.

“Makan permen justru bisa kontinyu dan habisnya juga lebih banyak dari rokok. Begitu juga dengan hipnoterapi. Saya paling banter berhenti cuma dua hari. Selebihnya kumat lagi merokoknya,” beber Yudhis.

Meski sampai saat ini masih terjadi pro-kontra dengan vape, bagi para penggunanya mengaku, setidaknya vape bisa menghindari atau mengurangi rokok konvensional. Caranya pun mudah. Hanya cukup dicas dan diisi liquid.

“Kalau mod, ditaruh di dalam tas. Sementara pod digantung di leher pakai lanyard, oke juga. Yang penting jika ada hasrat ingin merokok, tinggal dihisap. Cuma sampai saat ini, saya belum bisa meninggalkan total rokok. Apalagi jika setelah makan. Rasa-rasanya ada yang kurang. Tetapi minimal sudah tak seperti dulu,” beber Yudhis. (fun)

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Device Tak Perlu Mahal

SUDAH banyak toko vape yang bermunculan di Pasuruan. Penggemarnya pun beragam. Mulai cewek dan cowok, usia muda hingga tua. Rata-rata mereka sepakat, vape lebih murah daripada rokok konvensional.

Photo
Photo
DI MANA SAJA: Seorang wanita di sebuah kafe menikmati vape. (Foto: Fandi Armanto/Jawa Pos Radar Bromo)

Bagi para pemilik usaha vape, mereka juga tak hanya menyediakan device dan liquid. Para pemilik usaha juga banyak yang mengajarkan untuk pemula hingga jasa perbaikan jika device rusak atau trouble.

Andre, salah satu pemilik usaha vape di Kota Pasuruan menyebutkan, biasanya banyak pemula yang bertanya-tanya jika ingin mencari tahu tentang vapoor. “Kebanyakan sih mereka yang ingin beralih dari rokok. Selebihnya anak-anak muda yang mengikuti tren,” beber Andre.

Pria yang membuka tokonya di kawasan Purworejo ini mengaku, harga device vape yang terjangkau membuat makin banyak yang menggemari rokok elektrik ini. “Memang ada yang sampai jutaan. Tapi yang ratusan ribu juga ada kok,” beber Andre sambil menunjukkan sebuah pod baru.

Pilihan vape ada banyak. Pod misalnya. Device ini berukuran kecil. Bentuknya seperti korek gas atau flashdisk. Ada yang bisa diisi ulang atau sekali pakai. “Ada juga yang beli mod dan ini bisa dirakit sesuai budget. Liquid-nya juga tergantung selera,” kata Andre.

Memang, kata Andre, di pasaran juga ada yang harganya mahal. Bahkan dia pernah punya yang harganya mencapai puluhan juta. “Tapi kembali ke rasa. Mahal belum tentu bagus. Bahkan terkadang yang rakitan pun kalau pas, sudah bikin nyaman,” beber Andre.

Tidak sedikit dia menjumpai konsumen yang akhirnya berhenti merokok. Dari yang awalnya coba-coba, kemudian berhenti total dari rokok konvensional, juga banyak. “Jika habis, cukup dicas. Liquid pun banyak pilihan. Mau nikotin rendah atau tinggi, ada. Yang pasti beda dengan rokok karena tidak ada tar,” beber Andre. (fun) Editor : Ronald Fernando
#vapoor #vape #rokok elektrik