Sampaikan Antikorupsi lewat Mural, Tembok Stadion Gelora Merdeka Kraksaan Lebih Berwarna

Agus Faiz Musleh • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 08:29 WIB
LIHAT: Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris melihat mural di Pagar Stadion Gelora Merdeka Kraksaan. (AGUS FAIZ MUSLEH/JAWA POS RADAR BROMO)
LIHAT: Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris melihat mural di Pagar Stadion Gelora Merdeka Kraksaan. (AGUS FAIZ MUSLEH/JAWA POS RADAR BROMO)

KRAKSAAN, Radar Bromo - Pesan antikorupsi tak selalu harus disampaikan lewat pidato atau tulisan panjang. Di tangan para pegiat mural, pesan tersebut justru hadir lewat sapuan warna dan gambar di dinding Stadion Gelora Merdeka Kraksaan.

Karya-karya itu menjadi perhatian Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris saat meninjau kompetisi mural gelaran Inspektorat Daerah Kabupaten Probolinggo, Minggu (13/9). Kompetisi ini digelar dalam Rangka Probolinggo Anti Corruption Fest 2026.

Gus Haris tampak mengamati satu per satu mural yang dikerjakan peserta. Ia mengaku terkesan dengan kreativitas yang ditampilkan. Apresiasi juga diberikan terhadap antusiasme peserta yang rela datang dari berbagai daerah untuk ambil bagian dalam kompetisi tersebut.

“Alhamdulillah hasilnya keren-keren banget, luar biasa. Pesertanya juga jauh-jauh. Ada dari Jakarta, Jawa Tengah, dan semuanya ada. Ini sangat kami apresiasi,” ujarnya.

Menurutnya, kekuatan mural tidak hanya terletak pada aspek keindahan visual. Lebih dari itu, gambar yang dituangkan di ruang publik dapat menjadi sarana menyampaikan gagasan kepada masyarakat dengan cara yang lebih mudah menarik perhatian.

Bahkan, menilai pesan yang disampaikan melalui gambar terkadang memiliki daya gugah yang lebih kuat dibandingkan rangkaian kata. “Yang sangat luar biasa dan sangat saya apresiasi adalah kekuatan gambar itu mungkin akan lebih keras dan lebih dalam daripada satu kata yang disampaikan,” terangnya.

Ia menilai setiap karya peserta memiliki cerita dan sudut pandang masing-masing. Karena itu, pesan yang tersirat di balik sebuah mural tidak selalu dapat dipahami hanya dengan sekali melihat.

“Gambarnya sangat luar biasa. Butuh hati yang bersih untuk bisa menceritakan masing-masing gambar. Mungkin butuh waktu beberapa hari, bahkan berbulan-bulan untuk memahami apa yang coba disampaikan oleh masing-masing peserta,” ujarnya.

Berbagai persoalan sosial, menurutnya, juga dapat diangkat melalui karya visual. Mulai isu perempuan dan anak, kekerasan, kekerasan seksual, hingga isu penyandang disabilitas.

“Kreativitas para peserta dalam menuangkan pesan melalui karya visual merupakan hal positif yang patut diapresiasi. Kehadiran peserta dari luar daerah juga menunjukkan bahwa kompetisi tersebut mampu menarik perhatian pegiat mural dari berbagai wilayah,” jelasnya. (mu/rud)

Editor : Fahreza Nuraga
tulisan panjang gelora merdeka antikorupsi mural pidato