KRAKSAAN, Radar Bromo - Petani kopi di Kabupaten Probolinggo didorong tidak berhenti pada penjualan hasil panen sebagai bahan baku. Pengolahan pascapanen, kualitas produk, legalitas usaha, hingga pemasaran menjadi sejumlah persoalan yang perlu dibenahi. Agar kenaikan produksi kopi diikuti peningkatan pendapatan petani.
Dorongan itu diberikan kepada anggota Kelompok Tani Tirto Roto 3 di Desa Roto, Kecamatan Krucil. Beberapa waktu lalu, mereka mendapatkan pembekalan teknis pengolahan hasil kopi yang didanai Pemprov Jawa Timur.
Kepala Bidang Sarana, Penyuluhan, dan Pengendalian Pertanian Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo Faiq El Himmah mengatakan, pengembangan kopi tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi. Nilai ekonomi komoditas itu juga ditentukan oleh kemampuan petani mengolah hasil panen menjadi produk dengan nilai jual lebih tinggi.
“Kopi memiliki peluang besar untuk terus dikembangkan. Tidak hanya sebagai komoditas hasil perkebunan, tetapi juga sebagai produk olahan yang mampu memberikan nilai tambah,” katanya.
Menurutnya, salah satu titik penting berada pada penanganan pascapanen dan pengolahan. Tanpa perbaikan pada tahap tersebut, petani berpotensi tetap berada pada posisi sebagai pemasok bahan baku, sementara nilai ekonomi yang lebih besar justru terbentuk pada tahap pengolahan dan pemasaran. “Kemampuan petani dalam penanganan pascapanen dan pengolahan menjadi hal yang penting,” ujarnya.
Tim Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur Dony Prayogo mengatakan, kualitas kopi sangat dipengaruhi oleh penanganan sejak setelah panen hingga proses pengolahan. Karena itu, penanganan pascapanen dan proses pengolahan harus dilakukan dengan baik agar mutu kopi tetap terjaga. “Dengan pengolahan yang tepat, produk kopi yang dihasilkan diharapkan memiliki kualitas dan nilai jual yang lebih baik,” kata Dony.
Menurutnya, petani perlu mulai mengembangkan produk olahan, sehingga tidak seluruh hasil panen dijual dalam bentuk bahan baku. (mu/rud)
Editor : Fahreza Nuraga