KRAKSAAN, Radar Bromo - Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Probolinggo meminta pemerintah daerah memastikan target penyerapan tembakau petani oleh setiap gudang.
Tujuannya, untuk mengetahui kemampuan gudang menyerap produksi petani sekaligus mencegah penumpukan hasil panen.
Ketua HKTI Kabupaten Probolinggo Agus Salehuddin mengatakan, pemerintah perlu memiliki data jelas mengenai kemampuan masing-masing gudang membeli tembakau petani. Agar produksi dan serapan dapat dibandingkan secara terukur.
“Serapannya harus jelas. Tahun ini target pembelian masing-masing gudang berapa, sehingga kami bisa mengukur serapan tembakau di gudang yang ada di Kabupaten Probolinggo,” ujarnya.
Menurutnya, sejumlah gudang diperkirakan memiliki kapasitas pembelian cukup besar. Seperti Gudang Djarum, diperkirakan mampu menyerap sekitar 4.000-5.000 ton. Sementara, Gudang Noroyono diperkirakan menyerap sekitar 800 ton.
Persoalan muncul ketika kapasitas penyerapan sejumlah gudang belum diikuti pembelian oleh seluruh perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut. Agus menyoroti belum adanya pembelian tembakau petani Probolinggo oleh Gudang Garam.
Padahal, kata Agus, stok tembakau petani di Kabupaten Probolinggo masih banyak. Pada saat yang sama, perusahaan tersebut masih membeli tembakau dari sejumlah daerah lain. Seperti Madura dan Bojonegoro.
“Kami berharap pemerintah daerah bersama Komisi II DPRD Kabupaten Probolinggo bisa meninjau kembali regulasinya. Khususnya terkait gudang yang belum menyerap tembakau petani,” kata Agus.
Di tengah persoalan serapan, saat ini harga tembakau di tingkat petani relatif baik. Harga berbeda berdasarkan posisi daun dan kualitas tembakau. Harga daun bawah, kata Agus, berada di kisaran Rp 40.000-Rp 50.000 per kilogram. Tembakau dari daun tengah hingga atas dapat mencapai Rp 65.000-Rp 70.000 per kilogram.
Menurutnya, tingkat harga ini masih memberikan ruang bagi petani untuk memperoleh keuntungan yang layak. Namun kondisi tersebut sangat bergantung pada kemampuan gudang menyerap produksi hingga akhir musim panen.
“Harapannya, harga ini bisa bertahan, sehingga petani tetap mendapatkan keuntungan yang layak dari hasil panennya,” ujar Agus. (mu/rud)
Editor : Fahreza Nuraga