UMKM Produk Kentang Olahan di Kabupaten Probolinggo Harus Naik Kelas

Agus Faiz Musleh • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 09:40 WIB
DAPAT PELATIHAN: Kepala DKUPP Kabupaten Probolinggo Sugeng Wiyanto saat bimtek peningkatan kualitas produk bagi UMKM. (Foto: Istimewa)
DAPAT PELATIHAN: Kepala DKUPP Kabupaten Probolinggo Sugeng Wiyanto saat bimtek peningkatan kualitas produk bagi UMKM. (Foto: Istimewa)

 

TIRIS, Radar Bromo - Potensi kentang di Kabupaten Probolinggo belum otomatis menjadi kekuatan industri olahan pangan. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Tiris masih perlu meningkatkan kualitas produk agar komoditas pertanian tersebut menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.

Kondisi itu menjadi perhatian dalam pelatihan bagi 50 pelaku UMKM olahan kentang di Kecamatan Tiris. Beberapa waktu lalu mereka mendapatkan pelatihan pengolahan produk untuk meningkatkan kualitas dan daya saing usaha.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan, dan Perindustrian (DKUPP) Sugeng Wiyanto mengatakan, kentang memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Dari pelatihan diharapkan peningkatan produktivitas dan kualitas produk, sehingga dapat meningkatkan daya saing produk dan jangkauan pasar bagi produk olahan kentang,” kata Sugeng.

Kata Sugeng, Kabupaten Probolinggo merupakan salah satu sentra produksi kentang di Jawa Timur. “Kabupaten Probolinggo merupakan penghasil kentang terbesar kedua se-Jawa Timur setelah Kabupaten Pasuruan dengan kapasitas produksi 478 ribu ton dan luas lahan tanam 3.327 hektare,” ujarnya.

Besarnya produksi bahan baku semestinya menjadi modal bagi tumbuhnya industri pengolahan di tingkat lokal. Namun, tantangannya bukan hanya meningkatkan jumlah produksi. Melainkan memastikan produk olahan mampu memenuhi standar mutu, memiliki kemasan dan legalitas yang memadai, serta dapat menembus pasar yang lebih luas.

Data DKUPP menunjukkan jumlah UMKM berizin di Kabupaten Probolinggo bertambah 19.614 usaha atau 32,97 persen pada semester pertama 2026. Dengan pertumbuhan tersebut, jumlah UMKM berizin mencapai 79.099 usaha dari 87.327 UMKM yang terdata.

Pertumbuhan juga disebut terjadi pada modal dan penyerapan tenaga kerja. Modal UMKM meningkat sekitar Rp169 miliar atau 6,36 persen menjadi Rp2,8 triliun. Adapun tenaga kerja yang terserap bertambah 39.424 orang atau 35,75 persen menjadi 149.711 orang.

Angka tersebut menunjukkan perkembangan dari sisi jumlah dan aktivitas ekonomi. Namun, pertumbuhan jumlah UMKM belum dengan sendirinya menunjukkan peningkatan kualitas produk maupun kemampuan usaha untuk bertahan dan memperluas pasar.

Karena itu, peningkatan kapasitas pelaku usaha perlu diikuti pendampingan yang konkret, terutama dalam pengolahan, pengemasan, legalitas produk, pemasaran, hingga akses pembiayaan.

Sugeng mengatakan DKUPP akan memberikan pendampingan pada sejumlah aspek tersebut.

“DKUPP Kabupaten Probolinggo akan terus hadir untuk meningkatkan tumbuh kembang UMKM lokal yang berkelas, melalui pendampingan fasilitasi perizinan berusaha, legalitas produk, pemasaran dan pembiayaan,” katanya.

Ketua Tim Kerja Pengembangan Usaha Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur Awit Setiawan mengatakan, pelatihan ditujukan untuk meningkatkan kemampuan pelaku usaha dalam mengolah kentang menjadi produk yang memiliki nilai jual.

“Tujuannya untuk menginspirasi para pelaku usaha agar mengembangkan ide-ide kreatif dalam membuat produk yang mempunyai nilai jual dan dapat berinovasi dalam mengembangkan usahanya berbasis potensi daerah,” ujar Awit.

Namun, tantangan bagi pelaku UMKM bukan berhenti pada kemampuan membuat produk. Produk yang dihasilkan juga harus konsisten dari sisi rasa dan kualitas, memiliki daya simpan yang memadai, serta mampu memenuhi kebutuhan konsumen dan pasar.

Pelatihan karena itu perlu diikuti dengan pendampingan setelah kegiatan. Tanpa akses pasar dan evaluasi terhadap produk yang dihasilkan, peningkatan keterampilan berisiko tidak banyak mengubah skala usaha.

Pemerintah juga memberikan bantuan peralatan pengolahan kepada lima kelompok UMKM di Kecamatan Tiris. Peralatan tersebut diharapkan digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Awit mengatakan keterampilan dan peralatan yang diberikan perlu dimanfaatkan untuk pengembangan usaha.

“Melalui bimtek ini kami berharap UMKM Kecamatan Tiris semakin mampu menghasilkan produk olahan yang berkualitas, inovatif dan kompetitif, sekaligus mengoptimalkan potensi kentang sebagai salah satu komoditas unggulan Kabupaten Probolinggo,” katanya. (mu/fun)

Editor : Abdul Wahid
kentang pemkab probolinggo umkm