KRAKSAAN, Radar Bromo-Seiring bertambahnya penduduk lanjut usia (lansia), pelayanan kesehatan dituntut tak berhenti pada pengobatan ketika warga sakit. Puskesmas dituntut mampu mendeteksi penurunan fungsi lansia sejak dini dan mendampingi mereka dalam perawatan jangka panjang.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo dr. Nina Kartika mengatakan, peningkatan jumlah lansia menjadi tantangan bagi sistem pelayanan kesehatan. Kondisi itu terjadi seiring meningkatnya angka harapan hidup dan menurunnya angka kelahiran.
“Angka harapan hidup meningkat, sementara angka kelahiran menurun sehingga proporsi penduduk usia lanjut terus bertambah dari tahun ke tahun,” kata Nina.
Persoalannya, bertambahnya usia tidak hanya berkaitan dengan munculnya penyakit. Lansia lebih rentan mengalami penurunan fungsi fisik, malnutrisi, penyakit penyerta atau multimorbiditas, penurunan kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari, hingga keterbatasan mobilitas.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan layanan lansia berbeda dengan kelompok usia lainnya. Penanganan tidak cukup hanya dengan memberikan obat ketika penyakit muncul. Tetapi juga membutuhkan pengkajian kondisi fisik dan kemampuan lansia menjalani aktivitas sehari-hari serta pendampingan yang berkelanjutan.
“Karena itu pelayanan kesehatan bagi lansia harus dimulai dari layanan primer, yaitu puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan. Di sanalah berbagai masalah kesehatan lansia dapat diidentifikasi sejak dini sehingga penanganannya menjadi lebih tepat,” ujar Nina.
Tantangan lain adalah keterbatasan jumlah tenaga kesehatan di yang puskesmas perlu mampu melakukan pengkajian kapasitas intrinsik lansia menggunakan instrumen sederhana dalam waktu relatif singkat. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo melatih 30 tenaga kesehatan dari 30 puskesmas.
Materi yang diberikan mencakup pengenalan proses menua dan sindrom geriatri, Integrated Care for Older People (ICOPE), kesehatan gigi dan mulut, pengelolaan kapasitas intrinsik, kesehatan jiwa, rehabilitasi medik, latihan fisik, gizi, hingga tata laksana asuhan lansia.
Tenaga kesehatan juga dilatih melakukan perawatan lansia di rumah, mendampingi caregiver atau keluarga, menyusun rencana asuhan individual, serta melakukan pencatatan dan pelaporan program kesehatan lansia.
Nina mengatakan, pelatihan tersebut diarahkan agar tenaga kesehatan tidak hanya mampu menemukan persoalan kesehatan. Namun juga memberikan pendampingan sesuai kondisi masing-masing lansia.
“Melalui pelatihan ini kami ingin meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan sehingga mereka mampu memberikan pelayanan yang lebih komprehensif, mulai dari deteksi dini, edukasi, pendampingan hingga perawatan jangka panjang bagi lansia di masyarakat,” katanya.
Pelatihan tenaga kesehatan hanya menjadi salah satu bagian dari persoalan layanan lansia. Kemampuan tenaga kesehatan harus diikuti penerapan di puskesmas dan dukungan keluarga agar pengelolaan kesehatan lansia tidak berhenti ketika pasien meninggalkan fasilitas kesehatan.
Keluarga juga memiliki peran penting, terutama bagi lansia yang mengalami keterbatasan aktivitas atau membutuhkan perawatan di rumah. Karena itu, kemampuan tenaga kesehatan memberikan edukasi kepada caregiver menjadi bagian penting dalam pelayanan jangka panjang.
Nina mengatakan tenaga kesehatan yang telah mengikuti pelatihan diharapkan menerapkan kemampuan tersebut di wilayah kerja masing-masing. Tujuannya bukan semata meningkatkan cakupan layanan, melainkan mempertahankan kemandirian dan kualitas hidup lansia sesuai kondisi kesehatan mereka.
“Harapan kami, setelah pelatihan ini para tenaga kesehatan tidak hanya memiliki pengetahuan yang lebih baik, tetapi juga mampu memberikan pelayanan yang lebih profesional dan menyeluruh,” kata Nina. (mu/fun)
Editor : Abdul Wahid