16 Kecamatan di Kabupaten Probolinggo Rawan Krisis Air di Puncak Kemarau

Achmad Arianto • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 12:11 WIB
ANTRE: Warga di Dusun Lampekan, Desa Paras, Kecamatan Tegalsiwalan menunggu giliran mendapatkan air bersih yang dikirim personel BPBD, beberapa waktu lalu. (Foto: dok Jawa Pos Radar Bromo)
ANTRE: Warga di Dusun Lampekan, Desa Paras, Kecamatan Tegalsiwalan menunggu giliran mendapatkan air bersih yang dikirim personel BPBD, beberapa waktu lalu. (Foto: dok Jawa Pos Radar Bromo)

 

DRINGU, Radar Bromo - Kekeringan dan krisis air bersih terus diwaspadai Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo. Selama memasuki kemarau ini, 16 wilayah potensi bencana tersebut rutin dilakukan pemantauan.

Krisis air bersih menjadi potensi bencana tahunan saat masuk musim kemarau. Potensi tersebut diwaspadai sejak masuk musim kemarau. Kewaspadaan semakin ditingkatkan saat masuk puncak musim kemarau.  Sebab volume air baik dari sumur, sumber, maupun sungai berpotensi menyusut.

Krisis air ini jelas akan berdampak pada kehidupan masyarakat. Air bersih merupakan kebutuhan dasar kehidupan. Setiap hari tidak bisa lepas dari penggunaan air bersih. Baik untuk minum, memasak, dan aktivitas rumah tangga lainnya. Sehingga harus terus dipenuhi.

“Sejak awal kemarau bulan Mei lalu sudah diwaspadai. Sesuai tren yang terjadi biasanya puncak kemarau terjadi antara bulan Agustus dan September,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief.

BPBD telah memetakan setidaknya terdapat 16 wilayah yang diwaspadai berpotensi mengalami krisis air bersih. Diantaranya Kecamatan Bantaran, Banyuanyar, Besuk, Dringu, Gading, Kotaanyar, Kuripan, Leces, Lumbang, Paiton, Pakuniran, Sukapura, Tegalsiwalan, Tiris, Tongas, dan Wonometo.

Sementara sejak awal musim kemarau sampai pekan ketiga Aagustus, terdapat 3 wilayah yang telah mendapatkan droping air bersih. Meliputi Kecamatan Tiris, Tegalsiwalan, dan Tongas.

Sementara 13 wilayah lainnya saat ini masih belum ada permintaan air bersih. Walaupun demikian tetap menjadi atensi sehingga rutin dilakukan pemantauan.

“Wilayah yang telah terpetakan semuanya jadi atensi. Walaupun masih belum ada laporan,” ucapnya.

Oemar menambahkan, wilayah yang sudah terpetakan merupakan wujud mitigasi dan upaya percepatan pengambilan tindakan. Data tersebut bukan menjadi data pasti, sebab wilayah lainnya juga memiliki potensi yang sama. Sehingga apabila nanti ada permintaan pengiriman air bersih maka tetap ditindaklanjuti sesuai dengan prosedur.

“Krisis air bersih dapat disebabkan karena faktor alam atau musim. Tetapi juga bisa terjadi karena gangguan pipanisasi air bersih. Tentunya jika ada permintaan wilayah terdampak, segera kami penuhi,” pungkasnya. (ar/fun)

 

Editor : Abdul Wahid
krisis air bpbd kekeringan kemarau