PROBOLINGGO, Radar Bromo-Bukan hanya di kawasan Bromo! Selama musim kemarau seperti saat ini, kebakaran hutan dan lahan dapat terjadi di mana saja. Potensi rawan ini sekarang menjadi perhatian resort pemangku hutan (RPH) di Probolinggo. Untuk meminimalisir insiden kebakaran, pengawasan melekat dilakukan oleh petugas kini dilakukan.
Seperti RPH Klenang. Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) Klenang Acis mengatakan, musim kemarau kerawanan bencana karhutla memang terbuka lebar. Kondisi demikian terjadi karena terjadi peningkatan suhu wilayah.
Dampaknya pada vegetasi yang tumbuh di wilayah hutan dan lahan. Perlahan kekurangan air, mengering, kemudian mati. Dalam kondisi seperti ini, titik api dapat berkobar dengan cepat. Serta dapat merembet saat kondisi angin cukup kencang. Jika tidak ditangani dengan cepat maka kebakaran besar dapat terjadi.
“Selama kemarau karhutla memang menjadi atensi. Ini tidak bisa disepelekan karena lingkungan panas dan vegetasi mengering,” katanya.
Untuk mencegah terjadinya karhutla petugas melakukan beberapa upaya. Mulai dari pemantauan melekat pada wilayah yang berpotensi serta melakukan patroli kawasan rutin pada pagi, siang, dan sore hari. Upaya ini dilakukan untuk mengetahui kondisi wilayah secara langsung.
Pada saat patroli jika ditemukan kobaran api atau warga sengaja membakar sampah daun kering dekat kawasan, maka petugas segera melakukan tindakan tegas dengan melakukan pemadaman. Hal ini dilakukan agar api tidak terus membesar.
“Patroli rutin kami lakukan. Tindakan ini untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” ucapnya.
Luasnya wilayah yang menjadi pantauan membuat pengawasan tidak bisa dilakukan secara maksimal. Karenanya petugas juga berkoordinasi dengan Forkopimca dan masyarakat untuk turut menjaga serta mengawasi lingkungan.
Tak berhenti disitu, petugas juga gencar melakukan sosialisasi pencegahan kebakaran kepada masyarakat agar tidak sembarangan membakar sampah kemudian meninggalkannya.
Serta mengimbau masyarakat tidak membuang puntung rokok sembarangan. Sebab titik api jika dibiarkan pada lahan kering. Kemudian terkena angin maka kebakaran bisa terjadi.
“Petugas sudah berupaya semaksimal mungkin. Tetapi masyarakat juga memiliki peran penting untuk turut mencegah terjadinya karhutla,” tandasnya.
Di sisi lain, pemadam kebakaran (Damkar) di Kabupaten Probolinggo hingga kini terus mewaspadai potensi kebakaran. Selama tiga bulan terakhir saja, insiden kebakaran terus meningkat. Insiden tersebut diprediksi akan terus bertambah seiring dengan musim kemarau.
Kepala Bidang Pengendalian Bahaya Kebakaran dan Nonkebakaran Satpol PP Andrea Persaulian mengatakan, insiden kebakaran selama kemarau dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Insiden tersebut akan terus naik sampai dengan masuk awal musim hujan.
Petugas damkar mewaspadai potensi kebakaran dibeberapa tempat. Mulai dari kebakaran rumah dan bangunan. Kebakaran benda yang berada wilayah ramai aktivitas warga. Serta lahan yang berada di dekat pemukiman warga yang berpotensi merembet. Wilayah tersebut menjadi atensi pemadaman kebakaran.
“Dalam hal pemadaman kami fokus pada kebakaran yang terjadi di lingkungan padat penduduk. Serta kebakaran yang mengancam keselamatan warga sekitar,” katanya.
Selama tiga bulan terakhir insiden kebakaran terus mengalami kenaikan. Pada bulan Mei terdapat 8 laporan kebakaran, lalu bulan Juni bertambah 15 laporan kebakaran, dan bulan Juli insiden kebakaran meningkat tajam terdapat 30 laporan.
Potensi kebakaran cukup tinggi terjadi saat musim kemarau. Sebab suhu udara dan cuaca lebih panas. Membuat lingkungan sekitar lebih kering dan gersang. Akhirnya bangunan maupun lahan atau tempat terbuka yang didominasi oleh rumput maupun ilalang dapat dengan mudah terbakar. Kondisi demikian dapat menjadi lebih parah saat angin berhembus kencang.
“Sejauh ini insiden kebakaran yang paling banyak ditangani adalah kebakaran rumah atau bangunan. Serta lahan yang berada dekat pemukiman sehingga membuat panik warga,” jelasnya.
Saat disinggung penyebab terjadinya kebakaran. Andrea menjelaskan secara umum kebakaran terjadi akibat kelalaian masyarakat. Kebakaran rumah atau bangunan terjadi karena korsleting arus listrik. Sementara kebakaran lahan dekat pemukiman penduduk terjadi karena membakar sampah kemudian ditinggal begitu saja. Akhirnya api membesar dan merembet.
“Potensi kebakaran dapat dicegah dengan meningkatkan kewaspadaan. Serta tidak sembarang menyalakan api atau membuang puntung rokok,” tuturnya.
(ar/fun)
Editor : Abdul Wahid