KRAKSAAN, Radar Bromo - Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih berpotensi menjangkiti masyarakat. Untuk menekan penyebaran penyakit tersebut Dinas Kesehatan melakukan pemantauan wilayah temuan karena DBD tak mengenal musim.
Tidak menentunya suhu dan kondisi curah hujan serta masih banyak genangan air yang tidak terkelola dengan baik menjadi pemicu tingginya perkembangbiakan nyamuk.
Kondisi demikian bisa menjadi ancaman serius khususnya di lingkungan masyarakat. Genangan air ini menjadi media perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti sebagai vektor utama penularan DBD.
“Kewaspadaan terhadap potensi penyakit DBD perlu dilakukan. Hal ini menjadi salah satu upaya untuk menekan penyebarannya,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo dr. Nina Kartika.
Sejauh ini ada tiga wilayah yang cukup menjadi atensi Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo yakni Kecamatan Paiton, Kraksaan dan Dringu. Pasalnya wilayah tersebut memiliki kasus temuan paling menonjol dibandingkan dengan wilayah lainnya.
Menindaklanjuti temuan yang ada Dinas Kesehatan berkoordinasi dengan puskesmas secara proaktif melakukan pemantauan wilayah potensi temuan. Kemudian melakukan penanganan dengan maksimal apabila terdapat pasien positif DBD.
Tidak cukup sampai disitu, agar penanggulangan penyakit lebih maksimal perlu dilakukan penanganan kolaborasi lintas sektor.
“Pencegahan DBD harus dilakukan di semua lini. Oleh sebab itulah perlu ada kolaborasi yang baik. Serta kesadaran masyarakat untuk mencegah adanya DBD,” bebernya.
Sebelumnya Dinas Kesehatan mencatat sejak januari hingga akhir juli terdapat 424 pasien positif DBD. Pasien yang dinyatakan positif DBD oleh petugas medis langsung ditangani dengan sigap. Melakukan perawatan hingga pasien sembuh.
Bahkan jika kondisi pasien memburuk saat dirawat di Puskesmas akan segera dirujuk ke Rumah Sakit agar mendapatkan penanganan medis yang lebih intensif.
Dari ratusan kasus yang ada. Terdapat 5 pasien diantaranya meninggal dunia. Kondisi demikian terjadi lantaran pasien telat dibawa oleh keluarga ke fasilitas kesehatan baik puskesmas maupun rumah sakit. Sehingga saat kondisi memburuk tidak bisa segera tertangani dengan maksimal. (ar/fun)
Editor : Abdul Wahid