Wilayah Tanam Tembakau di Kabupaten Probolinggo Bertambah, Produksi Diprediksi Melimpah

Agus Faiz Musleh • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 09:11 WIB
MUSIM TANAM: Petani tembakau tengah menyemai bibit tembakau di wilayah Kecamatan Krejengan. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)
MUSIM TANAM: Petani tembakau tengah menyemai bibit tembakau di wilayah Kecamatan Krejengan. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)

 

KRAKSAAN, Radar Bromo - Meluasnya wilayah tanam tembakau di Kabupaten Probolinggo tahun ini diperkirakan ikut membawa dampak terhadap meningkatnya produksi.

Daerah yang sebelumnya bukan sentra tembakau kini mulai banyak menanam komoditas tersebut. Kondisi cuaca yang mendukung membuat hasil panen diperkirakan melimpah hingga mencapai sekitar 18 ribu ton.

Berdasarkan data Dinas Pertanian, luas lahan tembakau pada 2025 mencapai 13.111,4 hektare. Dengan asumsi produktivitas berkisar 1,2 hingga 1,4 ton per hektare. Sehingga produksi tahun ini diproyeksikan menyentuh sekitar 18 ribu ton.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan, dan Perindustrian (DKUPP) Sugeng Wiyanto mengatakan, peningkatan produksi dipengaruhi bertambahnya wilayah tanam. Jika sebelumnya sentra tembakau hanya berada di sekitar 10 kecamatan, kini telah berkembang menjadi 15 kecamatan.

"Produksi tahun ini memang sedang bagus. Dulu yang menjadi sentra tembakau sekitar 10 kecamatan, sekarang berkembang menjadi 15 kecamatan. Artinya, wilayah tanam bertambah sehingga produksi juga meningkat," ujarnya.

Menurut Sugeng, selain perluasan areal tanam, faktor cuaca yang mendukung membuat kualitas maupun hasil panen lebih baik dibandingkan musim sebelumnya. Kondisi tersebut menyebabkan cadangan tembakau di daerah cukup melimpah.

"Musim tanam tahun ini bagus. Wilayah tanam bertambah dan hasilnya juga bagus, sehingga cadangan tembakau daerah cukup melimpah," katanya.

Namun, melimpahnya produksi tidak serta-merta diikuti tingginya serapan pasar. Sugeng mengungkapkan, stok tembakau yang masih tersimpan di empat gudang besar menjadi salah satu penyebab pembelian hasil panen petani belum maksimal.

"Cadangan di empat gudang besar masih cukup banyak. Itu ikut memengaruhi penyerapan tembakau dari petani pada musim ini," jelasnya.

Untuk mengantisipasi kondisi serupa pada musim berikutnya, pemerintah daerah akan terus berkoordinasi dengan perusahaan maupun gudang tembakau guna mengetahui kebutuhan riil bahan baku. Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi dasar dalam mengendalikan luas areal tanam.

"Ke depan memang harus ada pengontrolan area tanam. Kami juga memfasilitasi komunikasi dengan gudang untuk mengetahui berapa kebutuhan stok mereka, sehingga produksi petani bisa lebih seimbang dengan daya serap pasar," tegas Sugeng.

Bertambahnya lahan tanam juga didukung kondisi tanah di sejumlah wilayah yang dinilai sangat cocok untuk budidaya tembakau. Karena itu, semakin banyak kecamatan yang mulai mengembangkan komoditas tersebut.

Data Dinas Pertanian mencatat, sentra tembakau kini tersebar di 15 kecamatan. Luasan terbesar berada di Kecamatan Paiton seluas 2.891 hektare, disusul Krejengan 2.354 hektare, Kotaanyar 2.343,4 hektare, Pakuniran 1.500 hektare, dan Besuk 1.376 hektare. Selebihnya tersebar di Sukapura, Lumbang, Kuripan, Wonomerto, Bantaran, Pajarakan, Kraksaan, Gading, Maron, hingga Gending.

Dengan luas tanam tersebut, Kabupaten Probolinggo diperkirakan kembali menjadi salah satu daerah penghasil tembakau terbesar di Jawa Timur. Meski demikian, pengendalian luas areal tanam dinilai menjadi langkah penting agar produksi yang terus meningkat tetap seimbang dengan kebutuhan industri. (mu/fun)

 

Editor : Abdul Wahid
tembakau perkebunan rokok pertanian