KRAKSAAN, Radar Bromo-Pelestarian budaya di Kabupaten Probolinggo dinilai tidak dapat bergantung pada pemerintah semata. Dewan Kebudayaan diharapkan menjadi motor penggerak yang mampu menghubungkan pemerintah, pegiat seni, lembaga pendidikan, hingga masyarakat agar warisan budaya daerah tidak berhenti sebagai simbol, tetapi menjadi bagian dari pembangunan.
Harapan itu disampaikan Bupati Mohammad Haris di tengah upaya pemerintah daerah memperkuat identitas budaya Kabupaten Probolinggo yang memiliki keragaman tradisi. Mulai dari kawasan Tengger, lereng Argopuro, hingga wilayah pesisir.
Menurut Haris, pembangunan daerah akan kehilangan makna apabila tidak dibarengi dengan upaya menjaga akar kebudayaan yang menjadi identitas masyarakat.
Infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, kata dia, perlu berjalan seiring dengan pelestarian nilai-nilai budaya.
"Budaya dan seni adalah jiwa sekaligus jati diri Kabupaten Probolinggo. Tanpa budaya yang terjaga dengan baik, pembangunan tidak akan memiliki arti yang utuh. Saya titip budaya Tengger, Argopuro, kisah Dewi Rengganis, Candi Jabung hingga Candi Kedaton agar terus dirawat, dikembangkan, dan diceritakan kepada generasi penerus," ujar Haris, usai melakukan pengukuhan pengurus Dewan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo masa bakti 2025-2030, di Amphiteater Seruni Point Kecamatan Sukapura, Sabtu (18/7).
Ia menilai, Kabupaten Probolinggo memiliki modal budaya yang besar. Tetapi belum seluruhnya terdokumentasi dan dikembangkan secara sistematis. Padahal, kekayaan budaya tersebut dapat menjadi fondasi memperkuat identitas daerah sekaligus mendukung pengembangan sektor pariwisata berbasis kearifan lokal.
Karena itu, Haris meminta dewan kebudayaan tidak berhenti pada fungsi simbolik. Melainkan menjadi ruang kolaborasi yang mampu menggerakkan pelestarian budaya secara berkelanjutan.
"Saya berharap dewan kebudayaan mampu menjadi motor penggerak pelestarian budaya melalui kolaborasi dengan pemerintah, pelaku seni, lembaga pendidikan hingga masyarakat sehingga warisan budaya tetap lestari dan memberi manfaat bagi pembangunan daerah," katanya.
Ketua dewan kebudayaan Mahdi mengatakan, salah satu pekerjaan mendesak yang akan dilakukan adalah memetakan seluruh potensi budaya daerah. Inventarisasi itu dinilai penting sebagai dasar penyusunan kebijakan pelestarian sekaligus pengembangan kebudayaan di masa mendatang.
Menurut Mahdi, pendataan tidak hanya mencakup kesenian pertunjukan. Tetapi juga berbagai unsur budaya lain, seperti pakaian adat, rumah adat, tradisi lisan, hingga praktik budaya yang masih hidup di tengah masyarakat.
"Kami akan menginventarisasi seluruh potensi budaya Kabupaten Probolinggo, mulai dari seni tari, musik, pakaian adat hingga rumah adat. Selanjutnya kami akan bersinergi dengan berbagai pihak agar kesenian khas Kabupaten Probolinggo dapat terus hadir dalam agenda pemerintahan, pendidikan, maupun kegiatan masyarakat," ujarnya.
Inventarisasi tersebut, lanjut Mahdi, diharapkan menjadi pijakan untuk menyusun program pelestarian yang lebih terarah sekaligus memperkuat posisi kebudayaan sebagai bagian dari pembangunan daerah. (mu/fun)
Editor : Abdul Wahid