KRAKSAAN, Radar Bromo - Beredarnya video yang diduga menampilkan aktivitas komunitas LGBT di kawasan sekitar Gelora Merdeka Kraksaan menjadi perhatian Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Probolinggo.
MUI meminta pemerintah daerah, aparat penegak perda, tokoh agama, hingga pihak sekolah meningkatkan kewaspadaan agar fenomena tersebut tidak berkembang di tengah masyarakat.
Sekretaris MUI Kabupaten Probolinggo, Yasin, mengaku menerima video tersebut dari pengurus MUI dan menduga lokasi pengambilan gambar berada di sekitar Gelora Merdeka Kraksaan. Meski demikian, ia berharap kebenaran video itu dapat dipastikan oleh pihak berwenang.
"Kami prihatin dan khawatir. Video itu saya terima dari pengurus MUI. Sepertinya lokasinya di sekitar Gelora Merdeka Kraksaan. Ini harus menjadi perhatian semua pengambil kebijakan, baik pemerintah, tokoh agama maupun organisasi kemasyarakatan," ujarnya.
Menurut Yasin, kekhawatiran muncul karena tayangan yang beredar luas di media sosial dikhawatirkan dapat memengaruhi remaja apabila tidak direspons secara tepat.
"Saya khawatir ini menjadi tren dan ditiru anak-anak muda kita. Itu yang sangat kami khawatirkan karena bisa berdampak terhadap perkembangan generasi muda," katanya.
Yasin menyebut isu LGBT saat ini juga menjadi perhatian MUI di tingkat pusat. Ia mengatakan MUI Pusat telah menyampaikan naskah akademik dan usulan rancangan undang-undang terkait persoalan tersebut kepada DPR untuk dikaji.
"Sebagaimana yang kami terima dari MUI Pusat, sudah ada naskah akademik dan usulan RUU yang disampaikan ke DPR untuk dikaji. Karena itu kami memandang persoalan ini harus menjadi perhatian bersama," ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh pemangku kepentingan, termasuk guru dan orang tua, meningkatkan pengawasan terhadap perkembangan anak dan remaja.
"Para guru di sekolah juga harus mewaspadai perkembangan anak didiknya. Kalau ada kecenderungan, harus dilakukan pembinaan, pendampingan dan pendekatan sesuai bidangnya agar tidak berkembang menjadi persoalan sosial yang lebih besar," katanya.
Selain itu, Yasin meminta pemerintah daerah melalui Satpol PP tidak mengabaikan informasi yang berkembang di masyarakat apabila memang ditemukan aktivitas yang melanggar ketentuan yang berlaku.
"Jangan sampai ada kelompok atau komunitas yang dianggap menyimpang kemudian melakukan aktivitas secara terbuka dan dibiarkan. Kalau memang ada, tentu perlu ada langkah antisipasi sesuai kewenangan masing-masing," ujarnya.
Menurut dia, Kabupaten Probolinggo selama ini dikenal sebagai daerah yang kuat dengan nilai-nilai keagamaan sehingga seluruh elemen masyarakat perlu menjaga ruang publik tetap kondusif.
"Kraksaan termasuk kawasan yang dikenal sebagai kota santri. Karena itu kami berharap nilai-nilai keagamaan tetap dijaga dan kegiatan-kegiatan positif lebih diperbanyak agar menjadi contoh bagi generasi muda," katanya. (mu/fun)
Editor : Abdul Wahid