KRAKSAAN, Radar Bromo - Setelah ada suspend satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG), satgas Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Penyelenggaraan MBG Kabupaten Probolinggo tidak hanya fokus melihat instalasi pengolahan air limbah. Satgas kini juga menjadikan pemenuhan gizi sebagai atensi.
Seperti saat satgas memonitoring dua SPPG di Kecamatan Dringu. Ada Dua lokasi yang menjadi sasaran pemantauan adalah SPPG Yayasan Kajar Berkah Sentosa di Desa Pabean dan SPPG Desa Kalirejo. Tim memeriksa pelaksanaan program mulai dari proses distribusi makanan hingga pengelolaan dapur penyedia MBG.
Sebelum meninjau dapur, tim satgas berdialog dengan ibu hamil, ibu menyusui dan keluarga balita penerima manfaat.
Dialog dilakukan untuk mengetahui pelaksanaan distribusi makanan sekaligus memastikan menu yang diterima sesuai standar gizi dan memenuhi aspek kebersihan.
Tim juga menghimpun tanggapan dari penerima manfaat di lingkungan sekolah. Sejumlah siswa mengaku menu yang diberikan cukup membantu memenuhi kebutuhan makan selama mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Pemantauan kemudian dilanjutkan ke dapur SPPG Pabean. Tim mengecek proses pengolahan makanan, kebersihan area kerja, pengelolaan limbah, serta penerapan standar operasional prosedur (SOP).
Monitoring juga dilakukan di SDN Kedungdalem II yang menjadi salah satu lokasi penerima manfaat program. Setelah itu, kegiatan berlanjut ke SPPG Kalirejo.
Wakil Ketua Satgas Percepatan MBG Kabupaten Probolinggo M. Sjaiful Efendi mengatakan, hasil monitoring menunjukkan penyelenggaraan program di kedua SPPG berjalan cukup baik.
Tingkat penerimaan masyarakat terhadap menu yang disajikan juga relatif positif dan minim keluhan.
“Dari hasil monitoring dan evaluasi, secara umum tata kelola SPPG di Pabean dan Kalirejo sudah cukup baik. Menu makanan yang didistribusikan kepada penerima manfaat juga tidak banyak menerima keluhan dan tingkat kepuasan masyarakat cukup baik. Namun tetap ada beberapa catatan yang harus segera diperbaiki agar kualitas layanan semakin optimal,” katanya.
Menurut Sjaiful, sejumlah aspek yang masih memerlukan perhatian antara lain kebersihan lingkungan dapur, IPAL, penerapan SOP serta beberapa unsur teknis lainnya yang berkaitan dengan keamanan dan kualitas layanan.
“Kami hadir untuk memastikan seluruh ketentuan yang ditetapkan Badan Gizi Nasional benar-benar dijalankan. Catatan hasil monev ini akan terus kami pantau dan evaluasi agar tidak menimbulkan risiko yang dapat mengganggu pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.
Hasil monitoring tersebut akan menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan penyelenggaraan program MBG di tingkat SPPG. Terutama dalam menjaga kualitas makanan, kebersihan dapur dan kepatuhan terhadap standar yang telah ditetapkan. (mu/fun)
Editor : Abdul Wahid