DRINGU, Radar Bromo-Memasuki musim kemarau, sejumlah wilayah di Kabupaten Probolinggo berpotensi kesulitan air. Selain itu kebakaran lahan juga menjadi ancaman. Tempat-tempat rawan ini sekarang mulai diwaspadai Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Kepala Pelaksana BPBD Oemar Sjarief mengatakan, menurunnya intensitas curah hujan merupakan salah satu penanda bahwa sudah mulai pancaroba peralihan musim hujan ke musim kemarau.
Dalam jangka panjang hal ini tentunya berdampak pada debit air dan sumber mata air. Sehingga patut diwaspadai terjadi potensi krisis air bersih.
“Potensi krisis air bersih masih dalam pemantauan. Tetapi kalau ada laporan wilayah membutuhkan air bersih maka segera kami penuhi,” katanya.
Potensi krisis air bersih dapat terjadi di seluruh wilayah Kabupaten Probolinggo. Namun ada beberapa wilayah yang cukup menjadi atensi yakni wilayah tengah dan selatan. Bahkan krisis air bersih berpotensi terjadi sejak masuk peralihan musim hujan pada musim kemarau.
Kondisi demikian terjadi disebabkan sumber air bersih dan sumur warga telah mengalami penurunan debit air. Beberapa sumber air bersih juga telah kering. Sumber air yang tersedia belum cukup untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.
Mengaca pada tahun sebelumnya saat musim kemarau ada beberapa kecamatan yang patut diwaspadai mengalami krisis air bersih. Yakni Kecamatan Tegalsiwalan, Banyuanyar, Tiris, Leces, dan Tongas.
Wilayah yang mengalami krisis air bersih disebabkan oleh 2 hal. Mulai dari sumber air dan sumur mulai mengering. Juga karena penyaluran pipanisasi air bersih masih belum lancar karena pipa yang rusak. Kondisi demikian membuat persediaan air bersih tidak sebanding dengan jumlah pengguna air bersih.
“Pada prinsipnya kami berupaya memberikan yang terbaik bagi masyarakat. Termasuk pemenuhan air bersih. Karena air bersih merupakan kebutuhan utama masyarakat,” bebernya.
Kemarau juga menjadi sinyal bagi pemadam kebakaran (damkar) untuk meningkatkan kewaspadaan. Saat curah hujan berkurang dan lingkungan mulai berangin, maka kebakaran mengancam. Tiga wilayah kini menjadi dipantau.
Kepala Bidang Pengendalian Bahaya Kebakaran dan non-kebakaran Satpol PP Andrea Persaulian mengatakan, kebakaran lahan dekat pemukiman berpotensi terjadi. Hal ini dipicu lantaran curah hujan berkurang.
Begitu juga lahan atau tempat terbuka yang didominasi rumput maupun ilalang dapat dengan mudah kering, maka potensi kebakaran mudah terjadi.
Kondisi demikian diperparah dengan angin kencang sehingga patut untuk diwaspadai. “Menurunnya intensitas hujan tentunya akan berdampak pada lingkungan. Dengan demikian potensi kebakaran juga bisa meningkat,” katanya.
Insiden kebakaran lahan berpotensi terjadi di semua tempat. Hal ini dapat terjadi jika ada sumber api yang sengaja dinyalakan oleh seseorang untuk membakar sampah kemudian ditinggal begitu saja tanpa diawasi. Serta dapat juga terjadi karena ketidaksengajaan membuang puntung rokok yang menyala.
Bisa menjadi fatal apabila angin berhembus dengan kencang sehingga api mudah merembet.
Berdasarkan data tahun 2025 Damkar Kabupaten Probolinggo mewaspadai 3 wilayah rawan kebakaran lahan. Wilayah tersebut diantaranya Kecamatan Gending, Dringu, dan Tegalsiwalan.
Wilayah ini diwaspadai karena menjadi wilayah hembusan angin gending yang dikenal cukup kencang. Setiap tahunnya selalu ada laporan lahan terbakar di wilayah tersebut. Sampai dengan saat ini wilayah tersebut masih terus diwaspadai.
“Dalam hal kewaspadaan pada wilayah potensi kebakaran lahan. Kami masih mengacu pada insiden yang pernah terjadi tahun sebelumnya. Potensi serupa dapat terjadi saat ini sehingga perlu diwaspadai,” tuturnya. (ar/fun)
Editor : Moch Vikry Romadhoni