Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Klaim Perputaran Ekonomi di Kabupaten Probolinggo Tembus Rp 25 Miliar saat Idul Adha

Agus Faiz Musleh • Senin, 1 Juni 2026 | 19:07 WIB
KORBAN: Suasana penyembelihan hewan di daerah Sidomukti, Kraksaan. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)
KORBAN: Suasana penyembelihan hewan di daerah Sidomukti, Kraksaan. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)

 

KRAKSAAN, Radar Bromo -Momentum Idul Adha tidak hanya menghadirkan semangat berbagi melalui ibadah kurban. Di Kabupaten Probolinggo, perayaan ini juga menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat. Pemkab mengklaim nilai transaksi saat Idul Adha mencapai puluhan miliar rupiah.

Ini berdasarkan data Dinas Pertanian (Diperta). Hingga berakhirnya hari tasyrik menunjukkan ada ribuan ekor ternak kurban dipotong di ratusan titik pemotongan yang tersebar di berbagai kecamatan.

Ribuan ternak tersebut terdiri atas sapi, domba dan kambing yang menjadi pilihan masyarakat untuk melaksanakan kurban tahun ini.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan dan Kesmavet) Diperta drh. Nikolas Nuryulianto mengatakan, tingginya jumlah ternak yang dipotong mencerminkan antusiasme masyarakat dalam berkurban. Ini sekaligus menunjukkan besarnya aktivitas ekonomi yang tercipta selama perayaan Idul Adha.

“Berdasarkan hasil pendataan sampai hari tasyrik terakhir, jumlah ternak yang dipotong di Kabupaten Probolinggo mencapai 3.899 ekor dengan total 184 titik pemotongan. Data ini terdiri dari sapi, domba dan kambing yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Probolinggo,” katanya.

Dari jumlah tersebut, ternak sapi tercatat sebanyak 689 ekor yang terdiri atas 603 ekor sapi jantan dan 86 ekor sapi betina.

Sementara jumlah domba mendominasi dengan 2.499 ekor, terdiri atas 2.471 ekor jantan dan 28 ekor betina. Adapun kambing yang dipotong mencapai 711 ekor dengan rincian 703 ekor jantan dan delapan ekor betina.

Besarnya jumlah ternak yang terserap selama Idul Adha berdampak langsung pada perputaran uang di sektor peternakan. Berdasarkan perhitungan Diperta, nilai ekonomi yang beredar selama musim kurban tahun ini diperkirakan menembus angka Rp 25,3 miliar.

“Kalau kami perkirakan berdasarkan harga rata-rata ternak yang beredar di lapangan, maka perputaran ekonomi selama Idul Adha di Kabupaten Probolinggo mencapai sekitar Rp 25.347.500.000. Ini menunjukkan bahwa momentum kurban tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Niko menerangkan, sektor sapi menjadi penyumbang terbesar dalam transaksi kurban tahun ini. Dengan asumsi harga rata-rata sapi jantan Rp 25 juta per ekor dan sapi betina Rp 22 juta per ekor, nilai transaksi dari komoditas tersebut diperkirakan mendekati Rp 17 miliar.

Sedangkan domba yang jumlahnya mencapai 2.499 ekor dihitung menggunakan harga rata-rata Rp 2,5 juta per ekor.

Dari angka tersebut, transaksi domba diperkirakan mencapai lebih dari Rp 6,2 miliar. Sementara kambing sebanyak 711 ekor dengan harga rata-rata Rp 3 juta per ekor menghasilkan nilai ekonomi lebih dari Rp 2,1 miliar.

“Angka ini masih berupa estimasi konservatif karena kami menggunakan harga rata-rata yang relatif rendah dibandingkan harga jual riil di lapangan. Jadi nilai ekonomi yang sebenarnya bisa lebih besar,” terangnya.

Selain memantau jumlah ternak kurban, Diperta juga melakukan pengawasan kesehatan hewan di berbagai lokasi pemotongan. Melalui sistem pelaporan yang diterapkan tahun ini, proses pendataan dinilai lebih cepat dan mampu menjangkau lebih banyak titik pemotongan.

“Kami berharap ke depan semakin banyak titik pemotongan yang dapat terdata sehingga informasi terkait jumlah ternak kurban dan kondisi kesehatannya bisa semakin lengkap,” tambahnya.

Dari hasil pemeriksaan kesehatan hewan, petugas menemukan empat kasus cacing hati pada ternak kurban yang tersebar di tiga kecamatan berbeda. Meski jumlahnya relatif kecil dibanding total ternak yang dipotong, temuan tersebut tetap menjadi perhatian serius.

“Kami menemukan empat kasus cacing hati pada ternak kurban di tiga kecamatan yang berbeda. Jumlahnya memang kecil dibandingkan total ternak yang dipotong, tetapi tetap harus menjadi perhatian bersama,” tegasnya.

Menurut Niko, temuan tersebut menjadi alarm penting bagi seluruh pemangku kepentingan sektor peternakan untuk memperkuat program pengendalian parasit melalui pemberian obat cacing secara berkala kepada ternak.

“Harapan kami ke depan ada penguatan program cacingisasi atau pemberian obat cacing secara rutin kepada ternak. Pencegahan tentu lebih baik daripada pengobatan. Yang terlihat hanya empat kasus, tetapi yang tidak terlihat tentu perlu diantisipasi sejak dini,” urainya.

Ia menegaskan, kesehatan ternak memiliki hubungan langsung dengan kualitas dan keamanan pangan asal hewan yang dikonsumsi masyarakat. Karena itu, edukasi kepada peternak mengenai pentingnya menjaga kesehatan ternak akan terus diperkuat.

“Tujuan akhirnya adalah memastikan daging yang dikonsumsi masyarakat aman, sehat, utuh dan halal. Dengan ternak yang sehat, kualitas produk pangan asal hewan juga akan semakin terjamin,” ujarnya.

Lebih jauh, Niko menilai perayaan Idul Adha kembali membuktikan bahwa sektor peternakan merupakan salah satu penopang penting perekonomian daerah.

Aktivitas kurban tidak hanya menguntungkan peternak dan pedagang ternak, tetapi juga menggerakkan usaha pakan ternak, jasa transportasi, rumah potong hewan hingga berbagai sektor pendukung lainnya.

“Idul Adha ternyata benar-benar menggerakkan perekonomian masyarakat. Di tengah berbagai tantangan ekonomi yang ada, perputaran uang lebih dari Rp 25 miliar menunjukkan bahwa sektor peternakan tetap memiliki peran strategis bagi Kabupaten Probolinggo,” pungkasnya.

Besarnya nilai transaksi yang tercipta selama Idul Adha menjadi bukti bahwa ibadah kurban tidak hanya menghadirkan manfaat sosial dan spiritual, tetapi juga menjadi pengungkit ekonomi masyarakat.

Dari kandang peternak hingga meja konsumsi warga, roda perekonomian bergerak beriringan dengan semangat berbagi yang menjadi esensi Hari Raya Kurban. (mu/fun)

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#idul adha #perputaran uang #ekonomi