Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Angkat Kisah Lokal hingga Nusantara, Puluhan Pelajar di Kabupaten Probolinggo All Out Mendongeng

Jamaludin Uno • Kamis, 14 Mei 2026 | 09:47 WIB
ADU SKILL: Salah satu pelajar tampil dalam lomba mendongeng gelaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo, Rabu (13/5). (JAMALUDIN/JAWA POS RADAR BROMO)
ADU SKILL: Salah satu pelajar tampil dalam lomba mendongeng gelaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo, Rabu (13/5). (JAMALUDIN/JAWA POS RADAR BROMO)

KRAKSAAN, Radar Bromo - Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat Kabupaten Probolinggo, berlanjut. Rabu (13/5), puluhan pelajar mengikuti cabang lomba mendongeng.

Lomba gelaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikdaya) Kabupaten Probolinggo ini digelar di Auditorium Madakaripura Lantai V Kantor Bupati Probolinggo. Sejumlah 50 peserta tampil memukau. Terdiri atas 26 siswa SD dan 24 siswa SMP.

Sejak awal lomba, suasana panggung sudah terasa hidup. Satu per satu peserta tampil percaya diri. Membawakan cerita dengan gaya khas masing-masing.

Tak sekadar bertutur, para peserta juga memaksimalkan penampilan melalui kostum yang menarik. Diselaraskan dengan karakter dalam dongeng yang dibawakan.

Mereka juga memanfaatkan berbagai properti pendukung. Di antaranya, boneka, mahkota, gunungan hasil bumi, kendi, layang-layang, dan berbagai properti lainnya. Properti-properti itu mampu menghidupkan suasana dan membuat alur cerita terasa lebih nyata dan hidup.

Setiap peserta diberi waktu tujuh menit untuk mendongeng. Mereka dituntut mampu mengolah vokal, ekspresi, hingga penghayatan agar pesan cerita tersampaikan secara utuh. Tak sedikit peserta yang berhasil membuat penonton larut dalam cerita. Bahkan, menghadirkan momen haru maupun tawa sepanjang penampilan.

Cerita yang diangkat beragam. Tidak hanya cerita nusantara, kisah-kisah lokal yang sarat kearifan budaya mereka bawakan. Seperti Legenda Asal Usul Kabupaten Probolinggo, cerita rakyat dari berbagai desa di Kabupaten Probolinggo, hingga fabel atau cerita hewan. Semuanya dikemas secara kreatif dan komunikatif di atas panggung.

Salah satu juri, Rr. Herlina Wulansari mengatakan, secara umum para peserta telah menunjukkan penjiwaan yang sangat baik. Meski masih ada hal yang perlu menjadi perhatian, khususnya dalam penafsiran cerita.

“Mengarahkan anaknya (pelajar) harus tepat penafsiran, harus bisa dibedakan mana cerita sehari-hari dan mana dongeng,” katanya.

Ketua Dewan Juri Yuanita Widiastuti turut mengapresiasi terhadap penampilan para peserta. Menurutnya, banyak peserta yang memiliki potensi besar untuk berkembang lebih jauh di bidang mendongeng.

“Secara umum sudah bagus. Banyak yang sudah maksimal. Mulai dari vokal hingga penggunaan properti. Mereka punya potensi untuk berkembang lebih baik,” ungkapnya.

Dalam penilaian, dewan juri menggunakan sejumlah komponen utama. Yakni, kemampuan menghidupkan cerita menjadi peristiwa, ketepatan tafsir karakter, tafsir vokal, penghayatan, proporsi, serta tafsir ruang. (uno/rud)

Editor : Fahreza Nuraga
#lomba seni #sastra nasional #festival #probolinggo