DESA Jangkang Kecamatan Tiris mulai menunjukkan geliat sebagai salah satu sentra penghasil kopi berkualitas. Selain alpukat, kopi menjadi komoditas unggulan yang terus dikembangkan oleh masyarakat setempat.
Luas kebun kopi di Desa Jangkang mencapai sekitar 10 hektare yang tersebar di sembilan dusun. Jenis kopi yang dominan ditanam adalah liberika.
Di daerah setempat, kopi jenis ini dikenal sebagai kopi nangka. Karakternya yang khas menjadi daya tarik tersendiri dan berpotensi besar untuk dikembangkan lebih luas.
Musim panen kopi di Desa Jangkang berlangsung satu kali dalam setahun, yakni mulai bulan Mei hingga September.
Selama ini, hasil panen umumnya dijual dalam bentuk biji kopi mentah atau green bean kepada pengepul. Namun, sejak akhir 2025, mulai diolah hingga menjadi bubuk siap seduh.
Produk olahan tersebut diberi nama Kopi Jangkar (Jangkang Arabika). Kehadiran produk ini menjadi upaya inovatif untuk meningkatkan nilai jual kopi lokal sekaligus memperluas pasar.
“ Untuk saat ini kami jual berdasarkan pesanan. Karena juga menunggu izin P-IRT turun,” ujar Kepala Desa Jangkang, Sunarji, Spd.I.
Setelah izin edar pangan itu turun pihaknya akan lebih mengembangkan Kopi Jangkar, termasuk akan di jadikan unit usaha BUMDes Desa Jangkang. “Akan kami pasarkan lebih luas, termasuk di pusat oleh-oleh Kabupaten Probolinggo,” ujarnya.
Saat ini dalam prosesnya Kopi Jangkar masih bekerja sama dengan komunitas kopi di Kecamatan Krucil. Dengan menggunakan fasilitas roasting di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Tiris.
Meski masih dalam tahap pengembangan, Kopi Jangkar telah beberapa kali diperkenalkan dalam berbagai kegiatan.
Di antaranya dalam Hyang Argopuro Coffee Festival pada rangkaian Seven Lakes Festival 2025, di mana Kopi Jangkar berhasil meraih juara pertama.
Selain itu, produk ini juga tampil dalam perayaan 40 tahun Kappija 21 di Bromo. Yang terbaru Kopi Jangkar hadir dalam pameran Hari Jadi ke-280 Kabupaten Probolinggo di Alun-Alun Kraksaan.
“Kopi Jangkar kami ikutkan dalam berbagai festival agar lebih dikenal masyarakat luas,” katanya.
Sunarji mengatakan, sebagai salah satu penopang perekonomian warga, pihaknya bekerjasama dengan BPP Kecamatan Tiris sangat mendukung potensi kopi di desanya. “Kami dukung melalui melalui pelatihan, penggunaan pupuk organik, serta distribusi bibit kopi bekerja sama dengan BPP,” pungkasnya.
Rampungkan Balai Kemasyarakatan
Pemerintah Desa Jangkang, Kecamatan Tiris terus berupaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat melalui pembangunan infrastruktur desa. Salah satumya merealisasikan pembangunan Balai Kemasyarakatan di Kantor Desa Jangkang. Balai ini rampung pada September 2025 lalu.
Balai tersebut tidak hanya difungsikan sebagai pusat pelayanan administrasi masyarakat, tetapi juga menjadi ruang bersama untuk berbagai kegiatan desa.
Mulai dari musyawarah desa hingga kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya kini dapat dilaksanakan dengan lebih representatif.
“Balai Kemasyarakatan ini kami bangun untuk mendukung pelayanan kepada masyarakat. Kita bangun mulai April dan Alhamdulillah rampung pada September 2025 lalu,” ujar Kepala Desa Jangkang, Sunarji, S.Pd.I.
Ia mengatakan, untuk tahun 2026 ini, pembangunan infrastruktur di Desa Jangkang akan dilakukan dengan meningkatkan kualitas jalan. Yakni, dengan membangun jalan paving dengan menggunakan dana afirmasi dari Pemkab Probolinggo.
“Tahun ini kami akan menerima dana afirmasi sebesar Rp 100 juta. Anggaran ini
akan difokuskan pada pembangunan jalan paving. Jadi sesuai peruntukannya memang untuk pembangunan infrastruktur, khususnya jalan,” katanya.
Menurutnya, jalan yang akan dibangun itu berada di Dusun Paokecik. Selama ini, akses jalan di wilayah tersebut masih berupa jalan makadam.
Pembangunan jalan tersebut direncanakan mulai dilaksanakan pada November 2026 atau setelah dana afirmasi dicairkan.
“Jalan di Dusun Paokecik ini menjadi akses menuju area perkebunan warga serta akses ke sejumlah lembaga pendidikan, seperti SDN 3 Jangkang, SMA Islam, MTs, dan MA Barokatul Hasan,” katanya.
Selain pembangunan jalan, Pemdes Jangkang juga merencanakan pembangunan tembok penahan tanah (TPT) di antara jalan tersebut. Anggaran pembangunan TPT akan diambilkan dari sisa Dana Desa ini. Sebab, dana desa tahun ini jumlahnya tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Dengan adanya pembangunan jalan paving dan TPT ini, diharapkan akses masyarakat semakin lancar. Tidak hanya mendukung mobilitas warga, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi desa serta mempermudah akses pendidikan,” pungkasnya. (uno/fun/*)
RENCANA PEMBANGUNAN TAHUN 2026
· Pembangunan Jalan Paving]
· Pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT)
Editor : Moch Vikry Romadhoni