KRAKSAAN, Radar Bromo - Pasca ambrolnya tebing Sungai Kertosono di area Pesantren Syekh Abdul Qadir Al-Jailani (SAQA), Kraksaan, pada Kamis (16/4) lalu, kegiatan normalisasi sungai dipastikan tetap berjalan.
Hanya saja pelaksanaannya akan diarahkan ke bagian hulu agar tidak mengganggu proses penanganan darurat tebing yang longsor.
Kasi Pemeliharaan dan Rehabilitasi UPT PSDA Welang Pekalen, Windari Wahyu Ningsih, mengatakan, penanganan sementara pada tebing sungai yang ambrol akan dilakukan dengan pemasangan bronjong. Sementara itu, normalisasi sungai tetap dilakukan menggunakan alat berat berupa ekskavator amfibi.
“Penanganan dilakukan dengan bronjong. Bersamaan dengan normalisasi menggunakan ekskavator amfibi. Jadi kami nanti akan meminta kepada Bidang PU Provinsi agar bisa dilakukan di hulu, ke selatan, agar tidak mempengaruhi proses penanganan,” ujarnya.
Menurut Windari, proses normalisasi sendiri direncanakan di lokasi dengan panjang pengerjaan sekitar 300 meter.
Langkah pengalihan ke hulu dinilai penting agar aktivitas alat berat tidak berdampak pada proses penguatan tebing yang sedang dilakukan.
“Tentu jika alat berat ini nanti beraktivitas dekat dengan penanganan tebing yang menggunakan bronjong, maka akan mempengaruhi penanganan,” tambahnya.
Dengan langkah tersebut, diharapkan penanganan tebing ambrol dapat berjalan maksimal, sementara upaya normalisasi sungai tetap terlaksana guna mengantisipasi risiko banjir maupun kerusakan lanjutan di kawasan Sungai Kertosono.
Sebelumnya diberitakan, puluhan kamar mandi ambruk di Pondok Pesantren (Ponpes) Syekh Abdul Qodir Al Jaelani (SAQO), Rangkang, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Menyusul tebing Sungai Kertosono yang longsor, Kamis (16/4) pukul 07.30.
Bangunan sepanjang sekitar 35 meter itu roboh hingga materialnya jatuh ke aliran Sungai Kertosono. Meski demikian, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. (mu/fun)
Editor : Abdul Wahid