KRAKSAAN, Radar Bromo - Beragam versi sejarah yang selama ini berkembang di Kabupaten Probolinggo mulai ditata ulang.
Upaya itu diawali dengan diskusi yang melibatkan sejumlah pihak. Langkah ini menjadi titik awal penyusunan naskah sejarah yang lebih utuh.
Selama ini, cerita tentang asal-usul Probolinggo kerap berbeda-beda, tergantung sumber yang digunakan. Kepala Bidang Kebudayaan Disdikdaya, Akhmad Arief Hermawan mengatakan, penyusunan tersebut diarahkan untuk merangkum berbagai versi yang ada menjadi satu rujukan.
“Selama ini ada banyak versi sejarah yang berkembang. Harapannya nanti ada satu naskah yang bisa menjadi pegangan bersama,” ujarnya.
Menurutnya, pembahasan tidak hanya berhenti pada asal-usul daerah. Sejumlah situs bersejarah juga akan dikaji keterkaitannya untuk memperkuat alur sejarah yang lebih menyeluruh.
Beberapa di antaranya seperti Candi Jabung, Candi Kedaton, kawasan Air Terjun Madakaripura hingga situs Rengganis.
“Tidak hanya soal asal-usul, tapi juga bagaimana keterkaitan antar situs itu bisa dirangkai menjadi satu cerita yang utuh,” jelasnya.
Penyusunan naskah turut melibatkan Forum Umat Islam Bersatu (FUIB). FUIB dilibatkan sejak awal karena dinilai menyimpan sejumlah catatan penting yang belum banyak diungkap.
Naskah-naskah tersebut nantinya akan diteliti dan disandingkan dengan sumber lain.
“Di FUIB ada beberapa catatan sejarah yang masih tersimpan. Itu akan kami kembangkan dan telusuri lagi agar saling terhubung,” tambahnya.
Hasil akhirnya ditargetkan menjadi dokumen sejarah resmi yang lebih lengkap dan bisa dijadikan rujukan bersama.
Selain itu, penulisan sejarah masyarakat Tengger juga akan dilakukan secara terpisah. Kajian ini melibatkan tokoh adat serta kalangan akademisi agar hasilnya lebih mendalam.
“Untuk sejarah Tengger akan ditangani tim lain, dengan melibatkan romo dukun dan peneliti supaya lebih komprehensif,” pungkasnya. (mu/fun)
Editor : Moch Vikry Romadhoni