DRINGU, Radar Bromo - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo berupaya melakukan mitigasi bencana sedini mungkin. Pemetaan wilayah rawan atau zona merah kebencanaan dilakukan secara berkala. Hingga awal Maret, ada 11 wilayah dinyatakan zona merah.
Peta kerawanan tersebut dilakukan mengacu pada jumlah insiden bencana yang telah terjadi. Insiden bencana ini menjadi perhatian serius lalu ditindaklanjuti dengan mitigasi bencana.
Dengan demikian potensi bencana susulan dapat diminimalisir serta tidak sampai menimbulkan banyak kerugian materiil bahkan sampai jatuh korban jiwa.
“Pemetaan dilakukan secara berkala. Agar dapat meminimalisir terjadinya dampak bencana yang luas. Sekaligus percepatan penanganan bencana yang dapat dilakukan,” kata Kepala Pelaksana BPBD Oemar Sjarief.
Terhitung sejak Januari sampai dengan awal Maret tahun ini tercatat 11 Kecamatan masuk zona merah sebab telah terjadi bencana 7 insiden atau lebih.
Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Kraksaan 20 insiden bencana, Krejengan 18 insiden bencana, Pakuniran 16 insiden bencana, Tongas 13 insiden bencana, Sumberasih 12 insiden bencana, dan Gading 11 insiden bencana.
Lalu Kecamatan Maron 8 insiden bencana, serta Kecamatan Paiton, Besuk, Krucil dan Leces masing-masing 7 insiden bencana. Mayoritas bencana yang terjadi adalah cuaca ekstrim dan angin kencang, longsor, banjir atau genangan.
Jika dibandingkan dengan awal tahun 2026 lalu. Jumlah wilayah berzona merah semakin meluas.
Sebelumnya terpetakan 9 wilayah zona merah kebencanaan. Diantaranya Kecamatan Sukapura 18 kejadian bencana, Tiris 16 kejadian, Krucil 13 kejadian, Gading dan Sumberasih masing-masing 10 kejadian, Lumbang 9 kejadian, sementara Kecamatan Sumber, Krejengan dan Dringu masing-masing 7 kejadian.
“Wilayah rawan bencana memang tidak selalu ada pada wilayah yang telah terpetakan. Wilayah lain juga berpotensi mengalami hal yang sama. Itulah pentingnya meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana,” bebernya.
Oemar menambahkan potensi bencana yang terjadi berbeda-beda tergantung dengan letak dan kondisi geografis. Namun demikian pada prinsipnya semua wilayah berpotensi terjadi bencana.
Hanya saja wilayah yang sering terjadi bencana lebih menjadi atensi. Sebab berkaitan dengan penanganan dan koordinasi lanjutan yang perlu dilakukan.
“Semua wilayah kami pantau, sementara yang zona merah ini kami tingkatkan koordinasinya. Baik dengan Pemerintah Kecamatan maupun Desa,” jelasnya. (ar/fun)
Editor : Abdul Wahid