Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Normalisasi Sungai Tetap Prioritas Pascabencana di Kabupaten Probolinggo

Agus Faiz Musleh • Jumat, 13 Maret 2026 | 08:51 WIB

 

DIKERUK: Alat berat milik Pemprov Jatim di Desa Opo-opo, Kecamatan Krejengan beberapa waktu lalu.
DIKERUK: Alat berat milik Pemprov Jatim di Desa Opo-opo, Kecamatan Krejengan beberapa waktu lalu.

KRAKSAAN, Radar Bromo- Bencana hidrometeorologi yang terjadi sejak akhir 2025 hingga awal 2026 menimbulkan kerusakan infrastruktur di Kabupaten Probolinggo.

Begitu juga sejumlah sungai, banyak tebing maupun bangunan pengendali air yang rusak. Upaya penanganan kini difokuskan pada normalisasi sungai untuk memulihkan fungsi aliran air sekaligus mengurangi potensi banjir dan longsor di masa mendatang.

Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Jawa Timur wilayah Probolinggo tengah melakukan asesmen di sejumlah titik terdampak.

Pendataan ini menjadi dasar penentuan langkah penanganan, terutama untuk pekerjaan normalisasi dan penguatan tebing sungai.

"Normalisasi sebelumnya juga telah dilakukan di wilayah kecamatan Krejengan. Tepatnya di desa opo-opo,"kata Koordinator Wilayah Probolinggo UPT PSDA Jatim Muhammad Fachru Syahroni

Kerusakan yang terjadi tidak hanya pada tebing sungai, tetapi juga pada sejumlah bangunan air seperti bendung, parapet hingga saluran irigasi. “Kerusakan cukup tersebar di beberapa kecamatan.

Saat ini kami fokus melakukan asesmen untuk menentukan kebutuhan penanganan, termasuk normalisasi sungai di beberapa titik yang mengalami sedimentasi dan perubahan alur,” kata Fachru.

Menurutnya, normalisasi sungai menjadi langkah penting setelah bencana karena banyak alur sungai yang mengalami pendangkalan akibat material yang terbawa arus banjir.

“Normalisasi diperlukan agar kapasitas sungai kembali optimal. Jika sedimentasi dibiarkan, aliran air bisa meluap dan meningkatkan risiko banjir saat hujan deras,” ujarnya.

Salah satu lokasi yang direncanakan untuk normalisasi berada di Sungai Bayeman, Desa Bayeman, Kecamatan Tongas. Sungai tersebut mengalami perubahan alur dan penumpukan material setelah banjir yang terjadi beberapa waktu lalu.

Selain itu, sejumlah sungai lain juga mengalami kerusakan tebing akibat derasnya arus air, terutama di wilayah yang dilintasi Sungai Kertosono.

“Normalisasi sungai menjadi bagian penting dalam penanganan pascabencana. Tujuannya agar kapasitas sungai tetap terjaga dan risiko banjir di musim hujan berikutnya bisa diminimalkan,” pungkasnya. (mu/fun)

Editor : Abdul Wahid
#normalisasi #bencana #pemprov jatim