KRAKSAAN, Radar Bromo - Kerusakan tebing sungai di Kabupaten Probolinggo terus bertambah pasca rangkaian bencana hidrometeorologi yang terjadi sejak akhir 2025 hingga awal 2026.
Hujan dengan intensitas tinggi dan debit sungai yang meningkat membuat sejumlah tebing sungai mengalami longsor, ambles, hingga kerusakan pada bangunan pengendali air.
Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Jawa Timur wilayah Probolinggo hingga kini masih terus melakukan asesmen di berbagai titik terdampak. Pendataan dilakukan untuk memastikan tingkat kerusakan sekaligus menentukan langkah penanganan yang diperlukan.
Koordinator Wilayah Probolinggo UPT PSDA Jatim, Muhammad Fachru Syahroni, mengatakan bahwa kerusakan paling banyak terjadi pada tebing sungai yang terdampak derasnya arus saat banjir.
“Sejak akhir 2025 sampai awal 2026, kami mencatat sejumlah titik tebing sungai mengalami kerusakan. Tim UPT PSDA Jatim terus melakukan asesmen lapangan untuk memetakan kondisi serta menentukan penanganan yang tepat,” ujar Fachru.
Menurutnya, kerusakan tersebar di beberapa kecamatan di Kabupaten Probolinggo, terutama di wilayah yang dilintasi sungai besar seperti Sungai Kertosono, Pekalen, hingga sungai-sungai kecil yang bermuara ke pesisir.
Di Kecamatan Kraksaan misalnya, kerusakan tebing Sungai Kertosono ditemukan di beberapa titik di Kelurahan Sidomukti. Antara lain di bagian utara Kantor NU (ruko), selatan Jembatan BNI, hingga di kawasan utara rumah warga yang dikenal dengan sebutan Pak Sabar.
Selain itu, kerusakan juga terjadi pada tebing kanan Sungai Kertosono di Desa Patokan RT 6 RW 6 yang membutuhkan perkuatan.
Di titik lain, tebing sungai di Desa Rangkang dan Kelurahan Kraksaan Wetan, tepatnya di kawasan Kampung Melayu, juga dilaporkan mengalami kerusakan.
“Di Sidomukti sendiri ada beberapa titik yang terdampak, termasuk di belakang Indomaret Sidomukti dan area yang dikenal masyarakat sebagai tempat cuci sepeda. Semua sudah kami catat dan sedang dalam proses penilaian teknis,” kata Fachru.
Tidak hanya di wilayah Kraksaan. Kerusakan juga tercatat di sejumlah kecamatan lain. Di Desa Kotaanyar misalnya, sayap Bendung Triwungan di Sungai Kresek mengalami kerusakan. Sementara di Desa Sumber Centeng ditemukan kerusakan pada syphon saluran Gending Jeruk Taman.
Kerusakan juga terjadi pada pasangan tebing Sungai Pesisir di Desa Wringinanom. Di Kecamatan Maron, tebing kanan Sungai Pekalen di Desa Satreyan membutuhkan perkuatan karena tergerus aliran air.
Sementara itu di Kecamatan Tongas, normalisasi Sungai Bayeman di Desa Bayeman juga menjadi salah satu titik yang masuk dalam pendataan akibat perubahan alur dan sedimentasi. Di Kecamatan Krejengan, sayap kanan hilir DAM Gendingan di Desa Kamalkuning juga dilaporkan mengalami kerusakan.
“Selain tebing sungai, ada juga beberapa bangunan air yang terdampak seperti sayap bendung dan parapet sungai. Semua itu kami inventarisasi untuk menjadi dasar penanganan lebih lanjut,” jelas Fachru.
Kerusakan lain juga ditemukan pada tebing kiri Sungai Jabung di hulu DAM Wringin serta parapet kanan Sungai Leces di Desa Sumberbulu, Kecamatan Tegalsiwalan.
Menurut Fachru, asesmen dilakukan secara bertahap karena jumlah titik kerusakan cukup banyak dan tersebar di berbagai wilayah.
“Kami terus melakukan pendataan lapangan secara detail. Tujuannya agar penanganan bisa dilakukan sesuai prioritas, terutama di lokasi yang berpotensi mengancam permukiman warga atau infrastruktur penting,” tambahnya.
UPT PSDA Jatim wilayah Probolinggo juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta instansi terkait untuk menentukan langkah penanganan ke depan.
“Kami berharap penanganan bisa segera dilakukan, terutama di titik-titik yang kondisinya sudah cukup kritis. Yang jelas saat ini fokus kami adalah memastikan seluruh lokasi terdampak sudah terdata dengan baik,” pungkas Fachru. (mu/fun)
Editor : Abdul Wahid