Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jembatan Darurat Kalibiru Pakuniran Probolinggo Kembali Hanyut Terbawa Arus, 120 KK Terisolasi Lagi

Achmad Arianto • Minggu, 8 Maret 2026 | 19:44 WIB

HANYUT: Jembatan darurat Sungai Kalibiru, penghubung Desa Blimbing dengan Desa Kalidandan di Kecamatan Pakunira, kembali hanyut tersapu banjir.
HANYUT: Jembatan darurat Sungai Kalibiru, penghubung Desa Blimbing dengan Desa Kalidandan di Kecamatan Pakunira, kembali hanyut tersapu banjir.

PAKUNIRAN, Radar Bromo– Banjir kembali menghanyutkan jembatan darurat di Sungai Kalibiru, Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo.

Jembatan yang menghubungkan Desa Blimbing dan Desa Kalidandan di Pakuniran itu hanyut untuk kali kedua Sabtu (7/3) malam.

Akibatnya, sekitar 120 kepala keluarga (KK) di wilayah tersebut kembali terisolasi. Sebab, akses utama penghubung dua desa terputus.

Peristiwa itu dipicu hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Pakuniran sejak pukul 15.30, Sabtu (7/3).

Intensitas hujan yang awalnya ringan meningkat menjadi lebat hingga pukul 18.00.

Debit air sungai pun meningkat drastis, hingga mencapai permukaan jembatan darurat.

Konstruksi jembatan yang terbuat dari bambu dan kayu itu pun tidak mampu menahan derasnya arus sungai. Hingga akhirnya tersapu banjir.

“Memang hujan kemarin cukup deras. Jembatan hanyut saat malam hari,” ujar Zain, 38, warga setempat, Minggu (8/3).

Jembatan darurat itu baru dibangun pada 25 Februari. Menggantikan jembatan darurat yang juga hanyut akibat banjir pada 20 Februari.

Jembatan sepanjang sekitar 15 meter itu menjadi satu-satunya akses penghubung antara Desa Blimbing dan Desa Kalidandan.

Selama ini, jembatan tersebut digunakan warga untuk berbagai aktivitas. Mulai dari kegiatan ekonomi, pertanian, hingga akses pendidikan.

“Karena ini satu-satunya akses jalan keluar desa, sekarang aktivitas warga sementara lumpuh,” katanya.

Saat ini, menurutnya, warga Desa Blimbing dan Desa Kalidandan di sekitar sungai membangun lagi jembatan darurat dari bambu dan kayu. Jembatan itu dibangun untuk ketiga kalinya, Minggu (8/3).

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief menjelaskan, pihaknya telah menerima laporan tentang putusnya jembatan darurat tersebut akibat banjir.

Menurutnya, cuaca ekstrem memang terjadi di sejumlah wilayah pada Sabtu sore.

Tidak hanya di Pakuniran, cuaca ekstrem menurutnya juga memicu sejumlah bencana di wilayah lain di Kabupaten Probolinggo.

Di Desa Tambakukir, ada delapan titik tembok penahan tanah (TPT) yang longsor. Selain itu, tiga pohon tumbang menimpa rumah warga. Lalu, satu atap rumah rusak akibat angin kencang.

Kemudian di Desa Sambirampak Lor, sebuah dam jebol. Selanjutnya, di Desa Talkandang, TPT darurat di hulu dam juga mengalami kerusakan. Tiga desa itu ada di Kecamatan Kotaanyar.

“Laporan sudah kami terima dan saat ini masih dilakukan asesmen di lapangan,” ujarnya.

Oemar menambahkan, pihaknya masih mengumpulkan data dari sejumlah wilayah lain yang juga terdampak cuaca ekstrem.

Hingga saat ini, belum ada laporan korban jiwa namun beberapa infrastruktur dan bangunan warga mengalami kerusakan.

Ia mengimbau masyarakat tetap waspada. Sebab, potensi bencana hidrometeorologi masih dapat terjadi seiring kondisi cuaca yang tidak menentu. (ar/hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#jembatan darurat #hanyut #banjir #terisolasi #probolinggo