Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Chaerus Zaman Senang setelah Azan, Jemaah Berbondong-bondong ke Masjid Siti Aminah Al Askar

Fahreza Nuraga • Jumat, 27 Februari 2026 | 09:45 WIB

PANGGILAN SALAT: Chaerus Zaman, mengumandangkan azan di Masjid Siti Aminah Al Askar di Desa Sukokerto.
PANGGILAN SALAT: Chaerus Zaman, mengumandangkan azan di Masjid Siti Aminah Al Askar di Desa Sukokerto.

SALAT merupakan tiang agama. Setiap muslim wajib melaksanakannya. Demi menaatinya, Chaerus Zaman, 59, memilih menjadi muazin di Masjid Siti Aminah Al Askar di Desa Sukokerto, Kecamatan Pajarakan. Alasannya, tidak ingin meninggalkan salat sekaligus mengingatkankan masyarakat bahwa telah masuk waktu salat.

Murah senyum, itulah yang tampak dari Chaerus Zaman. Setiap kali berpapasan dengan orang lain atau jemaah masjid, ia selalu tersenyum. Menampakkan keramahannya. Tak heran bila kemudian banyak dikenal jemaah.

Warga Desa Sukokerto, Kecamatan Pajarakan, ini mengaku terketuk menjadi muazin sejak masjid baru dibangun pada 2019. Kebetulan, saat itu belum ada warga yang selalu siap mengumandangkan azan. Ia pun tampil. Menyeru melalui pengeras suara. Memanggil saudaranya sesama muslim untuk segera salat.

Kebiasaan ini kemudian terus tertanam dalam hatinya. Hingga akhirnya dipercaya menjadi muazin masjid. “Saya jadi muazin sejak masjid dibangun dan baru difungsikan. Saat itu masjid masih sedikit jemaahnya,” katanya, mengawali cerita.

Baginya, menjadi seorang muazin merupakan pekerjaan mulia tetapi tidak semua orang mau melakukannya. Katanya, ada beberapa hal yang menjadi kewajibannya sebagai muazin. Setiap hendak masuk waktu salat, setidaknya 30 menit sebelum azan, Mas Yus–sapaan akrab Chaerus Zaman–harus standby di masjid. Bersih-bersih di sekitar tempat imam. Memastikan tempat imam salat nyaman, sehingga pelaksanaan salat menjadi khusyuk.

Tidak hanya itu, tugas lain yang dilakukannya adalah memastikan kondisi audio masjid nyaman didengar. Volume tidak terlalu nyaring, namun suara azan tetap terdengar dengan jelas. Dengan demikian, jemaah mendengar dan segera datang ke masjid.

“Mengumandangkan azan itu memang tugas utama. Tetapi saya juga memastikan kenyamanan tempat imam dan audio masjid. Audio ini tidak hanya untuk azan, tetapi saat salat jemaah dan tadarus,” katanya.

Bapak tiga putri ini mengatakan, menjadi muazin memiliki suka duka. Ia mengaku senang jika setelah azan berkumandang, jemaah berbondong-bondong datang untuk salat jemaah di masjid. Namun hal itu, tidak selalu terjadi.

Menurutnya, Masjid Siti Aminah Al Askar memiliki jemaah banyak saat salat subuh, duhur, asar, dan magrib. Dengan jemaah berasal dari warga lingkungan Perumahan Pajarakan Land dan pengguna jalur pantura yang mampir untuk rehat sekaligus salat. Sementara, saat salat isya, jemaah lebih sedikit, hanya didominasi oleh warga perumahan.

“Paling sedikit jemaah tiga saf atau sekitar 60 jemaah itu biasanya masuk salat isya. Waktu salat lainnya lebih dari itu,” ucapnya.

Mas Yus mengatakan, menjadi muazin juga tidak ada banyak waktu untuk keluarga. Sebab, sebagian besar waktunya dihabiskan di masjid. Begitu juga saat Idul Fitri dan Idul Adha, dirinya harus bergantian dengan rekan yang lain untuk membersihkan masjid. Bahkan, sering mengajak anak dan istri datang ke masjid.

Pria yang sebelumnya bekerja wiraswasta ini mengaku merasa lebih tenang setelah menjadi muazin. Selain mengumandangkan azan dan mengajak masyarakat untuk segera salat, juga tidak pernah meninggalkan waktu salat. Menjadi muazin akan terus digelutinya sampai akhir hayat.

“Di usia seperti saya, apalagi yang mau dicari kalau bukan meningkatkan kualitas ibadah. Tentunya kalau masih dipercaya, saya akan menjadi muazin seterusnya,” (achmad arianto/rud)

Editor : Fahreza Nuraga
#pajarakan #muazin #masjid