Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Tiga Ruko di Jalan Gus Dur Kraksaan Probolinggo Ambrol, Kini Menggantung di Tebing Sungai Kertosono

Agus Faiz Musleh • Rabu, 25 Februari 2026 | 10:34 WIB

AMBRUK: Sisi selatan ruko yang berada di tepi Sungai Kertosono. Kondisinya hanya memisahkan seperempat bangunan sisanya tergerus longsor.
AMBRUK: Sisi selatan ruko yang berada di tepi Sungai Kertosono. Kondisinya hanya memisahkan seperempat bangunan sisanya tergerus longsor.

KRAKSAAN, Radar Bromo - Deru Sungai Kertosono kini menjadi pemandangan yang mengiris hati warga Kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kraksaan.

Tiga ruko di Jalan Gus Dur yang sebelumnya berdiri kokoh, kini tinggal seperempat bangunan. Sisanya ambruk, tergerus longsor tebing sungai.

Di lokasi kejadian, kondisi bangunan memprihatinkan. Sisa tembok dan lantai ruko tampak menggantung di atas tebing sungai.

Retakan besar menganga. Struktur bangunan terlihat rapuh, seolah menunggu waktu untuk benar-benar roboh.

Tak hanya tiga ruko, satu rumah di sisi utara bangunan tersebut juga terdampak. Separuh bangunannya ambrol. Rumah itu kini kosong, ditinggalkan pemiliknya demi keselamatan.

Longsor pertama terjadi pada Kamis (22/1) lalu, saat cuaca ekstrem melanda wilayah Kraksaan.

Hujan deras dengan intensitas tinggi menggerus tebing Sungai Kertosono. Kondisi diperparah pada Sabtu (21/2), ketika longsor susulan kembali terjadi.

Sejumlah warga menduga, cuaca ekstrem menjadi pemicu utama longsor kedua. Namun yang paling mengkhawatirkan, posisi bangunan yang rusak sangat dekat dengan badan jalan.

“Meski miringnya ruko tersebut menjorok ke arah sungai, kita tetap khawatir saat melintas sebab dekat dengan jalan. Kami berharap pemerintah segera menangani hal tersebut sebelum ada hal yang tidak diinginkan terjadi,” ujar Ainul Jannah, salah satu warga Kraksaan.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Jalan Gus Dur merupakan akses vital yang setiap hari dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Jika sisa bangunan kembali ambrol, dampaknya bisa membahayakan pengguna jalan.

Koordinator Wilayah Probolinggo UPT PSDA Jatim, Muhammad Fachru Syahroni, mengaku telah mengetahui kejadian tersebut. Namun untuk penanganannya, pihaknya berada dalam posisi dilematis.

Menurutnya, bangunan ruko yang longsor itu melanggar aturan sempadan sungai. Bahkan tidak hanya sempadan sungai, tetapi juga melanggar aturan sempadan jalan.

“Kalau kami perbaiki, maka tebing-tebing lain yang longsor dan di sempadannya terbangun bangunan juga akan meminta untuk diperbaiki,” jelasnya.

Karena itu, untuk sementara penanganan belum dilakukan. “Oleh sebab itu penanganannya kita skip dulu, menunggu perkembangan lebih lanjut,” tegasnya.

Ia menambahkan, persoalan serupa juga terjadi di aliran Sungai Kedunggaleng, Kecamatan Dringu. Sejumlah tebing rusak, namun di atasnya banyak berdiri bangunan yang melanggar aturan sempadan sungai.

Kini, warga hanya bisa berharap ada solusi cepat sebelum musibah susulan benar-benar terjadi. Di tengah cuaca yang tak menentu, bayang-bayang longsor masih menghantui Jalan Gus Dur. (mu/fun)

Editor : Abdul Wahid
#sungai #plengsengan #probolinggo